
"em...ma...mas.." ujar Mitha terbata. Entah sejak kapan Elang sudah berada dibelakangnya, merebut handle pintu yang baru akan ditutupnya lalu menguncinya. Mitha mengelus dadanya kaget. Padahal dia sudah berusaha berjalan secepat mungkin ke kamar. Tapi rupanya tetap kalah cepat dari langkah lebar Elang.
"kenapa kau begitu menggoda?" bisiknya erotis. Sebuah kecupan mendarat di bibir wanitanya mengawali ******* panas, saling memilin dan membelai. Mitha seakan dibuat melayang dalam sekejap. Tubuh sintalnya melemah, pasrah saat Elang menggiringnya ke atas ranjang dan membaringkannya tanpa melepas tautan panas mereka.
"Mas, hentikan...." teriak kecil Mitha. Perkataan munafik yang jelas bertentangan dengan hatinya yang menginginkan lebih. Ya, dia ingin Elang menyentuhnya disini...disini dan disini.
"Hmmm.." sahut pria tampan diusia matang itu bergumam. Tak ada kata karena bibirnya sibuk menjelajahi wajah dan leher sang istri. Tentu saja Mitha dibuat panas dingin karenanya. Tangan kekar itu tak berhenti menggerayangi tubuhnya, melepaskan tiap kancing pakaiannya dengan gerakan tergesa. Entah kenapa gerakannya seperti berlomba dengan nafas Elang yang tersengal dan makin pendek. Pun wajah tampan itu sudah memerah menahan hasrat. Berlahan pria itu menindih tubuh Mitha seutuhnya, mengungkungnya seolah takut wanitanya pergi mengembara. Melanjutkan tiap gerakan erotis yang terus dilakukannya, melupakan pakaian keduanya yang sudah berserakan dilantai dibawah ranjang. Mitha hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan dan kecupan sang Elang.
__ADS_1
"Euugghhh..." lenguh Mitha tak tertahan kala Elang menyentuh inti tubuhnya dan mengelusnya pelan. Lelakinya bahkan sudah bermain dengan lidahnya disana, hingga membuat Mitha akan meledak karenanya. Jangan lupakan jemarinya yang terus bermain di atas dadanya.
"Jangan menahannya sayang." bisik Elang yang entah sudah sejak kapan sudah mengulum telinganya lembut, menggigitnya pelan lalu kembali mengecupnya lembut. Membuat Mitha benar-benar tak sanggup menahan gejolak jiwanya. Elang tersenyum lebar dan kembali mengecup bibirnya yang mungkin sudah membengkak karena perbuatan suaminya. Tak disangkanya, pria yang dulunya dingin itu begitu hangat dan romantis diranjang.
"Tahan sedikit ya ...." bisiknya lagi saat pria tampan itu memposisikan dirinya untuk memasuki raga belahan jiwanya. Hentakan yang cukup kuat, membuat Mitha memekik karenanya. Rasa perih meraja hingga matanya basah tergenang air mata. Elang mengecupnya sekilas, meneruskan permainanya. Nafas keduanya memburu, saling berbagi kehangatan hingga....
"Aahhhhh....." pekik Elang tertahan setelah pelepasan sempurnanya. Tubuh kekarnya masih mengungkung Mitha yang juga tersengal kehabisan nafas. Ada kebahagiaan yang menelusup didalam sanubarinya. Sekarang dia adalah istri yang sempurna. Elang sudah menyempurnakan statusnya dan memberikan nafkah batin untuk yang pertama kalinya pada dirinya. Sebuah senyum merekah dibibirnya, tangannya tergerak mengelus pipi Elang yang entah kenapa malah menatapnya amat tajam. Tangan besarnya menepis jemari Mitha kasar. Aura Dingin dan menusuk berkilat di wajah tanpannya sebelum mendudukkan tubuhnya, mencabut sesuatu yang berlahan melunak keluar dari sarangnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun selain dirimu mas." jawab Mitha seperti tercekat ditenggorokan. Elang membuang pandangannya. Tak mau bersitatap dengan Paramitha yang ketakutan karenanya.
"Kau pikir aku percaya?" ketusnya sambil bangkit, memungut pakaiannya.
"Mas..aku berani bersumpah. Demi Tuhan, aku tidak pernah berzina." lanjut Mitha terisak. Dadanya terasa amat sesak. Kenapa semua harus terjadi saat Elang mau membuka hati? memberikan sedikit celah bagi dirinya untuk masuk dan menjadi bagian dirinya? Tapi Elang seakan tak peduli. Pria itu menuju kamar mandi dan menutup pintunya kasar. Entah berapa lama dia mengguyur tubuhnya hingga keluar dengan pakaian lengkap dari sana.
"Mas, percayalah...aku tidak seperti yang kau tuduhkan. Aku ..."
__ADS_1
"Stop Paramitha!! aku muak mendengar perkataanmu. Kau wanita rendah yang memalukan!! dasar murahan!" bentak Elang sambil keluar dari kamar itu. Lagi-lagi dia membanting pintu, membuat Mitha melonjak kaget dengan tubuh gemetaran. Langkah lebarnya menyisakan kepedihan disudut hati Mitha yang merosot kelantai setelahnya. Tangisnya pecah...
Jika ada yang dia tangisi, itu hanyalah perkataan terakhir Elang. Ada rasa tak terima saat pria itu mengatainya wanita murahan, rendah dan memalukan walau dia tak bisa menyalahkan Elang sepenuhnya. Dia memang tidak bisa membuktikan apa-apa. Perkataan atau sumpah macam apapun yang keluar dari bibirnya tak akan dipercaya tanpa bukti nyata. Sudut pandang lelaki manapun pasti akan melihatnya seperti Elang menilainya. Dia sudah tidak virgin dan mengecewakan suaminya. Sebuah kesalahan yang tak bisa dia buktikan walau dia tak bersalah karena tak melakukannya. Kadang nasib memang lebih berkuasa diatas segalanya.