My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 137.


__ADS_3

Setelah dari panti jompo, Alan dan Kansha pergi ke rumah Aisyah untuk memberitahu yang terjadi. Dan begitu Aisyah mendengarnya, dia amat terkejut.


“Jadi Om Rudi sudah meninggal dan Mbak Aaura tahu itu tapi tidak mengatakannya pada kakak?”


Kansha mengangguk, “Perawat itu bilang, dia sudah mengabarkan terkait kematian Om Rudi pada walinya dan siapa lagi walinya kalau bukan Aura? Dialah yang membawa Om Rudi kesana.” Jelas Kansha.


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan, “Aisyah tak habis fikir dengan Mbak Aura. Sejenak Aisyah merasa Mbak Aura sudah berubah. Terbukti dengan dia mau memberitahu keberadaan Om Rudi tapi ternyata...”


Kansha hanya terdiam. Dia juga sama kecewanya.


“Lalu bagaimana dengan masalah pembebasan Aura, kamu masih mau melakukannya?” sela Alan.


Aisyah terkejut mendengar pertanyaan Alan. Dia sontak menatap kakak perempuannya tak percaya.


“Apa? Kakak mau membebaskan Mbak Aura?” serunya.


Kansha mengangguk, “Hem, aku sudah berjanji.” Tandasnya.


“Kenapa? Kenapa kakak mau membebaskannya?” tanya Aisyah.


“Benar, kenapa kamu ingin membebaskannya? Aura bahkan belum sebulan disana.” Ucap Alan ikut menimpali.


“Aku merasa bersalah pada Kania kalau sampai memenjarakan Aura begitu lama. Bagaimanapun juga, Aura sampai bertindak sejauh ini karena dia terluka dan marah atas kepergian Kania. Aku tahu aku tidak berhak disalahkan karena ini kecelakaan, tapi aku tetap merasa bertanggung jawab. Aku tahu rasanya ditinggalkan dengan tak adil.” Jawab Kansha.


“Tapi Mbak Aura belum berubah sama sekali. Bagaimana kalau dia sampai mencelakai mbak lagi?” tukas Aisyah.


Kansha terdiam.


“Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi. Bagaimanapun disana lebih baik untuk Aura saat ini. Biarkan dia mempertanggung jawabkan kesalahannya secara penuh.” Ucap Alan.


“Benar! Biarkan Mbak Aura menetap di bui sampai masa tahanannya habis. Siapa tahu dia bisa intropeksi diri.” Sahut Aisyah.


Kansha menggelengkan kepalanya.


“Apa maksud kakak menggeleng?” tanya Aisyah.


“Aku membebaskannya bukan berarti benar-benar membebaskannya. Aku akan menempatkan dia di yayasan agar dia belajar dari orang sekitarnya.” Jelas Kansha.


“Maksudnya?” tanya Alan bingung.


Kansha membenarkan posisi duduknya dan menatap Alan serta Aisyah dengan serius.


“Daripada meninggalkan orang seperti Aura di penjara, dimana dalam fikirannya akan timbul rasa benci dan dendam lainnya atas hukuman penjaranya, lebih baik menempatkannya di yayasan. Yayasan Cendikia terdiri dari ribuan anak yang memiliki kisah masa lalu yang tak bahagia. Tapi meski hidup mereka sulit dan tak adil, tapi mereka tetap bisa tersenyum. Hati mereka tetap bahagia. Bermain bersama kawan-kawan yang seumuran dan senasib. Sekeras apapun hidup pada mereka, mereka tak pernah mengeluh apalagi marah pada Tuhan. Dan aku ingin Aura menyadari hal itu. Aku ingin Aura tahu, tak semua luka akan menjadi dendam. Tak semua anak yang broken home akan menjadi monster. Dan aku yakin, dia akan merasa lebih dihargai karena ada orang lain yang keadaannya jauh lebih sulit darinya.”


Mendengar penjelasan panjang Kansha membuat Alan dan Aisyah jadi terdiam. Dalam hati, Alan menyadari bahwa perkataan Kansha benar. Aura bukanlah orang yang akan berubah dalam waktu semalam apalagi tidak ada yang menjadi contoh untuknya. Tapi di yayasan, dia akan bertemu banyak orang dengan kisah berbeda. Aura akan belajar bagaimana menikmati hidup dengan bahagia tanpa rasa benci.


