
Malam sudah tiba. Ini adalah malam pertama pasca gempa bumi yang melanda Desa Mauri dan sekitarnya. Semua warga dan para petugas evakuasi berkumpul bersama di tenda pengungsian. Regu TIM SAR dan TNI tengah memberikan pengarahan.
"Ini adalah malam pertama pasca musibah tragis itu. Saya harap para warga bisa istirahat dengan nyaman meskipun hanya seadanya. Bantuan berupa logistik dan makanan, akan tiba esok siang pukul 12.00. Saya juga memperingatkan agar jangan menuju lokasi bencana tanpa pengawasan. Dikarenakan menurut BMKG setempat, masih terasa adanya getaran gempa." ucap Kapten Risky.
Semua warga mengangguk. Kemudian setelah berbincang sedikit dan membagikam selimut, para warga satu persatu tidur. Sedangkan regu penyelamat dan tim medis berkumpul kembali di posko evakuasi.
"Saya mengucapkan terima kasih pada tim medis yang sudah sangat membantu dan berperan besar dalam evakuasi ini. Bila tidak ada kalian, para korban mungkin tidak akan ditangani dengan cepat. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan saya juga meminta maaf karena melibatkan kalian dalam operasi ini."
"Sama-sama pak, Sudah tugas kami sebagai tenaga kesehatan, untuk membantu orang-orang yang terluka terlebih para korban bencana alam. Apalagi konsep dari kegiatan kami adalah menjadi relawan kemanusiaan bagi para warga di desa terpencil." balas Alfin.
Kapten Risky mengangguk bangga.
"Kalian benar-benar luar biasa. Tindakan kalian sama dengan definisi seorang dokter." puji Kapten Risky menepuk bahu Alfin.
"Terima kasih pak." ujar Alfin sedikit malu.
"Kalau begitu segeralah beristirahat, agar besok energi kita kembali maksimal. Masih banyak para korban yang membutuhkan uluran tangan kita."
Kemudian, satu persatu meninggalkan posko untuk beristirahat. Dan tinggalah Alfin, Kapten Risky dan Nana yang entah mengapa hanya berdiri diam.
"Saya juga sangat bangga." sayup-sayup suara percakapan Alfin dan Kapten Risky bergema di telinga Nana. Tapi Nana hanya bisa merunduk. keringat dingin mengalir di wajahnya sedangkan tangannya memeluk perutnya yang sangat sakit.
Alfin yang ditinggal sendiri karena Kapten Risky pergi, juga hendak pergi. Namun sebelum itu dia menoleh ke sampingnya dan terkejut masih ada Nana yang belum pergi.
"Nana, apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak pergi?" tanya Alfin bingung.
Namun Nana tak menjawabnya, dia malah makin membenamkan diri ke tanah. Perutnua serasa diremas kencang.
"Na? Ada apa?" tanya Alfin makin bingung terlebih melihat Nana yang seperti kesakitan. Alfin lekas mensejajarkan diri dengan Nana.
"Na, kamu sakit?" tanya Alfin khawatir. Dia menyeka keringat dingin yang mengalir deras di wajah Nana.
"Perutmu sakit?" Alfin menyadari bahwa Nana terus memegang perutnya. Nana mengangguk pelan dengan terus merintih.
buk
Lalu tiba-tiba, Nana tersungkur pelan. Dia tak sadarkan diri akibat sakit yang terus menghantamnya. Tak lama, sebuah cairan merah seperti darah turun ke sela-sela kakinya.
"Nana!!"
***
Kansha dan Alvaro tiba di kantor Ruben. Menurut rekan kerjanya, Ruben hari ini akan lembur di kantor. Jadi Kansha dan Alvaro menyusulnya kesana.
"Kansha!" panggil seseorang begitu mereka tiba di lobi.
"Kak Calvin!" balas Kansha. Mereka mendekati Calvin yang menunggunya di depan lift. Calvin adalah rekan kerja Ruben sekaligus sahabatnya.
"Dimana kak Ruben?" tanya Kansha tanpa basa-basi.
"Dia ada di ruangannya. Tapi kenapa kamu menanyakannya padaku bukan pada Ruben langsung?"
"Dia tidak bisa dihubungi jadi aku menanyakannya padamu. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya."
"Oh benarkah? Kalau begitu langsung naik saja, dia di lantai 7." kata Calvin.
"Dia tidak ada tamu bukan?" tanya Kansha memastikan.
"Tidak ada." geleng Calvin.
"Syukurlah kalau begitu. Kami duluan, terima kasih kak. Kapan-kapan aku traktir makan siang."
"Sama-sama. Kutunggu telfonmu ya."
