
Bian datang dengan wajah segarnya usai membasuh mukanya yang terasa mengantuk karena lelah tadi. Elang segera menyuruhnya duduk.
"Ada apa bos?" Tanyanya tak sabaran. Pasti ada sesuatu hal yang membuatnya dipanggil, bukan hanya ditelepon seperti biasa.
"Ini tentang tuan Permana."
"Tunggu bos...aku akan mengirimkan filenya." dan dengan cekatan sekertaris tampan itu mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu mengirimkannya ke ponsel Elang. Mitha dan Gea hanya bisa mengerutkan keningnya menantap penuh tanya pada Elang yang membaca leporan itu dengan wajah serius.
.......Tring....tringg...
Gea bergegas membuka aplikasi warna hijau di ponselnya begitu terdengar notifikasi pesan.
"Mith...kita harus ke rumah sakit sekarang...buruan!!" Gea segera menarik lengan Mitha agar berdiri dan mengikuti langkahnya, lupa jika mereka masih ada di kantor.
"Hey...kalian mau kemana?" suara tinggi Elang menghentikan pergerakan dua wanita bersahabat itu. Gealah yang pertama kali merasakan tremor pada tubuhya. Berlahan dia melepaskan genggamannya di tangan Mitha sambil berbalik ke arah CEO nya.
"Ma..maaf pak." gugup Gea pias. Ditatap sedemikian dinginnya oleh sang atasan karena mau membawa istrinya tanpa ijin saja sudah membuat nyali Gea ciut. Gadis itu meruntuk dalam hati. Lagi-lagi dia lupa jika Mitha adalah nyonya bos sekarang.
"Katakan dulu ada apa?"
"Zahra kritis pak." Jawabnya dengan suara bergetar.
"Kritis? bagaimana bisa Ge? bukannya tadi pagi kalian bilang jika dia baik-baik saja?" ucap Mitha terdengar histeris. Elang hingga harus menenangkan istrinya.
"Aku juga tidak tau Mith." kali ini nada suara Gea terdengar lelah dan putus asa.
__ADS_1
"Ya sudah, kita kesana sekarang." putus Elang kemudian.
"Biar aku dan Gea saja yang kesana mas. Setelah ini kamu ada meeting." Tentu saja Mitha tau jadwal suaminya. Dia tak akan menyeret Elang kedalam masalah sahabatnya hingga melupakan pekerjaannya.
"Sayang apa kau pikir aku akan membiarkanmu berduaan saja dengan mantan pacarmu itu? Bi, urus meeting dengan star company setelah makan siang!" sergah Elang posesi seiring dengan perintah untuk sektetaris Bian. Rahangnya mengeras seiring langkahnya untuk menarik istrinya keluar ruangan.
"Maksud mas Elang Andra sudah disini?" Mitha sedikit mempercepat langkahnya agar bisa menyamai suaminya yang juga tak kalah tergesa dari dirinya dan Gea. Gadis itu bahkan sudah berani berjalan mendahului atasannya karena panik. Untung Elang sama sekali tak mempermasalahkannya.
"Ya, dia baru saja datang." Mitha tak lagi banyak bertanya. Pun ketika Elang sudah melajukan kendaraannya, tak ada pembicaraan diantara mereka.
Lagi dan lagi Gea berlari lebih dulu menuju kamar ICU tempat Zahra di rawat. Alangkah kagetnya gadis itu saat melongok ke arah kaca, ada Andra yang duduk menunggui Zahra sambil memegang telapak tangan sahabatnya itu seperti memberikan kekuatan. Gea urung masuk dan hanya menatap kebersamaan mereka. Air matanya luruh saat melihat berbagai selang yang terpasang di tubuh Zahra, juga alat bantuan pernafasan yang menandakan Zahra memang tak baik-baik saja.
"Mas, mau kemana?" Mitha yang baru sampai dibuat heran saat suaminya akan beranjak.
"Bertemu dokter. Kita harus tau apa yang terjadi." Tapi Mitha sudah lebih dulu mencekal lengan suaminya saat melihat Andra yang barusan bersitatap dengan mereka akan keluar.