“Aku tahu ini sulit bagi kalian, aku juga. Ada banyak pertimbangan yang kufikirkan dan aku berani mengambil resiko ini karena aku tahu bahwa ini akan berhasil. Aku hanya tak ingin masa depan Aura hancur karena hukuman penjara ini.” tambah Kansha kala Alan dan Aisyah terus terdiam.


“Kakak benar.” Sahut Aisyah di tengah keheningan. “Mbak Aura memang harus belajar kehidupan dari mereka. Daripada mengguruinya lebih baik dia mempelajarinya secara alami di lingkungan sosial. Bukan hanya akan membuka nuraninya, tapi juga akal sehatnya. Bagaimanapun pengalaman adalah guru terbaik.” Lanjut Aisyah.


Alan mengangguk membenarkan, “Itu adalah solusi paling tepat untuk masalah Aura. Mungkin akan memakan waktu lama tapi dengan pengawasan yang tepat, pasti akan membuahkan hasil. Selama lingkungannya sehat dan dipenuhi energi positif.”


Kansha tersenyum lega. “Aku senang kalian mau mendukung keputusanku.”


“Jadi kapan kakak akan melakukannya?”


Kansha terdiam sebentar, “Setelah kami menikah saja. Bagaimana menurutmu, Lan?” tanyanya meminta pendapat.


Alan mengangguk setuju, “Itu lebih baik. Karena kalau di waktu saat ini, cukup sulit juga.”


“Jadi, kalian akan menggunakan wali hakim saja?” celetuk Aisyah.


Kansha mengangguk, “Harus siapa lagi yang bisa. Kamu juga tidak mengenal anggota keluarga lainnya, kan?”


“Iya. Aku tidak mengenal yang lainnya selain Om Rudi itu.” angguk Aisyah.


“Kamu tidak masalah dengan wali hakim? Kalau kamu mau, kita bisa mencarinya. Pasti ada anggota keluargamu yang tinggal dekat dengan kita.” Saran Alan.


“Iya benar apa kata Mas Alan. Aisyah yakin ada anggota keluarga kita yang setidaknya berada di Jakarta. Kalau kita mau mencarinya, pasti bisa ketemu.”


Kansha menggeleng pelan. “Tidak perlu. Itu terlalu merepotkan. Lagipula waktunya juga tidak cukup. Kita masih harus mempersiapkan yang lainnya.” Tolak Kansha.


“Ya sudah. Aku mengikuti apa yang kamu inginkan. Kita bisa mengajukannya sekarang.” Ujar Alan.


“Kalau begitu, kakak dan Mas segera membereskannya. Jangan terpengaruh dengan urusan lain. Kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan kabari Aisyah. Aisyah pasti akan membantu.”


“Terima kasih Aisyah. Aku akan menghubungi kalau butuh bantuan. Tapi sebaiknya kamu fokus pada persiapan pascasarjanamu saja. Bukankah kamu akan pergi bulan depan?”


Aisyah mengangguk, “Sudah beres semua. Tinggal mengemas pakaian saja. Jangan khawatir, Aisyah tidak akan terganggu.”


Kansha menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis pada adiknya itu.


***


Dan Kansha serta Alan makin sibuk setelahnya. Pasangan ini harus mempersiapkan pernikahan mereka. Dimulai dari fiting pakaian pengantin, mencari gedung hingga mengurus administrasi di KUA. Meski sudah menyewa WO untuk meringankan pekerjaan mereka, tapi mereka tetap mempersiapkan semuanya sendiri secara langsung karena pernikahan ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup.


Alan dan Kansha sudah menyempatkan diri untuk fiting baju. Pakaian pengantin mereka terdiri dari tiga setel pakaian. Satu pakaian serba putih untuk akad. Dan dua lainnya untuk resepsi. Mereka sengaja akan melangsungkan resepsi begitu akad selesai agar waktu lebih efisien dan sekalian repot. Pakaian resepsi mereka terdiri dari gaun panjang pastel untuk Kansha dan jas hitam elegan untuk Alan.


Setelah fiting baju, Kansha dan Alan langsung survei untuk lokasi pernikahan mereka. Tempat ini direkomendasikan oleh WO mereka berupa sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta yang selalu dijadikan lokasi pernikahan. Ini bukan hotel milik Williams. Sebenarnya Kansha sudah ditawari di hotel Williams oleh orang tuanya tapi dia menolak halus. Jadilah hotel yang dipilih Kansha adalah hotel green nature dengan interior romantis di pusat Jakarta.