Setelah itu, Calvin dan Kansha berpisah jalan. Calvin hendak pulang, sedangkan Kansha dan Alvaro naik ke lantai 7, tempat dimana ruangan Ruben berada. Mereka masuk ke dalam lift.
Mereka sampai di lantai 7. Mereka disambut oleh sekretaris Ruben.
"Kami ingin bertemu Pak Ruben." kata Kansha.
"Baik, tunggu sebentar." Kemudian, sekretaris itu masuk ke dalam ruangan Ruben. Tak lama, dia kembali.
"Silakan masuk." ucapnya. Kansha dan Alvaro pun masuk mengikuti sekretaris Ruben.
Di dalam, Ruben tengah fokus membaca sebuah dokumen hingga tidak menyadari bahwa Kansha dan Alvaro sudah masuk.
"Pak, mereka sudah datang." ucap sekretaris itu. Ruben pun mendongak dan matanya terbelalak ketika orang yang ingin bertemu dengannya adalah Kansha.
__ADS_1
"Kansha?" pekik Ruben. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kansha.
"Jangan mendekat." peringat Kansha. Ruben pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa kemari?" tanya Ruben. Kansha tak menjawab, dia malah melirik sekretaris Ruben. Ruben mengerti.
Kemudian, Ruben menoleh ke arah sekretarisnya, "Kamu boleh pergi."
Sekretaris itu mengangguk kemudian pamit keluar ruangan. Dan kini tinggalah mereka bertiga.
"Jadi ada apa kamu kesini? Tunggu, apa kamu sudah tidak marah padaku?" tanya Ruben penuh harap.
"Aku masih marah pada kakak." balas Kansha tegas. Ruben menghela nafas. kemudian pandangannya mengarah pada lelaki disamping Kansha. Dia baru menyadari bahwa Kansha tak datang sendiri.
"Dia siapa?" tanya Ruben melirik Alvaro.
"Kalian pernah bertemu kan, dia menonjok kakak." balas Kansha acuh dan terkesan jutek.
Ruben memejamkan matanya pelan, kemudian menghembuskan nafas, Kansha masih jutek padanya.
"Maksud kakak, dia siapanya kamu?"
"Itu tidak penting. Alasanku datang kesini untuk menanyakan sesuatu pada kakak."
"Silakan duduk dulu."
Kansha dan Alvaro pun duduk. Begitupun Ruben.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa yang terjadi pada malam itu antara kakak dan Nana?"
Ruben terkesiap. Dia menelan ludah dengan susah payah. Dia tidak menduga Kansha akan bertanya hal sefrontal itu.
"Kami..."
"Kalian bertengkar dan habis itu melakukan hal terlarang benar kan?" sela Kansha.
"Kansha, kakak..." Ruben panik. Dia berusaha menjelaskan pada Kansha karena tak ingin salah paham.
"Kansha, kakak dan.."
"Yes?" sela Kansha lagi. Tatapannya makin menyipit dan terkesan dingin.
Ruben menghembuskan nafas pelan, dan mengangguk pelan.
"Apa?" lirih Kansha tak percaya.
"Because we are just as drunk and unconscious." jawab Ruben pelan.
"DASAR BRENGSEK!" Kansha tiba-tiba merangsek maju. Dia memukuli Ruben habis-habisan. Ruben pun hanya membiarkannya saja. Dia sadar dia salah.
"Kansha, Kansha! sudah." lerai Alvaro. Dia berusaha memisahkan Kansha dari Ruben yang kini sudah tidak berdaya. Alvaro pun berhasil memisahkan mereka berdua.
"Sialan! Kakak emosi saat itu dan melampiaskannya pada Nana!" pekik Kansha terengah-engah.
"Nana yang memancing duluan. Dia bilang dia akan mempertaruhkan segalanya untuk membuktikan cintanya. Kakak menolak tapi dia terus saja memancing!" bela Ruben meringis kesakitan.
Kansha tak menjawab. Dia seketika merasa bersalah. Bagaimanapun permasalahan ini dialah penyebabnya. Andai dia tidak mengatakan pada Ruben bahwa Nana menyukainya, maka mereka tak akan bertengkar dan berujung hal yang terlarang .
"Tenangkan diri kalian. Kita kesini bukan untuk bertengkar lagi. Ada hal yang harus kami katakan padamu." ujar Alvaro mengambil alih.
Ruben menatap Alvaro dengan pandangan bertanya.
"Nana, dia sedang hamil dan sepertinya itu anakmu."
Bagai sebuah pukulan keras yang menghancurkan dinding es, Ruben terbebelak kaget.
