Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Baju Hangat


__ADS_3

Perjalanan dari kantor menuju rumah terasa lama karena kemacetan dibeberapa ruas jalan yang terendam air. Mitha sedikit mengigil karena hawa dingin dan hujan yang tak kunjung berhenti. Elang memang sudah mematikan Ac mobil sejak tadi, tapi hawa dingin diluar sana tetap saja menusuk tulang.


"Masih dingin?" tanya Elang saat Mitha yang memakai jasnya terlihat merapatkan kedua sisinya.


"Sedikit. Bentar lagi sampai mas." jawabnya lirih.


"Kemari!" Elang merentangkan lengan kirinya isyarat agar Mitha masuk ke dalam pelukannya, tapi Mitha masih enggan.


"Kenapa?"


"Takut mengaggu mas nyetir." Elang terkekeh. Kebut-kebutan adalah kebiasaannya sejak kecil. Soal mengemudikan mobil malah sudah dia lakoni sejak masih jadi murid sekolah lanjutan berseragam biru putih. Tak akan ada masalah besar baginya jika hanya memeluk Mitha sambil menjalankan kendaraannya.


"Aku bukan Udin yang over patuh. Ayolah!" Mitha beringsut mendekati suaminya hingga Elang dengan gerakan tak sabarnya segera menarik tubuh langsing Mitha ke dalam pelukannya karena rambu lalu lintas sudah kembali berwarna hijau. Benar kata Elang, disana terasa hangat. Sedikit hati-hati Mitha melingkarkan tangannya ke tubuh tegap sang suami hingga mereka tiba di halaman rumah. Udin yang sekarang dipekerjakan permanen dirumah itu segera mendekat, menerima kunci mobil dari Elang dan memasukkanya ke garasi.


"Ya Tuhan Mith...tanganmu dingin sekali sayang." pekik Elang saat menggandeng tangan Mitha memasuki rumah. Dia segera mempercepat langkahnya agar mereka segera sampai ke kamar Elang.


"Sayang, kamu duduk disini dulu, biar kuambilkan minyak kayu putih agar tubuhmu sedikit hangat." Dengan cekatan tangan kekar itu menarik selimut tebal agar istrinya tak kedinginan.


"Mas...."

__ADS_1


"Ehm...ya, ada apa?" Elang kembali ke posisinya, duduk di tepi ranjang dimana Mitha duduk bersandar.


"Aku mau mandi air hangat saja."


"Sayang, hawanya masih dingin lho."


"Tapi aku pengen mandi mas. Badanku lengket banget. Boleh ya..."


"Terserah kau saja." putus Elang kemudian. Sama seperti Mitha, tubuhnya juga terasa lengket karena seharian beraktifitas diluar. Dia juga tau jika Mitha tak akan bisa tidur jika tak mandi lebih dulu.


"Sayang mau kemana sih?" Tubuh kekarnya membarikade jalan saat Mitha bukannya ke kamar mandi, tapi malah beranjak keluar kamar mereka.


"Mau ambil baju." jawab Mitha polos. Elang menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya berlahan. Mitha memang tak sepenuhnya mengusung barang-barangnya ke kamar mereka karena belum ada waktu. Mereka selalu sibuk diluaran setiap harinya. Jadinya dia hanya membawa hal-hal yang penting saja.


"Tapi aku nggak nyaman jika tak pakai baju itu saat kedinginan mas." protes Mitha lirih. Elang menautkan alisnya. Memangnya baju apa yang membuat Mitha senyaman itu hingga tak mau diganti dengan baju yang lain? Padahal banyak jaket atau baju tebal di dalam lemari mereka.


"Katakan yang mana bajunya. Biar kuambilkan, kau mandi saja biar nggak kedinginan."


"Tapi mas?"

__ADS_1


"Sayang, nanti kamu masuk angin. Nurut suami kenapa sih?"


"Hmmmm...baju hangat yang mas belikan dulu." kata Mitha tersipu. Elang yang mendengarnya malah terlihat mencoba mengingat sesuatu. Tapi sungguh dia lupa.


"Yang mana?" Mitha sedikit cemberut karenanya. Elang saja tak ingat jika pernah membelikan baju itu padanya. Jangan-jangan itu baju pembelian orang tuanya yang diatas namakan Elang. Berati selama ini dia hanya....


"Mith...kok malah melamun?"


"Engg...terserah mas saja. Banyak kok dilemari." untuk apa mengambilnya lagi jika itu bukan pemberian Elang. Baju itu bahkan sudah tak istimewa lagi baginya mulai sekarang. Tak harus diletakkan di deretan paling atas dengan packing sempurna beraroma parfum khusus layaknya barang keramat yang dibedakan dengan lainnya. Dia juga tak perlu lagi mensugesti pikirannya agar memakai baju itu saat dingin melanda. Toh dia masih punya stok baji hangat keluaran terbaru yang bahkan dibelikan mamanya dalam jumlah banyak.


"Tadi katamu.."


"Nggak jadi. Aku lupa mungkin mas." sela Mitha cepat hingga Elang juga dibuat bingung dengan perubahan sikap istrinya.


"Ya sudah, cepeta mandi sana." Kata Elang sambil berjalan keluar kamar menuju kamar Mitha berada.


"Aroma parfum wanita seketika tercium di indera penciumannya saat memasuki kamar sang istri. Kamar yang tetap rapi walau sekarang tak ditempati. Ingat akan tujuannya datang ke kamar itu membuatnya segera menuju lemari besar milik istrinya dan membukanya. Benar kata Mitha, banyak baju hangat dengan berbagai model ada disana. Elang hampir meraih baju tebal berwarna biru langit saat sudut matanya menatap sesuatu di pojok atas lemari. Tangannya meraihnya. Sebuah tas layaknya tempat mukena berukuran besar berwarna pink dari sana.


'My beloved man'

__ADS_1


Desis Elang saat membaca grafir berwana hitam yang disematkan tepat diatas gambar dua ekor kelinci gemuk yang saling berpelukan. Seketika tubuhnya terasa kaku. Pasti bungkusan itu hadiah dari Andra permana, mantan pacarnya. Pantas saja tadi Mitha bersikeras mau mengambil bajunya sendiri. Rupanya dia belum membuang kenangannya dengan tuan muda Permana itu. Elang menjadi geram karenanya.


"Nanti saja kutanyakan padanya. Aku harus cepat kembali sebelum dia kedinginan." gumam Elang sambil membawa bungkusan itu juga baju hangat tadi keluar kamar.


__ADS_2