Setelah menetapkan lokasi, mereka langsung memburu pernak-pernik untuk souvenir. Kansha dan Alan sepakat memberikan souvernir berupa gelang dan kalung emas putih dengan liontin berbentuk kerang putih. Alasan mereka menggunakan kerang sebagai liontin adalah untuk mengingat kenangan indah antara Kansha dan Kania. Apalagi kerang adalah benda favorit Kansha yang memiliki banyak kenangan di masa kecilnya. Dan Alan ingin memberikan rasa itu sekali lagi pada Kansha di hari bahagia mereka.


Tapi diantara kesibukan pasangan itu mempersiapkan pernikahan, pekerjaan mereka menjadi lebih padat dan menumpuk. Alan bahkan sengaja melakukan terbang lebih tinggi dibanding jadwal terbang biasanya agar dia bisa cuti panjang setelah pernikahan. Dan Kansha juga kerap lembur di kantor berhari-hari untuk menyelesaikan pekerjaannya agar tak menumpuk nanti. Pekerjaannya bertambah banyak karena kantor barunya di Seoul hampir rampung dan tak lama lagi akan dibuka secara resmi. Rencananya, dia akan mengadakan grand-opening kantor barunya setelah menikah. Tapi yang berarti dia harus menyelesaikan semua berkasnya sebelum menikah atau kalau tidak, bulan madu mereka terpaksa dibatalkan karena berkas pekerjaannya yang bertumpuk memita diselesaikan.


D-7 Wedding


Undangan sudah dicetak dan diperbanyak tiga ribu undangan. Jumlah itu masih lebih sedikit dibanding jumlah awal mereka yang hampir mencapai angka enam ribu orang. Tapi keluarga mereka meminta pengurangan agar Alan dan Kansha tidak kelelahan karena harus menerima tamu sebanyak enam ribu. Jadilah mereka kembali memilah para tamu yang akan diundang dalam pernikahan akbar itu.


Rata-rata terbesar yang diundang datang dari pihak Kansha. Itu karena koneksi orang tuanya yang luas ditambah dengan jaringan pertemanannya juga selama jadi resporter dan kini seorang presdir. Alan juga tak kalah banyak. Sebagai pilot, dia mengenal semua kolega dari berbagai perusahaan maskapai baik itu sesama pilot, pramugara dan pramugari bahkan para presdirnya. Ayahnya juga berperan penting dalam pengundangan ratusan orang penting di seluruh negeri.


Dan pernikahan Kansha dan Alan adalah pernikahan paling diantisipasi tahun ini. Meski keduanya bukanlah selebriti, tetapi dengan titel keluarga pebisnis paling berpengaruh di Asia dan keluarga pilot dengan prestasi segudang membuat pernikahan mereka disorot berbagai media. Bahkan saking terkenalnya, berita pernikahan mereka juga disiarkan di beberapa negara termasuk Korea Selatan yang menghubungkannya dengan kantor baru ARC di ibukota mereka.


Dan tugas terakhir Kansha sebelum dipingit adalah membagikan undangan ke semua teman dan kerabat terdekatnya. Termasuk pada Bu Sari, orang yang paling penting dan berjasa pada kehidupannya.


Dan untuk memberikannya, Kansha datang ke kafenya. Begitu tiba di pelataran parkir, Kansha langsung melihat betapa ramainya kafe milik ibu angkatnya ini. Kansha bersyukur bahwa bisnis Bu Sari makin lancar dan sukses setiap harinya.


Kansha pun langsung menuju pintu kafe tapi langkahnya langsung terhenti kala melihat pemandangan yang tak biasa. Ada Alvaro yang sedang memindahkan meja ke luar. Pakaian lelaki itu basah oleh keringat.


“Alvaro?” tanya Kansha bingung.


Alvaro yang dipanggil namanya langsung menoleh. Dia terkejut kala melihat Kansha berada di hadapannya.


Tiba-tiba dari pintu masuk kafe, Bu Sari keluar dengan membawa segelas jus semnagka di tangannya. “Alvaro, tidak usah banyak-banyak. Istiraha—“ Bu Sari menghentikan ucapannya kala menyadari ada Kansha di depannya.


"Kansha? Sedang apa kamu disini?" tanya Bu Sari mengalihkan pertanyannya pada anak angkatnya.


"Aku ingin memberikan undangan pada ibu. Tapi aku terkejut ada Alvaro disini." jawab Kansha masih dengan raut bingung.


