
Nana dan Ruben berjalan beriringan menuju posko. Disana Alfin tengah duduk di sebuah bangku.
Alfin langsung bangkit begitu melihat siluet Nana dari kejauhan akan tetapi raut wajahnya sedikit tak biasa ketika lelaki asing itu mengikuti Nana dari belakang. Ekspresi Nana yang cerah seakan menjawab pertanyaan yang Alfin tidak tahu apa itu sendiri.
“Alfin.” panggil Nana begitu berada di hadapan Alfin.
“Oh, kalian sudah selesai? Mobil jeepnya sudah siap. Kalian harus segera pergi sebelum petang datang.” Kata Alfin dengan nada biasa saja.
“Alfin, aku..”
“Na, sudah ada yang menjemputmu, dan kamu harus pulang secepat mungkin.” Potong Alfin.
“Alfin, kamu tidak mau mendengarkan perkataanku?” seru Nana kesal
Alfin mendesah pelan, “Apa?” tanyanya pada akhirnya.
“Ada yang harus kubicarakan pada Alfin sebentar.” Pinta Nana menoleh pada Ruben. Ruben mengangguk. Dia pun pergi meninggalkan mereke berdua. Ruben mengerti jadinya dia mempersilakan.
“Ada apa?” tanya Alfin begitu Ruben sudah pergi.
“Soal keadaanku..aku benar-benar minta maaf.” Ucap Nana merasa bersalah. “Aku hampir menempatkanmu dalam posisi berbahaya.” Lanjutnya.
Alfin terdiam, dia sedari tadi tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jadi dia hanya bisa diam saja,
“Aku tahu kamu kecewa karena aku menyembunyikan hal sebesar ini. Kamu boleh tidak memaafkanku.” Lanjut Nana.
Alfin menghembuskan nafas pelan, “Jujur aku tidak tahu harus mengatakan apa atau bereaksi seperti apa. Ini semua begitu tiba-tiba dan sangat membingungkanku. Aku hanya merasa..aku seperti telah dibohongi.” ucap Alfin merasa frustasi.
“Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukannya tapi aku terpaksa. Ini juga berat untukku.” Timpal Nana menyesal.
Alfin kembali menghembuskan nafas pelan, dia lalu memegang kedua pundak Nana, “Na, katakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa kamu seperti ini dan apa lelaki itu yang melakukannya? Diakan yang bertengkar denganmu waktu itu hingga kamu ingin pergi ke luar negeri? Katakan, apa yang dia lakukan padamu sebenarnya?” tanya beruntun Alfin dengan penuh tekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Alfin menatap lurus-lurus pada manik Nana, mencegah Nana berbohong kembali.
“Alfin, itu kesalahan kami berdua. Aku yang memulainya.” Jawab Nana pelan.
“Jangan bohong, Na. Jelas-jelas aku lihat kamu begitu kacau saat di bandara dulu.” tukas Alfin sedikit emosi.
“Alfin, aku serius. Aku menyukainya dalam waktu lama tapi dia menyukai Kansha. Dan aku kehilangan kendali, aku ingin melakukan segala cara apapun agar dia menyukaiku, agar perasaanku bisa terbalas. Tapi semuanya menjadi di luar batas dan aku kehilangan kendali.” Timpal Nana lirih.
Alfin melepaskan tumpuannya pada bahu Nana, dia berbalik memunggungi Nana. Alfin menghembuskan nafas kasar sembari menenangkan emosinya. Setelah tenang, dia berbalik kembali menghadap Nana.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Na? Kenapa kamu lakukan itu?”
Satu air mata Nana menitik, “Ketika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan untuk waktu yang lama, kamu akan merasakan yang namanya keputusasaan. Kamu yang awalnya diam di dalam cangkang, kini harus keluar cangkang agar orang yang kamu sukai melihatmu.”
__ADS_1
“Tapi tidak melakukan hal di luar batas seperti itu, Na!”
“Aku tahu. Aku benar-benar menyesal.” Sahut Nana menunduk.
Alfin mendesah pelan, dia lalu memegang tangan kanan Nana kemudian menariknya dengan lembut dan memeluknya. Nana menegang sesaat namun kembali tenang.
“Selama ini aku acuh padamu, aku bahkan tidak tahu masalah apa yang menimpamu. Maafkan aku yang tidak peka ini.” ucap Alfin. setelah mengatakan itu, dia melepaskan pelukannya.
“Aku justru yang harus minta maaf padamu. Aku selalu saja menyebabkan masalah untukmu. Dan terimakasih sudah mau menampungku tidur di rumahmu saat itu. Terima kasih juga kamu sudah menjagaku selama aku disini dan saat aku pingsan juga.” balas Nana penuh terima kasih.
“Sama-sama. Tidak perlu sungkan. Anggap saja itu budi baik seorang pria tampan sepertiku.”
Nana berdecih dengan senyum kecil yang terbit. Kenarsisan pria ini masih saja tertinggal rupanya. Tapi berkat candaan itu, Nana menjadi rileks tak seperti tadi.
