
"Kamu gak apa-apa?" tanya Nana begitu masuk ke dalam kamar inap Kansha setelah sesi konseling selesai.
kansha mengangguk, "Rasanya awalnya gak nyaman tapi wajar kan, aku harus bisa mengatasinya agar sembuh." kata Kansha dengan nada positif.
Nana menghembuskan nafas lega, "Kamu gak seperti orang yang kemarin mengakhiri hidup, aku suka."
Kansha tersenyum tipis, dia sama sekali tak merasa tersinggung pada perkataan Nana, "Aku bertaubat." imbuh Kansha dengan sedikit tertawa.
"Kak Ruben, kenapa berdiri saja?" tegur Kansha pada Ruben.
"Gak apa-apa. Lagian sebentar lagi kakak harus pulang setelah Bu Sari datang." jawab Ruben.
"Ah begitu." ujar Kansha mengangguk mengerti. Dia lalu terfikirkan satu pertanyaan. Dia menoleh kembali pada Nana.
"Oh ya, Na." panggil Kansha.
"Apa?" tanya Nana.
"Bagaimana keadaan ARC? Mereka tidak pailit bukan?"
Nana terdiam berfikir, dia lupa menceritakan itu pada Kansha. "Sebenarnya, ARC sudah bangkrut. Bos kamu diberitakan terlilit hutang dan tak bisa membayar hingga Williams Company mengakuisisinya." cerita Nana.
"Williams Company? Perusahaan orang tuaku?" seru Kansha terkejut.
Nana mengangguk, "Iya, kurasa sekitar satu minggu setelah tragedi itu, ARC bangkrut dan orangtuamu membeli ARC. Untuk alasannya aku tidak tahu, tapi semenjak itu, ARC jauh lebih sukses. Benar kan kak?" tanya Nana pada Ruben.
"Benar. Perusahaan yang tadinya defisit, kini malah memiliki presentase pendapatan bersih diatas dua digit hanya dalam tiga minggu ini. Harus diakui, orang tuamu memiliki kemampuan luar biasa." timpal Ruben.
"Apa alasan mereka mengakuisisi ARC?" gumam Kansha. "Lalu pak Benny bagaimana? Dia masih disana?"
"Dia sudah tak punya saham atau kendali apapun dan ARC juga sudah punya pimpinan yang baru." kata Ruben.
"Siapa?" tanya Kansha penasaran.
Ruben menatap Kansha begitupun Nana. Kansha terkejut begitu menyadari arti tatapan mereka.
"Maksudnya aku?" tanya Kansha menunjuk dirinya sendiri. Ruben dan Nana mengangguk.
__ADS_1
"Pengumumannya akan dilaksanakan begitu kamu keluar dari Rumah Sakit. Om Andrian meminta bantuanku untuk menulis surat kuasa hukum." jawab Ruben.
"Selamat ya, direktur Kansha." ucap Nana tersenyum.
Kansha masih terdiam syok. "Aku--" dia kehilangan kata-kata.
"Kurasa aku tahu apa yang kamu fikirkan. Di satu sisi, ARC sudah seperti hidupmu dan kamu pasti akan melakukan segala cara untuk tetap mempertahankan ARC dan keinginanmu terwujud. ARC akhirnya masih berdiri tegak. Kamu merasa bahagia. Tapi di satu sisi, kamu mendapatkan ARC ketika hubunganmu dan orang tuamu diambang ketidakjelasan. Tapi kurasa ketika orang tuamu memutuskan mengakuisisi ARC itu karena orang tuamu tak ingin salah satu bagian hidupmu hilang. Dan ketika kamu kembali, ARC dikembalikan padamu sebagai pengganti bagian hidupmu yang pernah hilang." papar Nana panjang lebar.
Kansha menatap baju pasiennya, dia juga merasa bingung dan terkejut.
"Kurasa kamu harus membicarakan ini dengan kedua orang tuamu. Maksudku, sudah waktunya kalian berbaikan dan kembali menjadi sebuah keluarga." imbuh Ruben.
"Aku tidak yakin." tukas Kansha ragu. "Aku masih belum merasa siap menghadapi mereka lagi." akunya jujur.
"Tenangkan dulu hatimu dan siapkan perasaanmu. Aku tahu itu berat tapi kamu harus melewatinya cepat atau lambat. Perlahan saja, orang tuamu pasti mengerti." ucap Nana meyakinkan Kansha.
Kansha mengangguk, "Terima kasih ya. Kalian benar-benar luar biasa. Aku sangat bersyukur, di saat seperti ini ada orang-orang yang begitu baik padaku." ucap Kansha terharu.
"Oh Kansha!" ucap Nana lalu memeluk Kansha erat. Setelah berapa lama, Kansha melepaskan pelukannya.
"Enggak, nanti saja. kita tunggu Bu Sari saja dulu. Kamu nanti sendirian." tolak Nana.