Bu Sari menoleh pada Alvaro lalu kembali menatap Kansha dengan senyum canggung, "Nak Alvaro sedang membantu ibu memindahkan meja ke luar karena hari ini pengunjung kafe sangat banyak." jelas Bu Sari.


"Kalian saling kenal?" tanya Kansha lagi. Alvaro dan Bu Sari menjadi berpandangan.

__ADS_1


***


Kansha meneguk jus strawberrynya dengan keheningan. Di depannya Alvaro juga terdiam. Suasana canggung yang hening mematikan sel saraf mereka.


Kansha menaruh gelas jusnya di meja, "Apa ada yang ingin kamu jelaskan padaku?" celetuk Kansha.


"Aku--" Alvaro tak bisa menjawab. Dia bingung dan gugup.


"Sejak kapan kalian saling mengenal? Apa kalian berdua dekat?"


"Aku mengenal Bu Sari di tahun pertamaku." jawab Alvaro.


"Kenapa kamu membantunya?"


"Soal itu...karena aku merasa bertanggung jawab."


"Apa?" tanya Kansha tak mengerti.


Alvaro tak mampu menatap wajah Kansha. Dia gugup dan jantungnya berdegup cepat.


Kurasa ini waktunya.. gumam Alvaro menyiapkan keberanian.


"Apa kamu punya salah pada beliau?" tebak Kansha tepat sasaran.


Alvaro terdiam sesaat lalu mengangguk pelan.


"Ada yang ingin kuakui padamu." Alvaro terdiam kembali, "Bahwa pelaku kecelakaan tabrak lari Bu Sari 7 tahun lalu adalah aku." lanjut Alvaro cepat. Matanya langsung menutup erat kalau-kalau Kansha akan memukulnya.


Tapi tidak ada yang terjadi. Hingga Alvaro membuka matanya dan terkejut kala melihat Kansha yang terdiam saja.


"Kamu tidak terkejut?" lirih Alvaro hati-hati.


"Terkejut." aku Kansha setelah lama terdiam. "Tapi aku lega bahwa aku mendengar kebenarannya dari orangnya sendiri." lanjutnya.


"Maafkan aku, Kansha. Aku sangat pengecut. Aku terlalu ketakutan hingga tidak berani bertanggung jawab. Aku minta maaf Kansha. Aku minta maaf." ucap Alvaro menunduk dalam.


Kansha mendesah pelan, "Itukah alasanmu membantu Bu Sari tadi? Sebagai bentuk penebusan diri?"


Alvaro mengangguk.


"Aku masih bingung tentang bagaimana kronologinya. Bisakah kamu menceritakannya?"


Alvaro terdiam sesaat lalu menganggukman kepala.


"Jadi waktu itu..."


Flashback On


(Alvaro Pov)


Saat itu bel pulang sekolah berbunyi dengan riang seriang para siswa yang tak sabar lepas dari penyiksaan batin buku pelajaran. Akupun begitu. Meski tergolong siswa pintar, aku tetap tidak suka belajar kecuali soal hukum.


Seperti biasa, aku selalu nongkrong dahulu di Ruang Osis. Menatap siluet seorang siswi yang berwajah datar dengan earphone di kedua telinganya sedang membersihkan kelas. Dia Kansha, siswi kelas XII-IPS 1, si jenius bahasa. Perempuan yang kutaksir sejak dulu.


Aku terus memperhatikannya dan selalu terpesona. Rambutnya yang berkibar lembut selalu menyihirku. Hingga lima belas menit kemudian Kansha selesai piket dan bersiap pulang. Begitu Kansha keluar dari kelas, aku juga keluar dari Ruang Osis dan berjalan dibelakang punggungnya sepanjang koridor.


Langkah ringan Kansha selalu seayun denganku. Andai aku beruntung, aku tidak ingin berjalan dibelakangnya lagi. Terus menatap punggung kecil itu dengan sembunyi. Ah, aku akan memikirkan wakt**u untuk mengakui perasaanku padanya.


Kansha tiba di depan sekolah. Dia sudah berdiri di pinggir jalan dan langsung menyetop angkot. Setelah melihat kepergiannya, akupun langsung masuk ke dalam mobilku.


Tapi baru saja hendak mengunci pintu, pintu pengemudi disampingku terbuka dan Aura langsung duduk tanpa permisi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku.


"Kutanya apa yang sedang kamu lakukan?" tanyaku lagi dengan kesal.


