My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 56.


__ADS_3

Alan sudah kembali ke Indonesia setelah satu hari di Korea Selatan sedangkan Kansha masih menetap karena banyak hal yang harus ditangani. Alan pun sedang dalam perjalanan ke rumah ketika ponselnya berdering.


Alan menekan handsfree nya kemudian suara ayahnya terdengar.


“Iya yah, aku baru sampai di Indonesia. Sekarang sedang dalam perjalanan pulang.”


“...”


“Bunda ke rumah Alfin? Kalau gitu biar Alan yang jemput.”


“...”


“Oke, yah.”


“...”


“Waalaikum salam.”


Alan mematikan sambungannya kemudian memutar arah menuju apartement Alfin.


***


Klontang


Bunda menoleh ke sumber suara ketika terdengar suara benda jatuh. Arahnya dari lemari. Bunda menaruh selimut yang tengah dilipatnya dan menghampiri lemari. Setelah di depan lemari, bunda pun membuka pintunya.


“Tidak ada benda yang jatuh. Tadi suara apa ya?” gumam bunda bingung.


Pasalnya, lemari itu kosong, tak ada benda yang tergeletak atau terjatuh sama sekali.


Bunda menelengkan kepalanya dan menghela nafas. “Sepertinya akhir-akhir ini aku kelelahan hingga selalu mendengar suara aneh.” Kata bunda. Bunda pun kembali merapikan kamar Alfin.


Di samping itu, Nana berhasil membuka ruang rahasia Alfin sedetik sebelum bunda membuka lemari. Nana menghela nafas lega. Dia memegangi jantungnya yang masih berdetak cepat. Diusapnya keringat yang mengalir di wajahnya yang cantik. Dia selamat.


Nana pun merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi Alfin.


***


Alfin baru saja selesai melakukan operasi. Dia melepas jubah operasinya dan menaruhnya di keranjang. Setelah selesai, Alfin pun berlalu ke ruangannya.


Ruangan minimalis yang berbau obat-obatan menyambutnya begitu membuka pintu. Papan nama bertuliskan dr. Alfin Adendra Sp.B berdiri tegak di meja. Alfin kemudian menghampiri laci mejanya dan mengambil ponselnya. Begitu dihidupkan, belasan telfon dari Nana menarik perhatiannya. Alfin pun menghubungi Nana kembali.


“Ha—“


Baru saja mengatakan halo, suara teriakan Nana memotong ucapannya.

__ADS_1


“Alfin! kamu tidak punya kuping?!” Alfin menjauhkan ponselnya dari telinganya, dia pengang.


“Alfin! alfin!”


Alfin mendekatkan kembali ponsel ke telinganya ketika namanya dipanggil.


“Suaramu kencang sekali. Kupingku sampai pengang. Kamu salah minum obat cacing ya?!” kata Alfin kesal.


“Dasar brengsek. Wajar bila aku meneriakimu, aku menelfonmu belasan kali tapi ponselmu mati. Harusnya sih aku menggorengmu hidup-hidup!” umpat Nana kesal.


Alfin berdecak, “Ada apa sih memangnya?” tanyanya malas.


“Pulang sekarang juga. ibumu ada apartement!”


Alfin menganga kaget, “Apa kamu bilang?”


“Kubilang, ibumu berada di apartement, jadi pulang sekarang!” ulang Nana lebih keras.


Alfin meletakkan ponselnya dan buru-buru melepas snelinya yang baru saja ia pakai. Dia mengambil ponselnya dan berlari keluar ruangan.


***


“Halo? Halo?”


Nana mengedar kesekeliling. Ruangan ini begitu tenang tapi tak jarang terasa mencekam. Ya soalnya, dia kan sendirian apalagi ini kedap suara. Teriakan pun tak akan terdengar keluar.


Nana penasaran apakah bundanya Alfin sudah pergi atau belum.


“Harusnya, dia memasang CCTV dan memonitornya disini. Aku jadi tidak tahu apakah bundanya sudah pulang atau belum.” Gumamnya.


Nana yang penasaran pun mendekat ke pintu masuk. Dia menekan beberapa digit sandi kemudian pintu terbuka. Nana kini hanya perlu menggeser papan lemari ini untuk keluar. Nana pun dengan perlahan menggesernya agar tidak menimbulkan suara. Setelah tergeser, Nana membuka celah pintu lemari sedikit. Mengintip bunda Alfin yang ternyata masih di dalam kamar. Nana menghela nafas pelan.


“Bunda.”


Brak


Suara seseorang mengagetkan Nana yang tengah mengintip dari celah. Nana menutup pintu dengan cukup keras membuat perhatian bunda teralih. Nana pun segera masuk kembali ke ruang rahasia.


