
Bian dan Gea berdiri menunggu pasangan suami istri itu dipintu keluar. Gea bergegas memeluk Mitha saat keduanya sudah dekat. Tak ada tawa riang seperti biasanya. Mereka masih larut dalam kesedihan.
Bian segera membuka pintu belakang, mempersilahkan atasannya masuk. Namun Elang malah membuka pintu samping kemudi. Tampaknya pria itu ingin memberi ruang pada kedua sahabat itu untuk saling berbagi. Tak ada pembicaraan yang berarti selama perjalanan. Mereka semua memilih mengunci mulut rapat-rapat. Hanya pertanyaan seputar acara tahlilan yang satu dua kali terdengar. Selebihnya diam.
Tak sempat ganti baju, apalagi mandi. Pasangan suami istri itu bergegas menyambut para tamu dan berbaur bersama mereka hingga acara usai.
Elang segera menyuruh Bian datang ke ruang kerjanya setelah Mitha dan Gea masuk ke dapur untuk membereskan tumpukan piring dan gelas selepas acara tadi. Kasihan buk Sri jika disuruh melakukan pekerjaan itu sendiri. Sedang Elang? dia sudah duduk berhadpan dengan sang sekretaris diruang kerjanya. Ada sesuatu yang harus dia bahas bersama sekretaris papanya itu.
"Bi, apa masalah sindy sudah selesai?" Bian segera mengambil tempat duduk di depannya. Tangannya mengulurkan beberapa berkas penjualan aset Perusahaan rintisan Elang beserta surat pemberhentian Sindy pada sang CEO sementara. Elang membaca dan menelitinya dengan cermat. Untung ada seseorang yang berminat dan langsung membelinya.
"Tadinya Sindy tidak terima. Entah besok atau lusa atau mungkin hari ini dia pasti akan datang menemuimu." Elang tersenyum smirk. Bertahun-tahun bersahabat dengan Sindy sejak berseragam putih abu-abu sudah membuatnya hafal watak dan perangai sang sahabat.
"Biarkan saja." putus Elang selanjutnya.
"Ada email dari pak Abi." kata Bian seraya menghadapkan laptopnya pada Elang yang duduk di depannya. Elang segera membukanya.
"Apa maksud papa?" gumamnya sambil terus membaca.
"Pak Abi sudah mengalihkan seluruh saham dan aset atas namamu. Artinya kau pemilik Abimana Company sekarang." jelas Bian dengan wajah gemas. Bagaimana bisa Elang jadi telat mikir seperti sekarang? atau putra bos besarnya ini hanya ingin mengetestnya dengan pura-pura tidak tau?
"Baiklah. Aku minta kerjasamamu Bian. Bantu aku seperti kau membantu papaku dulu." Bian mengangguk. Baginya mengabdi pada Abimanyu ataupun Elang sama saja baginya. Mereka sama-sama keturunan Abimana yang membuatnya harus teta mengabdi sebagai bentuk rasa terimakasih.
"Baik bos." ucapnya mantab.
"Bagaimana jika kugabungkan Abimana company dengan S&M?" Bian mengerutkan dahinya. Yang dia tau S&M adalah perushaan makanan milik nyonya Maria yang berdiri sendiri tanpa campur tangan Abimana crop, lalu atas dasar apa bos barunya itu ingin menggabungkannya? Padahal perusahaan istrinya itu tidak dalam masalah atau mengalami colaps. S&M malah berkembang sangat pesat akhir-akhir ini meski Elang dan dirinya harus bekerja ekstra untuk itu. Tapi bagaimana lagi? Mitha masih harus banyak belajar.
__ADS_1
Suara ketukan dipintu terdengar, sesaat kemudian pintu terbuka, menampilkan wajah ayu Mitha yang terlihat segar karena baru mandi. Wanita muda itu membawa nampan berisi dua cangkir kopi lalu meletakkannya di meja. Rupanya dia segera membersihkan diri ketika tahlilan usai.