"Aku menumpang. Mobilku di bengkel." jawabnya ringan.


"Turun." titahku ketus. Aku memang tidak menyukai Aura sejak dulu.


"Tidak mau!" tolak Aura.


"Turun atau aku akan memaksamu." ancamku.


"Coba saja. Tapi aku akan teriak bahwa kamu sudah melecehkanku di mobilmu. Apa jadinya bila seorang ketua osis melecehkan temannya sendiri?" ancam balik Aura.


Aku berdecak kesal. Gadis itu sungguh ular.


"Sudah jalan saja. Lagipula hanya sebentar. Jangan tidak ikhlas begitu." ucap Aura lagi. Mau tak mau aku menjalankan mobilku dan Aura beryes senang.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan apapun diantara kami. Aku juga malas berbicara dengannya. Hujan juga tiba-tiba datang seakan mendukung perasaanku sekarang.


Hingga Aura tiba-tiba berceletuk,


"Kamu suka Kansha?"


"Apa hubungannya denganmu?" ketusku.


"Kenapa harus dia?"


"Lalu aku harus menyukaimu?"


Aura tersenyum kecil, "Kamu tidak akan bisa bersama dengannya jadi jangan buang-buang waktumu melakukan hal yang sia-sia."


"Hal yang sia-sia adalah mengantarkanmu pulang padahal aku benci melakukannya. " balasku.


"Kenapa kamu terlihat sangat membenciku?" tanya Aura.


Aku tersenyum tipis, "Aku tidak benci hanya tidak suka dengan perempuan penindas sepertimu. Menurutmu puaskah menindas orang lain?"


"Aku hanya menindas orang yang pantas."


"Dan orang yang pantas itu adalah orang yang miskin dengan uang saku pas-pasan tapi tetap dipaksa membeli makanan dengan harga dua kali lipat darinya dan tetap mencelanya di depan publik? Waraskah?"


"Kamu mengatakan itu karena perempuan yang kamu sukai juga menjadi korbanku."


"Kamu benar. Aku tidak suka ada yang menyentuh Kansha tak terkecuali dirimu." desisku dingin.


Aura terdiam. Aku menoleh dan bisa tahu bahwa wajahnya menunjukkan raut kesal.


"Dia tidak pantas denganmu. Berhentilah menyukai orang sepertinya. Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik daripada upik abu itu!" seru Aura.


"Sepertimu?" tanyaku menoleh padanya. "Jangan mimpi!" cetusku.


"Kamu--"


Brak


Mobilku tiba-tiba berhenti. Aku menatap kembali kedepan dan begitu terkejut bahwa aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aura juga sama terkejutnya. Dan buru-buru aku keluar dari mobil.


Mataku terbelalak kala melihat seorang ibu-ibu tergeletak dengan darah yang menggenang bercampur air hujan. Aku melihat dibagian mana dia ditabrak dan aku terkejut bahwa kaki kanannya terlihat retak dan mengucurkan darah amat banyak. Aku membeku. Ketakutan langsung menjalari seluruh sendi tubuhku.

__ADS_1


"Alvaro! Apa yang kamu lakukan? Cepat masuk!" teriakan Aura membawaku kembali ke alam sadar. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil.


Begitu masuk, aku langsung duduk kaku. Dadaku naik turun dan jantungku terus berdegup cepat.


"Cepat jalan." titah Aura.


"Lalu bagaimana dengan ibu-ibu itu?" tanyaku cemas.


"Jangan pedulikan. Jelas-jelas kamu menabraknya dan sepertinya sangat parah. Cepat jalan kalau kamu tak ingin dipenjara!"


Aku bimbang tapi aku takut dipenjara. Aku tidak bisa berfikir jernih saat itu hingga mau-maunya menuruti perkataan Aura. Akupun langsung menjalankan mobilku meninggalkan ibu-ibu yang kutabrak tergeletak di jalanan.


Setelah menjauh dari lokasi kejadian, aku menghentikan mobilku.


"Kenapa kamu berhenti?"


"Setidaknya biarkan aku menghubungi ambulans." ucapku.


"Tunggu." cegah Aura.


"Ada apa lagi?"


"Gunakan nomor ponsel cadanganmu. Jangan gunakan yang utama."


"Kenapa?"


"Turuti saja!"


Aku langsung menekan sejumlah nomor dengan nomor ponsel cadanganku.


"Halo, ada korban kecelakaan di jalan Separa."


