
Gelak tawa masih mewarnai ruang tamu saat Mitha kembali ke rumah. Berlahan dia mendekati pintu masuk dan mengucapkan salam. Matanya nanar saat melihat suaminya tersenyum duduk di sofa yang sama dengan Sindy dan tersenyum lebar. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Mith, sini bentar deh." panggil Sindy. Mau tak mau Mith mendekat walau hantinya amat enggan. Sesore ini tapi wanita itu malah mengikuti Elang pulang ke rumah. Sia-sia tadi dia menghabiskan waktu diluar untuk menghindari mereka. Nyatanya waktu dia pulang, hama penganggu itu malah duduk manis dikediaman Abimana.
"Ada apa ya kak?" tangan Sindy mengambil paperbag disampingnya, lalu menyerahkannya pada Mitha.
"Ini hadiah kelulusan kamu. Dipakai ya untuk acara wisuda nanti. Kami udah milih lama lho.."
"Makasih kak, permisi..saya naik dulu." ucap Mitha dengan wajah datar. Rasa sakit itu kembali menelusup dirongga dadanya. Mereka begitu dekat hingga sama sekali tak menganggap posisinya di rumah ini. Mitha seolah menjadi duri dalam hubungan mereka. Dia juga seoalah menjelma menjadi sosok antagonis yang memisahkan dua orang yang saling mencintai.
"Mau kemana sih? ada yang mau kakak bicarakan denganmu." cegah Elang. Lagi-lagi Mitha urung kembali ke kamar. Dia berbalik dan menatap Elang.
"Ada apa kak?" kalimat itu kembali berulang.
__ADS_1
"Mulai besok Sindy akan kerja dikantor jadi sekretaris kakak." hati Mitha kembali mencelos sedih. Bekerja dikantornya? bukannya itu malah bisa membuat mereka dekat karena terus terhubung soal pekerjaan.
"Lalu kak Bian?" yang Mitha tau Bian adalah sekretaris papa mereka. Pria muda itu juga diserahi tanggung jawab yang sama dengan Elang yang menjadi CEO pengganti selama Abi diluar negeri. Bagaimana bisa kedudukannya digantikan Sindy? Elang tak punya kekuasaan untuk itu.
"Bian akan tetap diperusahaan papa."
"Lalu kak sindy kerja diperusahaan mana?" buru Mitha dengan kening mengerut.
"Bukan diperusahaan, tapi kantor pusat mama yang masih kakak urus. Kita tidak bisa membiarkan usaha kuliner mama terbengkalai Mith. Harus ada yang mengelola dikantor pusat. Kakak rasa Sindy adalah orang yang tepat." jelas Elang panjang lebar. Tiba-tiba ego Mitha tersentil.
"Tapi kau tetap perlu bimbingan orang yang profesional seperti Sindi Mith." kata Elang bersikeras.
"Kurasa itu tidak perlu kak. Aku bisa sendiri dan akan memilih aekretrisku sendiri. Tolong besok kakak siapka berkas-berkasnya. Mulai besok aku akan mulai bekerja di kantor mama." tegas Mitha lalu pergi dari sana. Cukup sudah Elang mengatur hidupnya, tapi tidak masa depannya. Dia bisa belajar dari Bian atau yang lain..tapi bukan Sindy
__ADS_1
Mitha berlahan masuk ke kamarnya. Melihat kedekatan mereka, kebahagiaan dan tawa keduanya sudah membuatnya cemburu. Diletakkannya paperbag itu asal lalu memilih mengurung diri di kamar mandi lalu berendam agar pikirannya kembali fresh. Tak lupa sebuah handset sudah terpasang mesra menutup indera pendengarannya. Gadis itu tertidur dalam lelah. Hari bahagia yang dinantikannya sudah berubah menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya.
Suara gedoran kuat dipintupun sama sekali tak membuat Mitha bergeming. Sungguh, dia tak mendengar apapun.
Ceklek......
Pintu kamar mandi terbuka dengan Elang yang melangkah menuju bathup. Tangan kekarnya melepas handset ditelinga Mitha pelan, membuat sang empunya benda terbangun dan melotot horor menatapnya. Bagaimana tidak? gadis itu masih dalam keadaan telanjang di dalam bathup. Untung saja ada busa lumayan banyak yang menutupi tubuh polosnya.
"Kakak...keluarr!!" hardik Mitha keras.Tapi Elang tak bergeming. Pria itu malah menatapnya intens.
"kenapa aku harus keluar? Ini kamarku..kau juga istriku. Sudah sewajarnya jika aku melihatmu mandi."
"Dasar tidak tau malu!" hardik Mitha lagi. Perasaan dongkol masih menguasai hatinya.
__ADS_1
"Kenapa mesti malu? aku pakai baju." balas Elang, membuat Mitha makin meradang. Tangannya terkepal kuat dan tanpa disadari tangan kanannya refleks menyambar handuk diatas kepalanya dan berdiri dengan tubuh penuh busa.
"Baik..aku yang akan pergi!!"