"Aku gak apa. Kalau kalian takut aku akan mengakhiri hidup lagi, tenang saja. Aku gak akan lakukan itu lagi." ujar Kansha meyakinkan.
Nana dan Ruben saling berpandangan, kemudian Ruben mengangguk. "Yasudah deh. Kalau begitu kita pulang dulu. Aku akan mengirimkan pesan pada Bu Sari kalau kita kembali lebih awal." kata Nana akhirnya.
"Nah begitu dong. Kalian sudah beberapa hari ini terus menjagaku, terima kasih ya." ucap Kansha penuh terima kasih.
"Sama-sama. Kamu adalah keluargaku. Tentu saja sudah jadi kewajiban ku menjagamu dan merawatmu." balas Nana tulus.
"Iya, kamu gak perlu berterimakasih. Lekas sembuh dan jangan buat kami khawatir lagi." timpal Ruben. "Dan jangan lupa, kamu juga harus mengurus ARC nanti." lanjutnya tertawa.
"Siap kak." angguk Kansha sembari ikut tertawa.
***
"Mas, ceritakan bagaimana harimu ketika terdampar." pinta Alfin.
__ADS_1
Alan terdiam berfikir, "Hmm, satu hari disana seperti satu minggu disana. Begitu lama tapi terasa singkat juga hingga Mas tidak sadar kalau sudah terdampar disana satu bulan lamanya." jawab Alan.
"Apa saja yang kalian makan disana? Oh tempat tinggal kalian bagaimana?" tanya Bunda ikut penasaran.
"Kami awalnya makan umbi-umbian atau apapun yang kami temukan lalu kami juga mulai menangkap ikan dan kerang juga di malam hari. Kalau soal tempat tinggal, kami membuat seadanya, dari akar pohon dan batang kecil lalu atapnya terbuat dari anyaman daun-daun besar, aku lupa namanya dan Kansha yang menganyamnya. Dia hebat dalam segala hal." cerita Alan dengan tak lupa memberi pujian pada Kansha di akhir. Memang benar, Kansha luar biasa. Dia pandai dalam segala hal dan membuat kehidupan mereka di pulau lebih ringan.
"Alfin rasa mas bisa tinggal disana satu bulan lagi kalau begitu." kelakar Alfin.
"Mas rasa. Tapi harus ada Kansha, kalau enggak mas juga gak sanggup lagi." timpal Alan geli.
"Oh ya, bagaimana kalian minum? Kalian gak mungkin minum air laut bukan?" tanya Bunda.
"Oh soal itu. Biar Alan ceritakan satu cerita soal itu." kata Alan setengah tertawa.
"Apa?" tanya Alfin ikut penasaran.
"Suatu hari, Kansha mengeluh haus. Dan karena tidak bisa memanjat pohon kelapa, Kansha mencari aliran sungai. Dan ternyata air itu kotor meskipun air tawar. Kansha lalu menggali di sekitaran aliran itu tapi airnya masih kotor. Mas tanya apa yang dia lakukan tapi Kansha malah menjawab 'Alan, berapa sih nilai Ipa mu?'." cerita Alan. Bunda dan Alfin tertawa mendengarnya.
"Lah kalian juga mengapa tertawa, saat itu mas bingung apa yang dia maksud." ujar Alan bingung.
"Itu artinya Mas gak jago soal IPA, jelas-jelas alasan dari Kansha menggali di sekitar aliran itu karena pasir akan mampu menyerap kotoran dari air. Itu sama prinsipnya dengan membangun sumur, dan bila semakin dalam kita akan menemukan air jernih." jelas Alfin.
"Mas juga tahu soal itu. Tapi maksud mas, airnya juga masih kotor." ucap Alan tak mau kalah.
"Kalau tahu, mengapa menanyakan pertanyaan konyol seperti itu? Jelas karena mas tidak tahu soal itu. Makanya Kansha juga menanyakan nilai IPA Mas berapa." tukas Alfin terkekeh.
Alan berdeham canggung, "Setelah itu karena airnya masih kotor, Kansha malah menemukan ide lainnya. Dia memotong kaus mas camping sebelah sebagai alat penyaringan." tutur Alan sedikit cemberut.
"Apa? Maksud Mas kaus ini?" tanya Alfin sambil mengangkat kaus Alan yang sudah dicuci bersih itu. Nampak potongan kaus Alan yang tak rapih itu ketika dipotong Kansha.
"Iya, kaus yang mana lagi." jawab Alan.
Alfin dan bunda tertawa keras, "Mas, Kansha memang pejuang wanita sejati. Aku salut." puji Alfin sembari tertawa. Alan yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Mengakui dalam hati.
Lalu tawa mereka reda ketika pintu kamar inap Alan terbuka, ada Aisyah datang dengan panik.
"Bun, Mas Alan. Ada wartawan di lobi ingin mewancarai Mas Alan." beritahu Aisyah.
__ADS_1