
"Kau sudah kembali?" Serempak semua orang menatap ke arah pintu saat Bian menyapa seseorang yang baru masuk kesana dengan wajah lelah dan fisik yang terlihat lemah. Andra datang dengan jaket tersampir di lengannya dan langsung mendekati brankar, tak menghiraukan sapaan Bian dan melewatinya begitu saja. Tak ada yang tersinggung, mereka semua tau beban berat yang berada dipundak sang pemuda pewaris Permana grup itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lembut pada Zahra, mengenggam jemarinya lembut dan mengusapnya berlahan.
"Ya." jawab Zahra pendek.
"Kau dari mana Ndra?" lanjut sang wanita dengan nada ragu yang meraja. Wajah kuyu di depannya itu seolah memaksanya ingin tau.
"Menjebloskan orang yang menjahatimu ke penjara." balas Andra berapi. Tampak sekali kemarahan di bola matanya yang berkilat.
"Ndra..."
"Sstttt...diamlah Ra, kita akan menghadapinya bersama." Bolehkah jika semua orang dibuat terpesona oleh perkataan lembut sang tuan muda kaya raya? jangankan Mitha, Gea saja harus dibuat baper oleh ulah sahabatnya itu. Tak biasanya Andra yang dia kenal suka bercanda dan cool terlihat amat galant hari itu.
"Tapi aku..."
"Kita akan menikah." putus Andra memutus keraguan dalam diri Zahra.
"Hari ini juga kita akan menikah. Aku akan memanggil penghulu sekaligus untuk menjadi wali nikahmu." Yang ada disana mendelikkan matanya begitu Andra mengatakan keinginanya, terutama Bian. Gigi sekretatis tampan itu hingga gemletuk menahan marah.
__ADS_1
"Kenapa pakai wali hakim? Kau ingin mematikan kami hemmm??" Andra yang tak siap sontak berusaha melepaskan diri begitu Bian hendak mencengkerem krah kemeja bahannya.
"Apa maksudnya?" tanya Andra tak mengerti. Bagaimana dia bisa menang melawan Bian yang berpostur tinggi tegap jika dalam posisi terdesak seperti sekarang? Terang saja Bian bukan lawan yang tepat untuknya yang memang tak dibekali ilmu bela diri sedikitpun.
"Lepaskan Bi!" Seru Elang tegas. Bian menoleh sekilas pada sang bos yang memasang wajah tegangnya. Berlahan dia melepaskan cengkeramannya lalu mundur selangkah.
"Tuan Andra..."
"Jangan sungkan, panggil namaku saja kak." Andra yang berusia lebih muda tentu saja dibuat tak nyaman dengan bahasa resmi diluar konteks kerja oleh suami Mitha itu. Hal yang berbanding terbalik dengan Elang yang memang sudah terbiasa bersikap formal. Mau tak mau Elang setuju, mengingat Andra sudah lebih dulu memanggilnya kakak.
"Ehmm baiklah. Begini Ndra, Bian dan Leo ini kakaknya Zahra. Jika kau ingin menikahi adiknya maka bicaralah baik-baik pada mereka mumpung mereka masih disini." Jelas Elang singkat. Andra menatap dua kakak beradik yang dikatakan Elang tadi nanar.
"Panjang ceritanya. Nanti akan kami ceritakan jika ada waktu lebih tuan muda Reynaldi. Benar bukan? Bagus Renaldi adalah nama ayah kandungmu?" Andra mengangguk mengiyakan. Permana grup adalah nama baru yang diberikan ayah tirinya begitu bisa menikahi ibunya dan menguasai Reynaldi grup.
"Mungkin ini saat yang tepat untuk mengembalikan nama awal perusahaan kami." lirih Andra. Tentu saja dia wajib melakukannya. Setelah menjebloskan papa tirinya ke penjara, perusahaan itu tentu akan berada dalam masalah karena tak punya pimpinan. Dia adalah anak satu-satunya dan punya hak mutlak menggantikan kepemimpinan itu. Tentu dengan jalan yang tak mudah.
"Itu lebih baik." timpal Elang yang amat tau kebobrokan Permana grup dalam bekerja dan mengerjakan sebuat tender.
"Tapi yang ingin kubahas adalah pernikahan kak." Bian memutar bola matanya malas. Pun Leo yang lebih memilih diam seperti Zahra, Mitha dan Gea.
__ADS_1
"Adik kami sedang mengandung. Pernikahan kalian akan tetap tidak sah secara agama. Kalian bisa menikah setelah bayi itu lahir." putus Leo setelah Bian memberikan isyarat padanya untuk menjawab.
"Kak, bayi ini akan tak punya status saat lahir nanti. Itu akan membuat aib baginya hingga dewasa nantinya. Tak apa jika dia laki-laki, tapi bagaimana jika dia wanita?" Andra langsung terlihat panik mendengar jawaban Leo.
"Kau tetap tak bisa jadi wali nikahnya karena tak punya nasab dengannya tuan muda Reynaldi." tegas Leo lagi. Tapi Andra tak ingin menyerah.
"Tak apa jika aku tak bisa jadi wali nikahnya, tapi status bayi dalam perut Zahra harus diselamatkan. Biarkan kami menikah secara hukum dulu. Begitu bayi ini lahir, kami akan menikah secara agama lagi."
"Itu tetap saja tidak sah!"
"Lee, jangan mempersulit hal yang mudah. Andra benar. Masa depan bayi itu lebih penting. Akan berat bagi Zahra untuk hamil dan melahirkan anak itu sendirian." Andra menatap Elang yang sudah berdiri membelanya penuh rasa terimakasih.
"Yang harus kita tanyai sekarang adalah Zahra. Apa dia mau menikah dengan Andra atau tidak. Jika kau bicara soal hukum Tuhan, kurasa itu bukan hal yang harus diperdebatkan. Ajaran agama kita itu adalah rahmat untuk alam semesta. Allah itu maha pengampun Le, jangan menghalangi niat baik seseorang." lanjut Elang tak kalah berapi. Leo berdehem keras, manata hatinya.
"Aku hanya takut Zahra...dia akan memperlakukan adik kami dengan tak baik Lang, apalagi bayi itu bukan anaknya."
"Mereka bersahabat sejak lama Le, tentunya mereka cukup kenal satu sama lain. Biarkan Zahra yang memutuskan nasibnya sekarang. Kita hanya wajib menghormati keputusannya." dan baik Leo ataupun Bian sama-sama diam menelaah kata-kata Elang.
"Si bos ada benarnya kak. Kita tak berhak mengatur kehidupan Zahra." putus Bian setelah cukup lama terdiam. Mendengarnya Andra segera berbalik menghampiri ranjang perawatan dimana Zahra berbaring.
__ADS_1
"Ra....maukah kau menikah denganku?" Zahra yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan panjang itu tertegun. Lihatlah sahabat baiknya itu...pria itu bahkan sudah bertanya dengan amat lembut dengan mata penuh harap padanya. Bibir Zahra kelu.