"Kamu yakin apa yang kamu katakan? kamu tidak sedang bercanda bukan?" tanya Ruben.
"Tidak. Aku sendiri yang melihat surat hasil lab itu. Tapi Nana memang tidak memberitahukannya pada siapapun. Termasuk Kansha."
Ruben terhenyak di sandaran sofa. Dia mengusap rambutnya dengan kasar. Perasaannya bercampur aduk.
"Dimana Nana sekarang?" tanya Ruben. Alvaro tak menjawab. "Aku harus menemuinya."lanjut Ruben mengabaikan ekspresi aneh Alvaro.
"Nana tidak ada disini." jawaban Alvaro menghentikan langkah Ruben.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Nana tidak ada di Jakarta, dia sedang berada di Kalimantan Barat."
"Kalimantan? Sedang apa dia disana?"
"Nana.." Alvaro menghentikan perkataannya. Dia malah melirik Kansha.
Kansha menoleh pada Alvaro dan mengerti maksudnya.
"Nana sedang menjadi relawan dan lokasinya saat ini tengah berada di zona pasca gempa." jawab Kansha.
"Apa?" seru Ruben terkejut. "Nana sedang hamil, dan dia malah menjadi relawan gempa bumi?" lanjut Ruben dengan mata melotot.
"Kami juga tidak tahu kalau desa itu akan terjadi gempa."
"Tapi seharusnya kamu hentikan! Bagaimana bisa dia menjadi relawan sedangkan dia tengah berbadan dua?!" seru Ruben marah.
"Aku tidak tahu bahwa dia sedang hamil. Dia membohongiku soal hasil lab itu. Kenapa kamu malah marah-marah! Seharusnya aku mengutukmu karena kamu yang salah disini!" teriak Kansha emosi.
Ruben mengacak rambutnya frustasi. Dia sangat khawatir pada Nana dan keadaan calon anaknya itu.
"Aku harus menyusulnya." putus Ruben.
"Tidak. Kenapa kamu ingin menyusulnya?" cegah Kansha.
"Lalu aku harus berdiam saja begitu? Aku harus menyusulnya dan membawanya pulang."
"Tidak bisa. Aku yang akan menjemputnya pulang dan sebaiknya kamu jangan dekati Nana lagi."
"Tidak bisa. Bagaimanapun Nana sedang mengandung calon anakku, aku yang berhak menjemputnya."
"Tidak bisa. Hanya karena kamu ayahnya, bukan berarti kamu berhak. Kamu sudah menyakiti ibunya!"
"KANSHA!"
"RUBEN!"
"Cukup-cukup." lerai Alvaro. "Kansha, Ruben benar, dia yang berhak menjemput Nana pulang."
"Kenapa kamu malah membelanya? Kamu dipihak siapa sih?!" ujar Kansha kesal.
"Aku tidak memihak siapapun. Tapi dalam gal in, Ruben yang berhak. Bagaimanapun, dia adalah ayahnya. Mereka juga harus bicara baik-baik mengenai masalah mereka. Kamu tidak perlu ikut campur lagi."
"Tapi.."
Kansha hendak protes, tapi Alvaro memotongnya, "Nana dan Ruben sudah dewasa. Mereka harus menyelasaikan masalah mereka sendiri tanpa orang luar. Kamu sahabat mereka tapi kamu juga orang luar."
"Kansha, aku mohon. Izinkan aku yang menjemput Nana. Aku ingin meminta maaf padanya." mohon Ruben.
Kansha terdiam. Dia lalu mengangguk.
"Tapi, bila kudengar kakak menyakitinya lagi, siap-siap membusuk di penjara." ancam Kansha.
"Kakak berjanji!" sahut Ruben senang.
"Yasudah. Aku titip Nana. Bilang, jangan menelfonku dulu kalau tidak mau kumaki." ujar Kansha.
"Baik. Kalau begitu kakak pergi duluan. Kakak akan memesan tiket pesawat saat ini juga."
"Hati-hati." ucap Alvaro.
Ruben berhenti di depan Alvaro. Dia tersenyum penuh terima kasih.
"Terima kasih." kata Ruben menepuk pundak Alvaro.
"Sama-sama. Tolong jaga Nana dan lindungi dia dan anak kalian."
"Pasti." angguk Ruben mantap.
Ruben pun pergi. Meninggalkan Kansha dan Alvaro saja berdua.
"Kansha.." panggil Alvaro pelan. Dia tahu bahwa Kansha seperti kesal padanya.
"Jangan bicara padaku."
Usai mengatakan itu, Kansha pergi meninggalkan Alvaro begitu saja. Alvaro mendesah pelan. Jalannya mendapat maaf masih cukup panjang.
__ADS_1