Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Udin


__ADS_3

........Brak.......!!!!


Bian melotot tajam kala gadis tinggi semampai itu membanting tubuhnya kuat ke lantai. Untung saja dia pemilik sabuk hitam karate hingga bisa segera bangkit saat itu. Tapi sebagai lelaki, dia dibuat terkrjut oleh tenaga seorang wanita yang terlihat biasa saja. Tidak ada kekar-kekarnya, apalagi otot yang menonjol seperti dirinya. Rahang Bian dibuat mengeras karenanya.


"Maafkan saya pak." sialan, umpat Bian dalam hati. Saat beginipun gadis ini masih sempat minta maaf.


"Pasang kuda-kudamu!"


"Maaf pak...."


"Kubilang pasang kuda-kudamu. Aku akan mulai menyerang."


"Saya tidak perlu kuda-kuda pak." balas Gea bersikeras. Bian mendengus kesal. Pria itu bergegas memulai serangan. Gea hanya berusaha menangkis dan bergerak menjauh. Bibir sekretris tampan itu mengrenyit saat lengannya berbenturan dengan lengan Gea. Terasa seperti ada besi disana. Padahal dia tau pasti Gea tak mengenakan apa-apa karena memakai kemeja sebatas siku saja.Tapi bukan Bian namanya jika tak mendapatkan keinginannya. Dia mulai mengarahkan gadis itu ke tembok hingga tak ada pilihan lagi untuknya selain membalas serangannya. Gadis itupun menyerang Bian dengan gerakan cepat, namun Bian bisa mengatasinya. Gea terus menyerang hingga Bianlah yang gantian terpojok ke pintu, gadis itu dengan amat gesit mengarahkan kakinya ke leher Bian yang bahkan belum sempat membalas.


"Apa ini sudah selesai pak?" ucap Gea menatap lurus Bian yang bersandar di pintu. Pria itu tersenyum kecut.


"Perkumpulan apa?" tanya singkat. Gea tak berniat melepaskan kakinya dari leher Bian karena pria itu masih belum berkata training itu usai.


"Saya tak ikut perkumpulan."


"Pak apa ini sudah cukup? Ulang Gea lagi. Posisi ini sangat tidak sopan baginya, tapi Bian terlihat biasa saja.


"Belum." balas Bian tegas seraya memegang kaki kanan Gea dan memutarnya. Gea yang terkejut terpaksa mengikuti gerakan putaran itu dengan melompat berulang kali hingga tergeletak di meja besar Bian yang harusnya dia lompati juga. Tapi posisinya tidak memungkinkan untuk itu.


"Jawab aku..kau ikut perguruan apa?" Gea yang belum sempat berdiri sudah ditahan oleh Bian dengan tangan kanannya. Gadis itu meneguk ludahnya.

__ADS_1


"Saya...saya hanya belajar otodidak pak."


"Kau mencoba membohongiku? mau kuhilangkan tenaga dalammu?" ancam Bian sambil tersenyum miring.


"Sa...saya tidak bohong pak." Bian menyeringai. Tangan kirinya melepas dasindi lehernya cepat, membuka kancing kemejanya hingga dada bidangnya terbuka lebar.


"Pa...paakk...hentikaann!!" Teriak Gea panik. Tak panik bagaimana? dia gadis perawan yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan lawan jenisnya. Apalagi Bian terlihat santai saja saat mempreteli pakaiannnya. Ruangan itu juga tertutup, akan sangat sulit baginya melepaskan diri dari Bian.


"Katakan!" paksa Bian lagi. Bibir Gea bergetar.


"Astaghfirullaahh...!!!!" pekikan tertahan seorang OB yang membawa dua cangkir teh seketika membuat Bian melepaskan cengkeramannya di leher Gea. Sekretaris tampan itu mengancingkan kembali kemejanya dan berpaling ke pintu.


"Maaf pak, tadi..saya...saya sudah mengetuk pintu." tutur sang OB salah tingkah. Tapi rasa takut lebih mendominasi perasaannya kali ini. Bian memang terkenal super tegas pada bawahan. Apalagi orang kepercayaan Elang itu menatapnya tajam.


"Letakkan disitu." perintahnya namun membuat sang OB segera mengerjakannya.


"I...iya pak..." sungguh lutut Udin gemetaran sekarang. Takut dipecat. Sedang sebulan lagi istrinya akan melahirkan. Bian berputar ke belakang mejannya membuka laci dan mengeluarkan amplop panjang berwarna coklat. Wajah udin pias, demikian pula Gea yang berdiri di dekatnya. Gadis itu dibuat takut juga saat melihat ekspresi datar Bian.


"Ini untukmu."


"Apa artinya saya dipecat pak?? Ya Allah pak..maafkan saya, jangan pecat saya pak. Saya sangat butuh pekerjaan. Tolong pak, saya janji akan tutup mulut." kata Udin ketakutan. Sungguh Gea amat iba karenanya.


"Ya, kau dipecat!" tubuh Udin lemas. Matanya berkaca. Bagaimana dia bisa membiayai calon anaknya dengan hidup sebagai pengangguran? Apa tanggapan mertuanya yang dari awal tak setuju dengan pernikahannya? dia pasti akan dicap sebagai menantu buruk yang tak bisa menghidupi anak istrinya. Gajinya sebagai office boy memang tak banyak, tapi dia bangga sudah punya pekerjaan hingga tak jadi gunjingan. Dia juga bisa mengontrak rumah kecil dan hidup sederhana bersama istrinya yang membuka jahitan dirumah. Tapi sekarang? impian itu musnah. Dia dipecat. Siapa yang akan lekas menerimanya bekerja dengan ijasah SMA?


"Kau katakan pada yang lainpun aku tak keberatan Din. Katakan saja!"

__ADS_1


"Tidak pak, saya tidak berani."


"Ambil!!" kata Bian tegas. Udin menundukkan kepalanya. Tangannya bergetar kala menyentuh amplop itu dan meraihnya dari meja.


"Terimakasih dan maafkan kelalaian saya pak." Bian menatap iba pada Udin yang terlihat putus asa.


"Itu rejeki calon anakmu. Mulai besok kau bekerja untuk istri tuan Elang." Udin yang menundukkan wajahnya seketika mengangkatnya. Semburat kebahagiaan menyeruak diwajah piasnya.


"Sa...saya pak?" tanyanya tidak percaya. Bian mengangguk.


"Jarak rumahmu dengan tuan Elang hanya beberapa puluh meter bukan? Kau bisa menghemat ongkos bensin."


"Ta...tapi apa...apa yang bisa saya kerjakan untuk nyonya pak?"


"Kau mantan sopir angkotkan?" Udin mengangguk penuh semangat.


"Punya SIM?"


"punya pak."


"Bagus. Besok kau resmi jadi sopir nyonya."


"Alhamdulilaah...terimakasih pak."


'Hmmm...sekarang kau boleh pulang, nikmati waktumu bersama istrimu dirumah. Ingat, datanglah sebelum jam 7 dikediaman Abimana." perintah Bian tegas.

__ADS_1


"Baik pak, sekali lagi terimakasih...saya permisi pak, bu..." Bian tersenyum. Tinggal Gea yang menatap aneh padanya.


"Kenapa kau melihatku? jangan bilang kau jatuh cinta pada ketampanan dan kebaikanku."


__ADS_2