
Seminggu kemudian, Kansha tengah di kantornya. Dia masih berkutat dengan pekerjaannya padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Dia mungkin tidak sadar waktu kalau tidak ada telfon yang berdering nyaring.
Kansha menghentikan pekerjaannya, dia langsung menjawab telfon yang ternyata berasal dari Alfin.
"Halo, ada apa?" sapa Kansha.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Alfin.
"Ini sudah masuk waktu makan siang?" tanya balik Kansha kaget.
"Tentu. Ini bahkan sudah pukul satu siang." jawab Alfin.
"Kamu sepertinya tidak sadar waktu."
"Hem, pekerjaanku sangat banyak. Aku memang sengaja menyuruh Seli untuk tidak mengangguku karena aku tidak akan kelewatan jam, eh tahunya iya."
"Tidak apa-apa. Aku menelfonmu karena ingin mengajakmu makan siang."
"Makan siang? Dimana?"
"Di rumahku."
Kansha terlonjak dari kursinya, "Di rumahmu?!" serunya kaget.
"Iya, bunda yang mengundangmu."
Kansha terdiam.
"Kansha? Kamu masih disana?" tegur Alfin ketika Kansha tidak bersuara.
"Iya, masih." balas Kansha pelan.
"Jadi bagaimana?"
Kansha merasa ragu, terlebih karena insiden kemarin. Dia takut bunda marah padanya.
"Kamu pasti ragu karena kejadian kemarin kan? Tenang saja, bunda tidak menyalahkanmu. Justru beliau bilang beberapa kali, kalau kamu tidak bersalah. Bunda yakin kamu tidak melakukannya." ucap Alfin.
Kansha masih ragu, "Tapi apa alasan bunda ingin mengundangku?"
Kini Alfin yang terdiam, membuat Kansha mulai berfikir yang tidak-tidak.
Kemudian, suara Alfin terdengar riang, "Bunda tahu kalau mas Alan menyukaimu jadi bunda ingin membantu."
"Apa? Bunda tahu?" pekik Kansha.
"Tentu, bahkan sebelum kuberi tahu, bunda sudah tahu duluan. Hanya saja bunda ragu sepertiku, karena saat itu Mas Alan masih bersama Aisyah. Bunda khawatir terjadi hal yang tidak-tidak saat Mas Alan masih berhubungan dengan Aisyah tapi malah menyukaimu jadi bunda diam saja."
"Aku jadi merasa tidak enak, kesannya seperti aku yang sengaja menggoda Alan." komentar Kansha pelan.
Di seberang telfon, Alfin berdecak, "Astaga, berhentilah berfikiran seperti itu. Kamu bukan penggoda, dan perebut. Kamu bahkan tidak melanggar prinsip apapun. Kamu mencintai Mas Alan dengan sukarela dan tak mengharapkan kepemilikan Mas Alan, benar kan?"
"Tentu, aku masih sadar diri." balas Kansha.
"Jadi berhentilah memikirkan hal yang bukan-bukan dan aku akan sampai di kantormu dalam lima menit. Aku sedang dalam perjalanan."
"Ck, percuma kamu menayakan kesanggupanku toh nyatanya kamu sudah hampir sampai." decak Kansha.
Alfin tertawa, "Sampai nanti, calon kakak ipar."
***
Alfin memarkirkan mobilnya di basement lalu menuju lobi untuk bertemu dengan Kansha. Perawakan Alfin yang tinggi dan didukung paras yang tampan, membuat banyak pegawai wanita jatuh hati dalam sekali lirik. Belum lagi dengan senyum hangat yang diperlihatkan Alfin.
Setelah menunggu sebentar, Kansha akhirnya turun ke lobi. Dia langsung menghampiri Alfin yang tengah duduk santai di sofa.
"Menunggu lama?" tegur Kansha.
Alfin berdiri lalu menghadap Kansha, "Siang, kakak ipar." sapanya dengan nada manis.
