Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Kau


__ADS_3

Elang membiarkan saja Mitha berlari ke halaman belakang dan masuk ke dalam tenda buatannya. Rasa tak tega melihat wanitanya mengeluarkan air mata membuat dirinya menahan diri untuk mengejar atau menjelaskan apapun. Dia tau Mitha butuh waktu untuk menelaah semuanya.


Elang bukannya tidak mengijinkan Gea menginap. Bagaimanapun Gea adalah sahabat istrinya. Tapi mengingat hubungannya yang berjalan kurang baik dengan Mitha membuatnya harus bertindak begitu. Mereka butuh waktu berdua saja. Bicara empat mata atau sekedar saling memahami.


"Bik." panggil Elang pada bik Sri yang sibuk memasak makan malam untuk mereka. Perempuan paruh baya yang barusan memotong sayuran itu menengadahkan kepalanya.


"Ya tuan."


"Istri saya bilang apa tadi?" Bik Sri mengerjabkan matanya. Dia tau pengantin baru itu sedang dalam masalah.


"Non Mitha tidak mau makan di dalam rumah. Dia minta makan malamnya diantar ke tenda."


"Kalau begitu biar nanti saya yang antar kesana."


"Tapi tuan....." Tentu saja bik Sri tidak lupa pesan sang nyonya muda yang tak ingin dekat-dekat dengan Elang. Dia juga mengajak Bik Sri berkemah bersama.


"Bibik taukan kalau Mitha lagi sensian? kami butuh waktu berdua." Seketika senyum bik Sri terkembang. Bagus kalau bos prianya itu mau sedikit mengalah agar istri cantiknya tak terus marah. Rumah itu terasa aneh saat keduanya bertengkar dan saling menghindar.


"Baiklah tuan, beberapa menit lagi saya selesai. Tuan mau tunggu atau ditinggal dulu?"


"Saya tunggu saja." Elang langsung duduk di mini bar disudut ruangan menunggu bik Sri yang kembali memasak.


"Bikin apa sih bik?"


"Tadi non Mitha pesen ayam lada hitam. Sekalian saya bikinkan urap biar segar. Kata kakak saya Non Mitha paling suka sayuran." Bik Sri memang tau banyak informasi soal makanan favorit keluarga Abimana dari kakaknya yang dulu bekerja disana. Jadi tak sulit baginya yang memang sudah biasa bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menyiapkannya. Apalagi keluarga itu amat baik padanya juga pak Amir suaminya.

__ADS_1


"Sudah siap tuan." Elang yang sibuk memainkan ponselnya hingga tak sadar jika bik Sri sudah selesai memasak dan mengatur makanan dan minuman untuk Mitha di atas nampan.


"Baiklah, saya kesana dulu." lalu pria tampan itu melangkah ringan ke arah tenda. Mitha masih tidur telungkup didalam tenda saat dia datang.


"Taruh saja disitu bik. Terimakasih." ucapnya dengan suara serak habis menangis. Elang bukannya langsung pergi setelah meletakkan makanannya. Dia memilih duduk disamping istrinya.


"Cepatlah makan." spontan Mitha menoleh dengan ekspresi kaget. Dia juga terduduk seketika sambil menyusut air matanya.


"Mas...ngapain disini?" tanyanya kaget. Sungguh dia mengira bik Sri yang datang. Elang tersenyum samar.


"Tentu saja mengantar makanan untukmu. Makanlah." sesaat Mitha terperangkap dalam keteduhan manik hitam suaminya, tak sadar jika Elang sudah mengusap pipinya.


"Mau disuapi?" sadar Mitha yang tak menjawab, Elang bertindak cepate memgambil piring dan menyuapkan makanan ke bibir Mitha yang masih terbengong karenanya.


"Aku bisa sendiri mas." ujarnya setelah tersadar dari jerat pesona si tampan yang sudah merasuk dalam jiwanya.


"Aku menyuruh Bian mengantar Gea pulang agar kita bisa punya banyak waktu berdua. Aku harus bicara empat mata sama kamu agar masalah kita cepat selesai." papar Elang menjelaskan dengan suara lembutnya. Mitha sama sekali tak bereaksi dan memilih menundukkan wajahnya.


"Soal foto itu aku sudah tau siapa pengirimnya. Kau benar, foto itu sengaja di crop oleh pengirimnya. Tentang Andra...aku sudah dapat banyak informasi soal mantan pacarmu itu." Kembali tak ada reaksi hingga Elang menarik nafasnya panjang dan menatap ke langit luas diatas sana.


"Lihat...gugusan bintang itu terlihat sangat indah." Mitha yang memang amat menyukai bintang langsung mendongak. Senyumnya melebar saat apa yang dikatan Elang benar adanya. Gugusannya begitu indah diantara pekatnya malam. Belum lagi bulan separuh yang ada disampingnya. Indah.


Lama mereka menatap keatas hingga Elang menggeser duduknya lebih dekat dan menarik kepala Mitha agar rebah dibahunya. Gadis itu hanya menurut saja.


"Siapa pengirimnya mas?" suara halus Mitha memecah kebisuan diantara mereka. Elang menoleh sesaat.

__ADS_1


"Kau tau siapa orangnya." balasnya datar.


"engg...Kak Sindy." Mitha sebenarnya takut mengatakan dugaannya. Bagaimanapun dia takut dikira memfitnah mantan pacar suaminya yang masih menempel bak ulat bulu itu. Tak ada jawaban. Elang masih menatap angkasa raya.


"Ya." jawabnya setelah lama terdiam. Mitha hanya mendengarkan saja tanpa ingin menjelekkan Sindy. Sudah cukup baginya jika Elang sudah tau kelakuan ulat bulu itu.


"Mas masih marah soal aku dan Andra?" Seketika Elang meraih bahu wanitanya, dan memutar tubuh itu menghadapnya, menatapnya tajam. Mitha yang tak biasa duduk berdekatan dengan pria tentu saja salah tingkah karenanya. Elang bergerak cepat meraih kedua pipinya dan menangkupnya dengan tangan besarnya, membawa Mitha menatapnya.


"Tapi maskan sudah tau jika aku dan andra...."


Sebuah ciuman mendarat cepat membungkam bibir Mitha yang hendak protes padanya. Ciuman posesif yang membuat Mitha terengah kehabisan udara. Elang seperti ingin masuk ke dalam dirinya dan menguasai tubuhnya saat tiba-tiba ciuman itu melembut dan membuat Mitha memejamkan matanya, menikmati setiap sesapan di bibirnya.


"Siapa pria itu??" desis Elang diatas bibirnya sesaat setelah pria itu melepas ciumannya. Mitha membuka matanya lamat.


"Pria?" ulangnya terkejut. Otaknya mengingat pria siapa yang di maksud suaminya.


"Ya, pria yang kau cintai sejak kecil. Siapa dia?" wajah Mitha memerah karenanya. Bagaimana Elang bisa tau semuanya?


"Mitha jawab." desisnya lagi dengan mata tajam yang memindainya dari jarak satu jengkal.


"A..aku...."


"Mitha..." tuntut Elang makin terdengar dingin.


"Kau." jawab Mitha seperti berbisik. Namun Elang bisa mendengarnya karena jarak mereka begitu dekat.

__ADS_1


"Aku?" beo Elang. Mitha dengan cepat mengurai pelukan Elang dan menengadahkan kembali wajahnya keatas. Dia kembali sedikit tenang setelah badai dalam dirinya menyerang.


__ADS_2