
Elang yang seharian ini mengajarinya bagimana bersikap di depan karyawan, para staf dan meneliti tiap arsip yang ada. Pria itu bahkan membawanya memperkenalkan diri secara resmi di depan publik sebagai pengganti mama Maria. Mitha sempat heran akan keberadaan Elang dikantor mamanya. Dia baru beberapa bulan pulang ke Indonesia dan menggantikan papanya, tapi dia begitu dikenal dan dihormati semua karyawan S&M tanpa kecuali. Seharian ini hanya kekaguman saja yang ada didalam benak Mitha.
"Sekarang duduklah di kursimu." Elang berdiri dari kursi sang mama dan menyerahkannya pada Mitha yang tampak rikuh karenanya.
"Mulai sekarang kau harus percaya diri. Jangan tunjukkan pada siapapun jika kau orang baru di dunia bisnis. Berikan kesan jika kau sangat tau seluk beluk bisnismu. Diamlah jika kau belum tau dan segera tanyakan padaku." Mitha mengangguk samar.
"Kakak mau kemana?" masih saja tak pede meski hanya berdua saja diruangan tertutup itu.
"Mengerjakan tugasku disana." tunjuk Elang pada sofa nyaman di sudut ruangan. Mungkin disana dia lebih leluasa membongkar tiap laporan yang sudah masuk ke emailnya.
"ehmmm..maukah kakak tetap disini? disisiku?" tanya Mitha ragu. Ingin rasanya Elang mencubit pipi mulus yang digembungkan pemiliknya penuh harap dengan pupy eyesnya.
"hmmmmm." Elang hanya bergumam dan kembali menjatuhkan bokongnya dikursi yang barusan di duduki Mitha. Dia mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Wajah serius sang pria langsung menarik perhatian wanitanya.
"Paramitha mulailah belajar. Kau tidak akan mendapat apa-apa dengan menatap wajahku. Aku memang amat tampan, dan kau beruntung bisa menikah denganku." sindir Elang tajam. Mitha sampai bergidik ngeri karenanya. Dia sama sekali tak melihat Elang menatapnya, melirikpun tidak. Tapi bagaimana bisa pria itu tau jika dia memperhatikannya?
"Bisakah kakak mengajariku lagi?"
"Aku disini juga untuk mengajarimu."
"Ehmm...maksudku..."
"Tanyakan apa yang ingin kau tau." seperti mendapat angin segar, Mitha segera membuka beberapa lembar berkas dihadapan Elang. Pria itu menarik nafas panjang, bagaimana bisa mengerjakan tugasnya jika istri ngemesinnya itu terus saja berulah? Sabar...sabar...sabar....
"Perhatikan!" lalu sosok tampan penuh wibawa itu mulai menjelaskan satu persatu kembali dengan cara smart dan sederhana hingga Mitha paham. Barus dia melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Setengah hari berlalu begitu cepat. Waktu istirahat sudah mulai. Elang menutup laptopnya lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Senyum tipis terkembang di bibirnya kala melihat istri cantiknya masih menekuni pekerjaannya.
"Istirahatlah dulu." tanpa permisi, tangan kekar itu membelai rambut panjang Mitha yang dibuat tersentak karenanya.
"Ba..baik kak." sahutnya gugup.
"Kakak mau makan atau minum apa?" tanyanya masih terbata. Elang tertawa ringan, membuat Mitha kembali terpesona. Setelah sepuluh tahun..baru sekarang dia melihat Elang tertawa. Wajah itu...wajah kaku itu begitu tampan dimatanya.
"Kau bukan lagi pelayan kafe nyonya Abimana. Kau pemilik S&M sekarang, jadi jangan membuatku geli dengan pertanyaanmu." kekeh elang lagi.
"Andai jadi pelayan bisa membuatmu tertawa setiap hari, maka aku rela tak menjadi apapun ditempat ini." lirih Mitha seperti masih dalam alam bawah sadarnya. Kali ini Elangpun dibuat terhenyak karenanya.
"Kau terlalu melow."
"Karena aku terlalu mengagumimu." Mitha sontak menutup bibirnya. Sungguh dia kelepasan bicara tadi.
"Kak...."
"Euhmm.."
"Apa aku boleh menjadikan Gea asisten pribadiku?"
"Gea?? temanmu yang kemarin?" Elang menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wanitanya yang kembali terlihat salah tingkah.
"Ya."
__ADS_1
"Kenapa harus dia?"
"Karena dia...dia sahabatku kak. Dia juga sangat mengenalku, bukannya tugas asisten adalah....."
"Apa dia punya pengalaman?" tanya Elang dengan tangan dilipat ke dada.
"Tidak. Dia hanya kerja di kafe bersamaku, juga mengajar TK selepasnya. Tapi jika kakak tidak setuju, aku tidak akan memaksa." cicit Mitha amat pelan. Besar harapan dalam dirinya agar Elang menyetujui permintaannya.
"Apa kau nyaman bersamanya?"
"Dia sahabatku kak, tolong biarkan aku belajar bersamanya. Selama ini dia juga yang melindungiku."
"Melindungi?"
"Dia jago beladiri. Aku merasa aman bersama dia dan Zahra."
"Baiklah. Panggil dia agar segera masuk. Bian yang akan mengajarinya langsung dalam seminggu kedepan."
"Beneran kak?" Mitha refleks memeluk tubuh Elang dengan erat. Berkali-kali ucapan terimakasih keluar dari bibir mungilnya.
"Tapi semua itu tidak gratis Mitha." Mendongakkan kepala adalah hal pertama yang dilakukan Mitha. Reaksi yang cukup biasa saat dia terkejut. Pelukan itu mengendur berlahan, tapi lengan kekar Elang tetap menahannya hingga tubuh mereka lebih merapat. Bola mata hitam itu menguncinya.
"Kakak...."
Dan sebuah ******* lembut berlabuh di bibir mungil nan basah itu. Tak ada reaksi, Mitha masih kaget dengan mata melebar. Kedua mata mereka bersitatap, saling menyelami. Hingga secara berlahan Mitha menutup matanya , merasakan ciuman yang terasa memabukkan baginya. Sentuhan Elang begitu membuatnya terlena. Tak ada paksaan, tak ada perlawanan. Deru nafas keduanya saling menyapa.
__ADS_1
Tok...tok....