Kansha tersenyum tipis, "Sapaanmu yang manis membuatku menghalukan harapan. Bagaimana jadinya bila aku benar-benar menjadi kakak iparmu."
"Itu bukan halu. Kuyakin sebentar lagi akan terjadi."
Kansha tersenyum mendengarnya, "Astaga, aku tidak bisa membayangkan akan punya calon adik ipar yang tengil seperti ini." ucapnya jahil.
"Kakak ipar pasti tidak akan menyesal memilikinya." balas Alfin kalem.
****
Kansha dan Alfin berkendara menuju rumah kediaman Alfin. Kansha sebenarnya cukup nervous pasalnya ini adalah kedatangannya yang pertama setelah insiden serbuk kacang itu. Dia bahkan belum sempat menjenguk bunda di rumah sakit.
Mobil Alfin berhenti di carport rumahnya. Kansha dan Alfin turun dari mobil. Alfin tersenyum menenangkan melihat Kansha yang gugup.
Mereka masuk kedalam, lalu Alfin memanggil bundanya. Terlihat bunda muncul dari lantai atas. Dan langsung turun dengan semangat.
"Bun, ini calon menantu bunda sudah datang." ucap Alfin ringan.
Kansha menyikut lengan Alfin membuat Alfin mengaduh pelan.
__ADS_1
"Selamat datang, Kansha. Bagaimana kabarmu? sehat?" bunda dengan nada yang ramah bertanya.
"Sehat, bunda. Bunda sendiri bagaimana? Maaf, Kasha belum sempat menjenguk bunda di rumah sakit." ucap Kansha merasa bersalah. Dia bahkan menyatukan kedua tangannya di atas paha.
"Tidak apa-apa, bunda mengerti. Lagipula bunda sudah sehat betul." balas Bunda tersenyum.
"Soal insiden itu..Kansha minta maaf, bun." ucap Kansha lagi.
"Itu bukan salah kamu, kok. Kenapa kamu minta maaf. Lagipula bunda yakin kalau kamu bukan orang yang seperti itu, kamu orang baik."
"Tapi tetap saja, Aisyah awalnya bermaksud mencelakai Kansha tapi malah berujung pada bunda." lirih Kansha.
"Semuanya sudah takdir. Tidak ada yang perlu disesali atau disayangkan. Insiden itu terjadi pada bunda bukannya pada kamu itu berarti kamu diselamatkan dari kelicikan. Bunda tidak masalah menjadi penanggungnya." balas bunda.
Kansha terharu. Dia memeluk bunda dengan erat. Bunda membalas pelukannya dengan sama erat.
"Terima kasih bun."
***
Kansha lalu duduk sambil berbincang ringan dengan bunda. Mereka membicarakan hal seputar wanita dan memasak. Rupanya, bunda sangat menyukai memasak seperti Kansha. Jadi topik ini tidak pernah gagal untuk dibahas.
"Oh ya bunda, Alan.." Kansha menghentikan ucapannya.
"Alan sepertinya masih tidur, dia baru datang pukul delapan tadi. Dan sekarang dia juga akan terbang kembali." balas bunda.
Kansha hanya mengangguk ria.
"Oh ya, ayo makan siang. Makanannya sudah matang." ajak bunda.
"Ayo, bun." Kansha ikut berdiri.
Bunda lalu memanggil Alfin. Alfin keluar dari kamarnya dan menghampiri bunda.
"Ada apa bun?"
"Tolong bangunkan masmu ya. Dia harus makan siang sebelum kembali terbang. Jangan lupa shalat dulu." pesan bunda.
"Baik bun."
Usai sepeninggal Alfin, Kansha dan bunda menuju meja makan. Di meja sudah terhidang banyak makanan yang membuat air liur Kansha hampir menetes.
"Kansha, ambil apa saja yang kamu mau ya. Ini tidak mengandung kacang." ucap bunda.
"Bunda tahu kalau aku juga alergi kacang?"
"Alfin yang memberitahunya. Itu sebabnya bunda makin yakin kalau kamu tidak bersalah."
