
Kansha sedang berkerja di kantornya, namun sedari tadi dia tidak fokus sama sekali. Baru saja mengetik satu kata di laptopnya, dirinya langsung bangkit dan berjalan maju-mundur dengan tak jelas. Selalu seperti itu dan berulang. Dia tengah galau.
“Aku kenapa sih?” akhirnya Kansha tak tahan. Dia menghentikan pekerjaannya karena tahu sudah tidak akan fokus lagi.
“Ayo, hilangkan ingatan itu, Kansha. You can do it! Alan tidak mungkin merasakan hal yang sama sepertimu.” Ucap Kansha pada dirinya sendiri. Bayangan kejadian di rumah Alan terpatri dibenaknya dan sulit dilupakan.
“Tapi kenapa jantung Alan berdegup cepat? Degupannya bahkan jauh lebih kencang dibandingku. " gumamnya.
Kansha cepat-cepat menepuk-nepuk wajahnya, “Ah tidak-tidak. Jangan mengkhayal yang aneh-aneh Kansha. Terus berusaha agar fikiran sadarmu tetap menyala, jangan biarkan dia kalah oleh fantasimu sendiri.” Perkataan itu terus Kansha ulangi layaknya doa.
Drrt
Kansha menoleh pada mejanya ketika suara getar ponselnya menyala. Dia mengambil ponselnya dan rupanya ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Kansha membacanya dan seketika mengernyit. Dia sudah tahu siapa pengirimnya.
Datanglah ke rumah sakit, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.
***
Kansha sampai di lobi rumah sakit. Entah dia kerasukan apa, tapi yang jelas seharusnya dia tidak datang kesini tapi mengapa kakinya tidak mau menurut. Tapi entah kenapa, perasaannya tidak enak.
Tak punya pilihan lain karena sudah kepalang basah berada disini, Kansha lalu menuju resepsionis, dia menanyakan kamar berapa si pengirim pesan itu. Setelah itu dia menuju kamar yang sudah disebutkan oleh perawat. Dan begitu sampai, Kansha mengetuk pintu dan masuk kedalam.
“Kufikir, mbak tidak akan datang.” Sambutnya.
“Memang seharusnya begitu. Tapi setelah kufikir-fikir, aku juga tidak punya alasan untuk menolak, benar kan Aisyah?”
Aisyah mengangguk. “Kalau begitu langsung ke intinya saja.”
“Silakan.”
“Jauhi Mas Alan.” tegas Aisyah.
Kansha mengernytikan dahinya begitu perkataan Aiyah yang tiba-tiba.
“Kamu masih menuduhku ingin merebut Alan darimu?” tanya Kansha.
__ADS_1
“Bukankah itu sudah jelas?”
Kansha tersenyum kecil, “Aku tidak pernah memiliki niatan merebut Alan.” katanya tenang.
Aisyah tersenyum sinis, dia mendecih begitu mendengar perkataan Kansha yang menurutnya penuh kepalsuan itu. “Mbak itu benar-benar penuh kepalsuan. Buktinya sudah ada tapi masih saja berkelit.”
“Apa maksudmu?” tanya Kansha.
Aisyah tak menjawab, dia malah membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang diberi Aura tempo lalu dan kemudian menyerahkannya pada Kansha.
“Apa ini?” tanya Kansha bingung.
“Buka saja.”
Kansha pun membuka amplop coklat itu. Beberapa foto membuat matanya menyipit. Itu adalah foto Alan dan dirinya ketika berada di danau dahulu.
“Ini..” Kansha tak melanjutkan perkataannya.
“Aku menahan diri untuk tidak langsung melabrak mbak dan mas Alan. Tapi aku sungguh muak sekarang. Mbak sudah terlalu melanggar batas. Jadi jauhi mas Alan selagi aku minta baik-baik.” Tegas Aisyah.
“Aisyah kamu salah paham. Kami tidak melakukan hal yang seperti di foto itu.” jelas Kansha. Dia harus meluruskan kesalahpahaman ini atau kalau tidak, ini akan menjadi sangat rumit nantinya.
“Jadi maksud mbak, foto yang seperti asli ini adalah editan?” tanya Aisyah dengan wajah mengeras.