"Kopinya mas, kak Bian." Mitha baru akan beranjak pergi saat jemari Elang menarik tangannya dan menyuruhnya duduk disampingnya. Sungguh, saat itu hati Mitha bedebar seperti genderang yang mau perang.
"Mitha..kita perlu bicara." kata Elang lembut. Bolehkah Mitha merasa bahagia karena perlakuan sang Elang?
"Apa aku perlu keluar?" kali ini Bian yang merasa tak enak hati karena berada diantara pasangan muda yang punya perasaan entah apa namanya.
"Tidak Bi, tetaplah disitu." jawab Elang cepat. Dia memang butuh Bian sekarang.
"Ada apa mas?" sela Mitha yang merasa bingung sekarang. Elang menghela nafasnya.
"Tentang penggabungan Abimana crops dengan S&M....tunggu. Dengarkan aku dulu." melihat Mitha yang akan menyela percakapannya membuat pria tampan itu tak memberi istrinya itu kesempatan. Dia takut Mitha salah paham sebelum mendengarkan penjelasannya.
"Aku tidak bermaksud mengambil alih perusahaan mama yang diserahkan padamu Mitha. Tapi lebih pada janji kita untuk meneruskan pengelolaan orang tua kita. Kau akan tetap menjadi pemiliknya juga memperoleh keuntungannya secara utuh. Terus terang aku dan Bian dibuat kalang kabut karena harus mengelola....."
" Dari awal bukannya aku sudah bilang jika aku sama sekali tidak tertarik pada Abimana company atau S&M. Kalau mas Elang mau mengabungkannya, aku setuju saja."
"Mitha dengar.."
"Aku hanya ingin jadi seorang istri, ibu rumah tangga yang bahagia dengan cara sederhana mas. Bukan jadi owner perusahaan. Siapkan saja berkasnya, aku akan tanda tangan." Tutur Mitha polos. Bian menatap wanita muda yang sudah dianggapnya seorang adik itu terkesima. Sama halnya Elang yang terpesona pada pemikiran sang istri.
"Baiklah, besok aku siapkan berkas-berkasnya bos."
"Bi, apa semuanya tak terlalu terburu-buru?" lagi, pria tampan itu meragu. Tapi baik Bian ataupun Mitha tetap pada ekspresi seriusnya hingga mau tak mau membuat Elang kehabisan kata.
__ADS_1
"Ehm...aku kekamar dulu." pamit Mitha kemudian seraya melangkah keluar. Mendengar kata kamar sudah membuat Elang ingat rasa capeknya. Tapi ada beberapa hal yang harus mereka selesaikan lebih dulu sembari minum kopi.
Satu jam kemudian Bian keluar dari ruang kerja majikannya. Matanya mencari sesuatu kesana kemari hingga tak menyadari kehadiran Elang yang mengikutinya sejak tadi.
"Cari siapa?"
"Ehmm..gadis itu, apa dia sudah pulang?" tanya Bian lirih. Elang terkekeh geli melihat sekretarisnya bersikap demikian.
"Gea maksudmu?"
"Ya, siapa lagi?"
"Mungkin dia diatas bersama istriku. Bukannya mereka teman dekat?"
"Apa dia mau menginap disini?"
"Tidak." pungkas Elang.
"Aku tidak yakin." sanggah Bian mencemooh. Tau apa Elang soal Mitha?
"Mitha sudah bersuami, dia akan tidur dengan suaminya, bukan sahabatnya. Ayo naik, kita buktikan perkataanku tadi.
💐💐💐💐💐💐💐
Selamat malam readersku....
__ADS_1
Terimakasih sudah terus menyimak novel ini dan memberikan dorongan agar author cepat up dikolom komentar ya...saya membacanya kok. Tapi karena kesibukan di dunia nyata, saya belum bisa membalasnya. Novel ini akan tetap up walau kadang agak lama. Tapi setelah ini insyaallah saya akan berusaha runtin update. Sembari menunggu Elang dan Mitha up, baca karya author yang lain ya...siapa tau kalian akan suka.