Tak lama, Alfin datang. Dia langsung duduk di depan Kansha.
"Mas mu dimana?" tanya bunda.
"Mas Alan sedang shalat dzuhur bun. Nanti menyusul katanya." jawab Alfin.
"Yasudah, kamu ambil makananmu ya."
Kemudian saat mereka mulai makan, Alan muncul dengan seragam pilot yang membuatnya terlihat keren. Kansha bahkan sampai menganga. Dia baru pertama kali melihat Alan dengan seragam pilotnya.
"Alfin, dasar brengsek kamu. Membangunkan mas dengan menyemburkan air." semprot Alan belum sadar dengan kehadiran Kansha.
"Alan, bahasamu." tegur bunda. "Tidak lihat kita punya tamu?"
"Tamu?" Akhirnya Alan menyadari kehadiran Kansha.
Mata Alan terbelalak, penuh keterkejutan."Sejak kapan kamu disini? Tidak--Siapa yang menjemputmu?" tanya Alan.
Kansha hanya menunjuk Alfin dengan dagunya. Alan beralih menatap Alfin. Alfin yang ditatap hanya mengendikkan bahu.
"Aku yang membawanya kesini."
"Kenapa?" Alan masih terkejut.
"Bunda yang menyuruh Alfin untuk mengundang Kansha makan siang bersama. Kamu kenapa? Sepertinya tidak suka." sela Bunda.
"Bukan begitu, aku hanya terkejut." tukas Alan.
"Kalau begitu, duduklah dan makan. Kamu harus terbang sebentar lagi." titah bunda.
Alan hendak duduk, namun dia melirik kursi yang diduduki Alfin. Dan tanpa kata, dia mengangkat Alfin bermaksud mengusirnya pindah.
"Apa sih mas!" protes Alfin.
"Ini tempat duduk mas." kilah Alan. Padahal sebenarnya bukan, hanya karena di depannya ada Kansha jadi Alan mengklaimnya.
Alfin memutar bola matanya malas, "Tidak ada hal seperti itu."
"Ada, kata siapa tidak? Tanya bunda, Alan selalu duduk disini benar kan bun? Kemarin bahkan Mas duduk disini." Alan menjawab dengan terbata-bata.
Alfin menahan tawanya, melihat tingkah kekanakkan Alan, begitupun bunda dan Kansha. Namun Kansha memilih mendatarkan wajahnya.
__ADS_1
Alfin akhirnya mau tak mau pindah meski dengan wajah dongkol. Alan tersenyum penuh kemenangan. Dia langsung duduk di kursi Alfin tadi.
Alan langsung menaruh makanan ke piringnya. Namun gerakannya terhenti tatkala matanya menangkap interaksi aneh di depannya.
Yaitu Kansha yang sedang menaruh ayam goreng di piring Alfin. Alfin menerimanya dengan senyuman membuat Alan dongkol setengah mati.
"Terima kasih, Kansha." ucap Alfin.
"Kansha perhatian sekali ya. Pasti yang jadi suaminya, bahagia sekali." celetuk bunda melirik Alan.
Kansha tersenyum, "Bunda bisa saja." balasnya.
Kemudian sebuah tangan menggapai piring Alfin dari samping. Itu adalah tangan Alan. Dia mengambil ayam goreng pemberian Kansha dari piring Alfin.
"Mas ,apa yang mas lakukan?" seru Alfin kesal.
Alan yang baru tersadar dengan tindakannya sontak menatap kesekeliling, Kansha, bunda dan Alfin menatapnya. Alan buru-buru menampilkan raut biasa.
"Alfin tidak suka paha ayam. Kamu bilang pernah wasir karena makan paha ayam. Kamu
kan sukanya dada." tukas Alan.
Semuanya menahan tawa mendengar alasan Alan. Kansha juga tak terkecuali. Apalagi mendengar kata wasir yang diucapkan Alan. Sejak kapan ada orang yang wasir karena makan paha ayam?