“Kamu sudah menyelesaikan masalahmu dengannya kan?” tanya Alfin kembali serius. Nana mengangguk.
“Syukurlah.”
“Kamu benar-benar sudah memaafkanku kan?” tanya Nana sekali lagi.
“Sudah, jadi jangan bertanya lagi.” Balas Alfin acuh. “Dan juga, Na. Jangan pergi ke luar negeri lagi dengan memakai sandal jepit dan kaus oblong. Karena aku tidak tahu siapa yang akan menampungmu lagi saat itu terjadi.” lanjutnya.
“Ada kamu kan. Kamu akan menampungku kembali.” sahut Nana santai.
Alfin berdecih, “Siapa kamu hingga aku harus melakukan itu? kamu sudah punya penjaga sendiri. Hidup baik lah dengannya dan jangan buat onar kembali. Kalau ada masalah, selesaikan dengan baik, jangan kabur-kaburan lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Habisnya kamu menasihatiku seperti orang benar saja. Tapi aku lega setidaknya kamu memang masih Alfin, cara bicaramu masih sama pedasnya dari yang kukenal dulu.” katanya terkekeh.
Alfin memutar bola matanya, dia malas menanggapi candaan Nana.
“Ayo, kuantar kamu kedepan. Dia juga pasti sudah lama menunggu.” Ajak Alfin.
Alfin dan Nana lalu mulai berjalan. Dan ketika mereka melihat punggung Ruben dari kejauhan, Alfin mengehentikan langkahnya yang memmbuat Nana juga ikut berhenti.
“Ada apa?” tanya Nana bingung sambil menoleh pada Alfin.
“Begitu kita sampai kesana nanti, kamu harus segera membawanya pergi.” Kata Alfin dengan nada serius dengan matanya yang menatap lurus ke depan.
“Kenapa?”
“Kamu harus melakukan itu atau kalau tidak—“
__ADS_1
“Kalau tidak kenapa?”
“Atau kalau tidak, aku tidak tahu di pipi mana tangan ini akan mendarat.” Tukas Alfin menatap tangan kanannya yang terkepal sempurna.
Nana terkekeh mendengarnya, “Baiklah, baiklah. Aku mengerti.” Ucap Nana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi, Fin, kalau difikir-fikir lagi, aku tiga tahun diatasmu. Tapi kenapa kamu terus memanggil namaku dengan tidak sopan?” celetuk Nana.
“Kamu bukan kakakku, jadi aku tidak perlu berbicara formal padamu.” Balas Alfin acuh.
“Aku tetap tiga tahun lebih tua ya!” seru Nana memukul lengan Alfin.
“Tapi kamu kekanak-kanakkan.” Timpal Alfin.
“Apa?” Nana melotot.
“Usia bukanlah segalanya. Itu tidak bisa menjadi penentu kamu dewasa atau tidak. Dan kamu juga tidak terlalu dewasa jadi terima saja.”
Nana mencebik, dia lalu menendang tulang kering Alfin. Alfin mengaduh kesakitan.
“Hei, ini sakit tau!” ringisnya sambil memegangi tulang keringnya yang berdenyut sakit.
“Rasakan, wlee. Emang enak!” ejek Nana.
“Ini nih yang membuat aku tidak perlu memanggilmu dengan sebutan kakak. Sikapmu sungguh kekanak-kanakan.” Gerutu Alfin. Nana terkekeh dan tak peduli. Dia berjalan mendahului Alfin.
***
Alfin dan Nana tiba di gerbang masuk desa. Disana sudah ada Ruben yang sedang menunggu di samping jeep. Ruben langsung berdiri begitu Nana sampai dihadapannya.
“Ayo pergi.” Ajak Nana. Ruben mengangguk. Namun sebelum itu, Ruben menengok ke arah Alfin terlebih dahulu.
“Terima kasih sudah menjaga Nana selama ini.” ucap Ruben pada Alfin.
“Sama-sama. Dia tanggung jawab saya selama disini. Dan akan menjadi tanggung jawabmu mulai sekarang. Saya sudah dengar semuanya dan tolong jaga Nana baik-baik. Dia sudah seperti keluarga bagi saya. Dan kalau ada masalah, jangan membuka pintu rumah, atau kalau tidak Nana akan kabur ke bandara hanya dengan memakai sendal jepit saja.” Pesan Alfin yang kalimat terakhirnya di balas tendangan pelan dari Nana.
“Aw! Sakit.” Ucap Alfin dengan nada datar(?)
Ruben mengangguk pasti, “Saya tahu, terima kasih.”
“Kalau begitu, kami pergi dulu.” pamit Nana langsung mengambil alih pembicaraan.
“Hati-hati di jalan.” Balas Alfin.
__ADS_1
“Kamu juga, semangat! Cepat pulang ke Jakarta ya!” balas Nana.
Alfin mengangguk. Nana pun balas tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil diikuti Ruben. Tak lama, mesin dinyalakan, dan mobil yang membawa Ruben dan Nana mulai melaju meninggalkan desa. Dan Alfin menatap mereka hingga menghilang dari pandangannya.