Bip


Setelah mengatakan kalimat itu aku langsung menutup telfon.


"Sini ponselmu." pinta Aura. Dia bahkan tidak perlu meminta jawabanku dan langsung merebut ponselku.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyaku ketika Aura membuka casing ponselku dan mengeluarkan kartu sim 2 ku.


Brak


Aura tiba-tiba menghancurkan kartu sim itu.


"Apa--"


"Mulai sekarang, kalau kamu ingin selamat, maka tutup mulutmu atas kejadian tadi, kamu mengerti?!"


Aku terdiam.


"Mengerti?" tanya Aura sekali lagi. Aku pada akhirnya mengangguk. Fikiranku masih semrawut.


Dan sejak kejadian itu, aku dan Aura makin dekat. Dan kabar buruk tiba kala aku mendengar bahwa ibu angkat Kansha kecelakaan hingga menyebabkan kakinya harus diamputasi. Aku belum sadar bahwa itu aku sebelum Aura datang menemuiku.


"Yang kamu tabrak tempo lalu adalah ibu angkat Kansha."


Ucapannya menggetarkan hatiku. Wajahku seketika pucat.


"Aku adalah saksi mata atas kejadian itu. Kalau kamu tidak ingin Kansha tahu, maka turuti ucapanku."


Dan aku baru menyadari bahwa mimpi burukku telah tiba. Aura menjebakku karena kebodohanku sendiri.


Flasback Off


"Sejak saat itu, aku menjadi pengecut. Dan kamu pasti tahu sendiri kelanjutannya."


"Apa Bu Sari tahu?" tanya Kansha.


"Sudah. Aku sudah menjelaskannya dan meminta maaf padanya secara langsung. Tapi aku masih belum puas, jadi aku meminta hukuman penjara."


"Tapi Bu Sari memilih memafkanmu, benar kan?"


Alvaro mengangguk. "Aku minta maaf Kansha baru jujur sekarang." ucapnya dengan kepala menunduk.


"Aku memaafkanmu." tandasnya.


"Terima kasih, Kansha." ucap Alvaro terharu.


"Sudahlah, masa lalu adalah masa lalu. Aku tetap lega bahwa kamu mau jujur dan mengakui kesalahanmu."


Alvaro mengangguk, "Aku berjanji akan membantu Bu Sari. Aku ingin menebus kesalahanku padanya."


Kansha tersenyum, "Terima kasih."


Lalu Kansha mengeluarkan sebuah undangan di tasnya.


"Oh ya, ini untukmu. Jangan lupa datang." ucap Kansha menyerahkan undangan pernikahannya yang berwarna putih.


"Ini---"


"Pernikahanku."


Alvaro membaca undangan itu dan seketika membeku.


"Kamu akan menikah?"


Kansha mengangguk.


"Dengan Alan?"


Kansha kembali mengangguk.


"Jangan lupa datang." ucap Kansha.


Alvaro terdiam. Dia masih tak percaya.


Karena tak ada tanggapan lagi dari Alvaro, Kansha hanya bisa tersenyum. Dia pun langsung beranjak berdiri.


"Kalau begitu aku masuk dulu." pamitnya.


Sepeninggal Kansha, Alvaro terhenyak di kursinya. Dadanya serasa sesak akan fakta yang menghantamnya telak itu.


Tapi tak butuh lama, Alvaro tiba-tiba tersenyum. Kesesakkan dalam hatinya langsung hilang.


Kansha, kurasa sudah waktunya aku berhenti mengejar hatimu. Aku melepaskanmu.


Alvaro sadar bahwa sudah waktunya dia berhenti. Dia sudah tak memiliki kesempatan untuk hanya sekedar menggapai punggung Kansha. Alvaro sadar bahwa kisahnya telah berakhir.


Tapi dia tidak menyesal. Dia merelakan Kansha pergi pada pelukan sang pemenang hatinya. Alvaro tahu bahwa cinta tidak harus selalu dimiliki. Dan Alvaro bangga bahwa cintanya berada pada tingkatan tertinggi karena berani melepaskan.


Dan yang Alvaro hanya bisa lakukan adalah mendoakan kebahagiaan Kansha meski bukan bersamanya.

__ADS_1


Terakhir, Alvaro menatap pintu kafe yang tadi dimasuki Kansha. Dia menatap lurus seakan - akan bayangan Kansha ada disana.


Dan setelah itu mengukir senyuman terakhirnya untuk Kansha.


__ADS_2