“Bukan begitu.” Kansha menggeleng. “Aku mengakui kalau foto itu diambil ketika kami sedang makan siang bersama. Saat itu Alan membantu kasusku dan aku mentraktirnya sebagai balas budi. Dan adegan itu, “Kansha menatap foto dirinya dengan Alan yang seperti ciuman itu. “Sumpah kami tidak berciuman. Ada laba-laba yang jatuh di pundakku dan Alan membantu mengambilnya karena aku takut laba-laba.” lanjutnya jujur.
Kansha memang sempat berfantasi, dia akan mengutarakan perasaannya pada cowok itu dan menciumnya sebagai perpisahan mereka. Tapi Kansha tak punya keberanian sebesar itu untuk merealisasikannya.
“Mbak, benar-benar penipu ulung. Dan seperti pekerjaan mbak, kemampuan mengarang mbak benar-benar luar biasa. Seharusnya mbak jadi aktris kalau punya kemampuan akting sebagus itu.” decih Aisyah.
“Kamu sungguh tidak percaya? Angle yang diambil itu salah makanya kami seakan-akan sedang berciuman.”
“Aku sudah tak ingin percaya apapun lagi. Yang jelas, jauhi mas Alan atau foto ini akan kuperlihatkan pada bunda mas Alan. Dan Mas Alan yang akan terkena dampaknya.” Ancam Aisyah.
Kansha terkekeh tak percaya. Siapa orang sialan yang sudah mengawasi mereka dan memfitnahnya? Kansha bersumpah bila dia berhasil menemukan pelakunya, akan dia cincang-cincang hingga jadi bubur.
__ADS_1
“Jangan libatkan Alan dalam masalah ini.” ucap Kansha.
“Kenapa mbak peduli? Jadi benar kalau mbak ada main dengan mas Alan.”
“Aisyah, aku dan Alan tidak memiliki hubungan apapun.” Sanggah Kansha kembali. “Harus berapa kali kukatakan.” Lanjutnya frustasi.
Aisyah tiba-tiba berdiri. Suasananya menjadi semakin panas. Dia lalu mendorong bahu Kansha menuju kaca jendela yang terbuka lebar. Kansha hampir jatuh namun ditahan oleh Aisyah.
"Aisyah! Apa yang kamu lakukan?!" seru Kansha ketakutan.
"Aku bukan lagi Aisyah yang dulu. Akan kulakukan semua cara agar Mas Alan tetap dalam genggamanku. Dan akan kusingkirkan semua hama yang mencoba menganggu hubunganku tak terkecuali mbak." desis Aisyah tajam. Tatapannya begitu menusuk dan menghujam Kansha hingga Kansha tak percaya bahwa perempuan dihadapannya ini adalah Aisyah.
"Aisyah sadar! Kamu benar-benar sudah diluar kendali." tukas Kansha.
"Mbak yang harusnya sadar!" Aisyah makin mendorong bahu Kansha. Kansha berusaha menahan tubuhnya dan keseimbangannya. Pasalnya tidak ada balkon disini dan terlebih ini adalah lantai lima. Kansha bisa meregang nyawa seketika bila jatuh dari ketinggian lima lantai ini.
"Aku tidak bisa menyalurkan kemarahanku pada Mas Alan. Aku amat mencintainya hingga aku mungkin akan nyaris gila bila dia pergi meninggalkanku. Dan Mbak! Mbak adalah orang terlancang yang ingin sekali kusingkirkan!"
"Aisyah." ucap Kansha lirih.
Tap
Aisyah dan Kansha melirik ke arah pintu ketika mendengar suara langkah kaki yang tengah menuju ruangan ini.
Kansha lengah, dia tiba-tiba ditarik Aisyah dan memposisikan dirinya berada di posisi Aisyah. Aisyah membalik posisi mereka berdua. Seakan-akan Kansha yang sedang mendorong Aisyah.
Kansha terkejut dengan tindakan tiba-tiba Aisyah dan belum sadar dari keterkejutannya, Aisyah tiba-tiba menjerit.
"Tolong!"
Tiba-tiba pintu terbuka keras. Kansha dan Aisyah melirik pintu. Mata orang itu terbelalak ketika melihat adegan hasil manipulasi Aisyah itu.
"Aisyah! Kansha!" teriak orang itu. Dia Alan yang nampak terkejut ketika melihat Kansha hendak mendorong jatuh Aisyah.
Kansha membulatkan matanya dan menatap Alan yang kini berjalan kearahnya.
__ADS_1
Dan kini Kansha menyadari, seharusnya dia tidak datang kesini.