Alfin hendak protes namun tidak jadi. Dia memilih menghabiskan makanannya daripada berdebat lagi dengan Alan.
Kini meja makan damai seperti semula. Semuanya fokus memakan makanan mereka.
Uhuk uhuk
Alfin tersedak. Kansha buru-buru mengulurkan minuman ke arahnya namun terhenti kala punggung Alfin ditepuk-tepuk dengan keras oleh Alan. Alfin terbatuk-batuk.
bug bug
"Alan, pelan-pelan dong. Itu punggung adik kamu bukan punggung batu." tegur Bunda.
"Tenang bun, Alfin kuat dari segi tulang dan rusuk." balas Alan tenang. Setelah Alfin tak terbatuk lagi, Alan memberikan minuman pada Alfin.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kansha.
Alfin menggeleng, "Aku uhuk baik-baik saja." balasnya terbata-bata. Dia menghela nafas lega kala sudah tak tersedak lagi.
***
Usai makan siang, Alfin, Kansha dan bunda berbincang-bincang di ruang keluarga. Alfin adalah pelawak sejati. Dia dan guyonannya membuat Kansha dan bunda tertawa terpingkal-pingkal.
"Kansha, kamu benar-benar menyukai Alan?" tanya bunda serius.
Kansha menghentikan tawanya. Dia menatap ragu pada bunda. Entah apa yang difikiran bunda, Kansha merasa khawatir.
"Aku..Aku.." Kansha tidak bisa menjawab. Dia terbata-bata.
"Tidak apa-apa. katakanlah, bunda tidak akan marah." ucap bunda lembut.
"Aku sudah lama menyukainya. Maaf bunda, karena menyukai putra bunda disaat Alan sudah memiliki calon istri." ucap Kansha menunduk.
Bunda tersenyum menenangkan, dia mengusap surai coklat keemasan Kansha, "Bunda maafkan. Lagipula kamu hanya sebatas menyukainya dan tidak berniat merebut Alan."
"Aku tidak pernah memiliki niatan seperti itu. Bagiku, hanya dengan mencintai Alan, membuatku merasa cukup."
Bunda tersenyum, "Ini yang bunda sukai dari kamu. Hati kamu teramat baik. Bunda akan sangat senang hati memiliki calon menantu sepertimu."
Kansha terkejut luar biasa. Begitupun Alfin yang sedari tadi diam saja.
"Bunda.." Kansha tak melanjutkan ucapannya.
"Bunda merestuimu dan Alan bila kalian saling mencintai."
Ucapan bunda membuat beban di hati Kansha serasa terangkat. Hal yang paling dia takutkan bukanlah penolakan Alan atas perasaannya, melainkan restu dari orang tuanya.
"Tapi Kansha, tidak seiman dengan Alan." ucap Kansha risau.
"Kansha, bunda memang ingin memiliki calon menantu yang seiman. Namun, bunda yakin, ka mu dan Alan bisa membicarakan hal itu secara bijak. Dan bunda akan menghormati keputusan kalian."
Bunda amatlah baik. Tak terhitung bagaimana rasa terimakasihnya pada Tuhan bahwa dia ditakdirkan bertemu bunda Alan. Wanita ini amat baik hati dan lembut budinya.
"Terima kasih, bunda.." lirih Kansha bahagia.
Alfin ikut tersenyum melihatnya. Akhirnya, sebentar lagi, kisah Alan dan Kansha mendapatkan titik temu.
Dan tanpa disadari oleh semuanya, seseorang mendengarnya tanpa suara. Dan bagaimana telinganya mendengar dengan jelas menimbulkan getaran aneh dalam hatinya. Alan terpaku dengan punggung yang disandarkan ke balik dinding.
...****...
...Selamat berbuka puasa 🤗...
Ini Double up soalnya tadi partnya terlalu sedikit, aku tahu🙏 😅
Jangan lupa stay tune besok ya, pertengahan dzuhur😅
__ADS_1
Terima kasih :)))