
Sesuai dugaan Elang, Gea segera berpamitan dengan wajah terlihat sungkan saat Elang mengentuk pintu kamar Mitha. Padahal mereka berdua sedang seru-serunya nonton drakor favorit sambil terus berimajinasi, tertawa-tawa lucu dan menciptakan me time sendiri. Melihatnya, Elang langsung mengerling lucu ke arah Bian yang langsung cemberut. Bagaimana tidak, bos dan sekretaris itu sedang taruhan. Siapa yang kalah dia yang akan menjadi sopir antar jemput selama seminggu. Sebenarnya bukan masalah besar bagi Bian karena bagaimanapun dia tetap bawahan. Kalah atau menaang dia akan tetap jadi sekretaris merangkap asisten yang tentu saja dengan nomilan gaji yang besar. Tapi bukannya lucu dan seru jika dia yang menang? dia jadi bisa merasakan mengerjai bos labilnya termasuk menyuruh mangantar sana sini karena menang taruhan. Dan semua itu karena...Gea!
Ya, Gea. Dia yang awalnya sangat percaya jika Mitha akan lebih memilih sahabatnya itu dari pada suaminya menjadi bomerang baginya. Ternyata Mitha malah heppi-heppi saja saat sahabatnya pamitan pulang. Bukannya menahan atau merengek agar dia tinggal seperti biasa. Dasar wanita...semuanya spesies menyebalkan.
"Bi..jangan lupa antar Gea pulang." pesan Elang dengan nada menggoda. Tentu saja Bian mengeram kesal karenanya. Siapa yang tidak tau jika mereka berdua kerap kali bermusuhan. Bian yang tegas dan tak ingin dibantah versus Gea yang tomboy, selengekan juga susah diatur. Jangan lupakan jika mereka berantem...jurus kungfu mak Rompang bisa keluar semua dari kitabnya.
"Dia bisa pulang sendiri." balas Bian kesal. Ekor matanya melirik sadis pada Gea yang masih terlihat gugup di depan mereka.
"Lho Bi...Gea kan anak gadis, pulang malam tak baik untuknya. Kalau ada apa-apa juga kita yang repot. Bukannya dia pamitnya kerja sama kita?" ingat Elang masih dengan candaannya.
"Dia gadis atau janda mana tau kita bos? KTPnya doang yang gadis, entah dalemannya."
"Jaga ya omongan pak Bian. Saya nggak terima lho diginiin!!" sentak Gea dengan wajah marah. Terang saja dia marah, seumur-umur dia tidak pernah pacaran, masih tersegel, 100% virgin. Lalu sekarang seenak perutnya Bian meroasting statusnya. Untung tidak ada orang lain..kalau ada...bisa sukar cari pendamping hidup dirinya yang baik hati dan tidak sombong itu. Dasar Bian stres.
"Kok kamu marah? memangnya kamu masih virin beneran?
"Pak Bian, saya bisa laporkan bapak ya atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran nama baik dan menyebarkan berita hoax dan menyerang kehormatan saya." ujar Gea sambil terengah menahan amarah. Tentu saja Elang dibuat tersenyum lebar karenanya. Kapan lagi dia bisa membuat orang seperti Bian bertengkar dengan seorang wanita?
"Sudah?" tanya Bian datar.
__ADS_1
"Belum!!" sentak Gea yang masih diliputi amarah.
"Kalau begitu lanjutkan. Aku ini pendengar setia kok." lanjutnya tanpa perasaan berdosa yang mau tak mau membuat Gea makin kesal dan memilih pergi secepatnya dari sana. Mau tak mau Bian segera menyusulnya dan setengah berteriak memanggil namanya. Tapi sayangnya Gea yang sudah terlanjur marah memilih mengabaikannya.
"Mas, kenapa.sih ngomporin mereka!" protes Mitha sengit. Melihat suaminya sejak tadi senyum-senyum sendiri membuatnya amat penasaran. Sejenak Elang memfokuskan pandangannya pada Mitha yang membuang pandangannya keluar rumah.
"Bian butuh itu agar hidupnya tidak monoton. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan." kata Elang, menarik tangan Mitha ke kamarnya. Mau tak mau wanita muda itu menyetujuinya juga menurut saja saat lelakinya itu menuntun dan mendudukkannya di sofa kamar.
"Mau bicara apa mas?" tanya Mitha memecah suasana hening keduanya. Belum lagi tatapan mata Elang yang membuatnya salah tingkah.
"Kenapa kau begitu tergesa? apa tidak bisa kita bicara santai berdua?" Hampir saja Mitha memekik kaget saat dengan sikap tenangnya, Elang malah mengambil posisi berbaring dipangkuannya. Wajah tampannya mendongak menatap wajah ayu di atasnya intens.
"Hmmm...bisa tidak mas Elang duduk saja? aku merasa risih." Tentu saja risih, dia selalu salah tingkah jika dekat dengan lawan jenisnya, apalagi di posisi intim seperti sekarang.
"Trus apa yang mau mas Elang bicarakan?" tanya Mitha berubah kesal.
"Aku ingin kamu pergi ke kantor bersamaku, setiap harinya."
"Apa? mas, bukannya dari awal aku sudah bilang jika aku ingin jadi ibu rumah tangga biasa saja? Aku ingin menghabiskan banyak waktuku dirumah, masak, bersih-bersih, berkebun, mengurus anak...."
__ADS_1
"Sssttt...kau akan bosan nantinya. Bukannya kau sudah janji akan mengurus perusahaan bersama-sama? Ya kita bahu-mambahu dong..masak aku yang kerja sendirian sedangkan kamu dirumah saja?" protes Elang lirih.
"Kan ada kak Bian dan Gea yang akan membantu mas Elang?"
"Trus yang nyemangatin aku siapa?" kali ini sang pria memasang wajah innocence andalannya yang seolah memabuat Mitha jadi terbahak karenanya. Bagaiman tidak, pria awal tiga puluhan itu terlihat jadi lucu dan menggemaskan. Hilang sudah wajah es dan datarnya, belum lagi aksinya mencium jemari Mitha yang sudah digenggamnya dari awal, lembut. Hati Mitha trenyuh.
"Hmmm baiklah." putusnya cepat. Moment seperti ini akan membuat kesehatan jantungnya bermasalah jika diteruskan. Tangan besar Elang mengelus pipinya. Sebuah senyum bahagia terukir sempurna di bibir padatnya.
"Ehmmm...udahkan mas?"
"Belum."
"Belum? Terus apalagi yang mau dibicarakan sih mas? aku mau kembali ke kamarku."
"Tidak boleh." pungkas Elang cepat.
"Tapi aku mau tidur mas, capek." Benar, saat ini Mitha benar-benar capek dan butuh istirahat. Perjalanan panjang dan acara tahlilan itu sedikit banyak sudah menguras tenaganya.
"Kalai begitu ayo tidur." dan gerakan tiba-tiba Elang sudah membuat Mitha memekik kaget. Pria itu bahkan sudah menggendongnya ke ranjang dan meletakkannya secara berlahan disana. Belum sempat bergerak, Elang malah sudaha berbaring dengan cepat, menarik selimut lalu memelukanya erat.
__ADS_1
" Kita belum bersih-bersih mas." bisik Mitha, tapi Elang tetap dalam posisinya hingga membuat Mitha jengah.
"Besok saja. Aku ingin begini dulu."