“Suara apa itu? Alan kamu dengar bukan?” tanya bunda pada Alan.


Alan menatap bunda dengan tersenyum. “Oh tadi Alan yang menutup pintu lemari Alfin. Tadi sedikit terbuka takutnya ada serangga yang masuk.” Jawab Alan lembut.


Bunda mengangguk-anggukan kepalanya, “Oh begitu. Bunda kira salah dengar lagi. Akhir-akhir ini bunda sering keliru pendengaran. Kenapa ya?” gumam bunda berfikir.


Alan mendekati sang bunda, “Bunda, harus banyak istirahat. Bunda tidak perlu datang ke apartement kami untuk bersih-bersih. Aku dan Alfin bisa melakukannya sendiri.” Kata Alan sambil mengelus pundak bunda.

__ADS_1


“Bunda tidak apa-apa. Kalau bunda tidak membersihkannya, kalian bagaimana nanti? Sudah badan lelah karena terbang larut dan shift malam, ditambah apartement yang kotor dan berantakan. Istirahat anak-anak bunda tidak akan tenang.” Kata bunda.


“Lagian Alan sudah tidak sering mengambil penerbangan dini hari begitupun Alfin yang sudah jarang melakukan shift malam. Jadi bunda tidak perlu khawatir. Sudah saatnya bunda menikmati hari-hari bunda tanpa kami mencampurinya.” Kata Alan.


Bunda mendesah pelan. “Bunda bangga memiliki anak baik seperti kalian berdua. Akur-akur ya, dan terus berbuat baik.” Kata bunda mengelus rambut Alan. alan tersenyum.


“Bunda!”


Alfin sampai di apartementnya dengan nafas terengah-engah. Dia masuk ke dalam kamarnya dan tertegun melihat kakaknya juga ada.


“Alfin? kamu kenapa ngos-ngosan seperti itu?” tanya bunda bingung.


Alfin masih mengatur nafasnya. Dia memang terburu-buru datang kesini. Jadinya, dia berlari menaiki tangga sepanjang basement hingga ke lantainya. Dia bahkan lupa tidak menggunakan lift saking panik.


“Oh, Alfin tadi lupa naik lift malah naik tangga.” Katanya menyengir.


“Kamu ini ada-ada saja.” Ujar bunda menggelengkan kepalanya. “Lagian kamu kenapa pulang? Ini belum masuk makan siang malah.” Tanya bunda melirik jam tangannya.


Bibir Alfin terkatup, matanya melirik-lirik panik. Kemudian sebuah bohlam lampu bersinar di kepalanya, “Oh itu, Alfin hendak membawa dokumen yang tertinggal.” Jawabnya. Dalam hati dia meminta maaf berkali-kali karena telah berbohong.


“Begitu. Terus kamu darimana bunda tahu ada disini?” tanya Bunda lagi.


“Itu...karena...” Alfin memutar-mutar otaknya mencari jawaban. “Beberapa hari lagi, Alfin ada kunjungan relawan di pedalaman Kalimantan, jadi Alfin yakin bunda akan datang untuk bersih-bersih agar Alfin tidak repot nantinya.” Jawabnya dengan tersenyum.


Alfin lalu mendekati sang bunda dan menumpukan kepalanya di pundak bunda, “Terima kasih ya bunda.” Katanya dengan nada manja. Alan ingin muntah mendengarnya.


“Sama-sama.” Balas Bunda.


“Oh ya, bunda. Tadi ayah menghubungi Alan untuk menjemput bunda. Bunda sudah selesai?” celetuk Alan.


“Iya sudah nih. Bunda harus menemani ayah ke pernikahan temannya, jadi dia bawel harus cepat-cepat.” kata Bunda.


“Kalau begitu, ayo bunda.” Ajak Alan.


“Bunda pulang dulu ya, Nak. Bunda lupa belum buang sampah, jangan lupa dibuang ya.” Pamitnya pada Alfin. Alfin mengangguk pasti.


Alan dan Bunda pun pamit diikuti Alfin yang mengantarnya hingga ke basement.


“Hati-hati bunda,” kata Alfin tersenyum. Dalam diam, dia menghela nafas lega.


Alan menutup pintu mobil setelah bunda masuk. Namun sebelum Alan masuk ke kursi pengemudi, Alan membisikan sesuatu yang membuat adiknya itu mematung pucat.


“Mas akan kembali, kamu dan perempuan itu jangan kemana-mana.”


Hanya satu kata di fikiran, bye bye world!

__ADS_1


__ADS_2