"Apa yang terjadi Ndra?" Gea yang penasaran tentunya segera memberondong sang sahabat dengan pertanyaan sebelum pintu ICU tertutup sempurna. Tubuh Andra lemas. Gea yang tau itu segera membantunya duduk.
"Zahra...ada seseorang yang mencoba membunuhnya dan menyuntiknya hingga over dosis. Untung penjaga yang diutus tuan Elang sigap hingga dia segera mendapat pertolongan." ucap Andra lemah, mencoba menjelaskan kondisi Zahra.
"Mas..mau kemana?!" Mitha sedikit memekik kesal saat Elang malah akan beranjak lagi dari sana.
"Sayang...sahabatmu ini perlu minum sesuatu. Aku akan mencarikannya. Tetaplah disini."
"Tapi mas...." Resah yang dirasakan Mitha tentu saja dirasakan Elang. Pria itu segera menagkup pipi wanitanya dengan tangan besarnya.
__ADS_1
"Tenanglah..aku bukan pria tak punya hati seperti yang ada dalam bayanganmu. Anehnya Mitha malah melepaskan tangan suaminya.
"Biarkan aku yang pergi, mas disini saja." Lalu tanpa bisa dicegah tubuh langsing itu bergerak menjauh.
"Semua gara-gara aku Ge ....." Gea segera memeluk Andra yang terlihat tertekan. Sebagai sahabat dia cukup tau dan bisa merasakan dilema yang dihadapi Andra saat ini.
"Tuan Elang, bisakah saya minta bantuan pada anda?" Elang berdehem sejenak mendengar permintaan Andra.
"Tentu saja tuan Andra. Jika saya bisa melakukannya, saya akan mencoba membantu anda." balasnya tegas. Tubuh Andra yang lunglai seperti mendapatkan siraman dari atas langit.
"Saya ingin papa saya dijebloskan ke penjara." Elang diam menatap pemuda itu penuh tanda tanya.
"Tak ada bukti yang mengarah padanya, saya sudah selidiki itu dari awal. Papa anda bermain bersih dari awal." Elang memang sudah melakukan penyelidikan bersama Bian soal keterlibatan Permana dalam kejadian yang menimpa Zahra. Tapi hasilnya nihil. Jika terus berasumsi sendiri, Elang takut dituduh melakukan pencemaran nama baik dan tuduhan tanpa bukti.
"Jika bukan karena masalah Zahra, anda bisa menjeratnya dengan tuduhan lain."
"Tuduhan lain?" Bagaimana Elang tau bisa menuntut pria cerdik itu karena masalah apa? dia sendiri baru datang ke Indonesia beberapa saat sebelum menikah dengan Mitha dan menggantikan papanya.
"Papa saya sudah korupsi dana pembangunan pemerintah dan mengkambing hitamkan papa anda sebagai tertuduh yang terpaksa membayar kerugiannya. Dia juga melakukan perusakan di area tender yang merugikan perusahaan keluarga anda. Saya ada data dan buktinya tuan." Tangan Andra sedikit bergetar saat mengirimkan file-file itu ke email Elang yang juga sangat sigap membukanya.
''Pria itu tak boleh dibiarkan berkeliaran diluar hingga Zahra sadar dan bisa dimintai keterangan tuan. Hanya dia saksi kunci kejadian ini. Jadi tolong bantu saya tuan."
''Bagaimana anda bisa tau jika papa anda pelakunya tuan? jangan sampai kita salah orang." Andra menatap Elang sayu.
"Karena papa selalu melakukan hal itu pada setiap gadis yang dekat dengan saya." sangat pelan hingga Elang harus mendekatkan telinganya.
__ADS_1
"Apa...itu juga berlaku pada...istri saya?" tanyanya hati-hati. Tentu saja dia berpikir kesana karena Mitha adalah mantan pacar Andra dalam waktu lumayan lama. Jemari Pria tampan itu terkepal kuat dengan raut marah saat Andra menganggukkan kepalanya.
''Brengsek!!!" umpat Elang geram.