
"Itu baju kamu biar disitu saja." Elang menegur saat Mitha akan mengambil baju-bajunya dan memindahkannya ke dalam kopernya.
"Kenapa mas? apa kita menunda keberangkatan?" tanya Mitha ingin tau. Tangannya berhenti bergerak menyusul gerakannya menegakkan tubuh langsingnya yang tadi membungkuk.
"Biarkan tetap disana. Lagi pula kita akan sering berkunjung kemari karena papa akan tinggal disini."
"Hmmm...baiklah. Biar sekalian kopernya disini saja. Kita tak usah bawa apa-apa saat pulang." Mitha menutup kopernya, mengantinya dengan tas rangsel milik Elang dan mengisinya dengan peralatannya juga milik Elang.
"Begitu lebih simpel. Mana, biar aku yang bawa." Elang mengambil alih tas itu. Mitha bergerak cepat merapikan kamar lalu menyusul suaminya yang menunggu di dekat pintu.
"Ayo." ajak Elang sambil meraih tangannya, mengenggamnya menuruni tangga menuju kamar kakek Hans.
"Kalian sudah datang?" sapa kakek Hans yang ternyata ada diruang keluarga, duduk santai menonton acara tv.
"Kakek..kami pamit kembali ke Indonesia." Mata kakek Hans kembali berkaca. Baru kemarin mereka berkumpul sebagai sebuah keluarga. Pagi ini cucu sulungnya akan kembali ke negara papanya setelah tadi pagi menyempatkan diri mengunjungi makam sang mama bersamanya juga.
"Sering-seringlah menengok pria tua ini. Kakek sangat berharap berita baik dari kalian." Kakek Hans membelai kepala cucu dan menantunya itu penuh kasih.
"Tentu kakek. Tapi kakek harus janji akan selalu sehat dan baik-baik saja hingga anak kelima kami lahir nantinya." gurau Elang yang membuat kakek Hans tertawa semringah karenanya.
__ADS_1
"Kuharap anak pertama kalian perempuan. Agar dia bisa menggantikan kehadiran Maria.'" ujar sang kakek dengan mata menerawang. Elang mengusap punggung tangannya.
"Semoga saja kek. Kami akan sering kemari. Elang dan Mitha berangkat dulu ya kek." pamit Elang sekali lagi. Kakek Hans mengangguk. Tubuh tuanya mencoba berdiri untuk mengantar cucu-cucunya sampai ke pintu.
"Jangan lupa menengok papamu dulu." pesannya dijawab anggukan oleh Elang yang segera menyusul Mitha masuk ke dalam mobil setelah mencium tangan sang kakek. Mereka saling melambaikan tangan sebelum mobil yang mereka tumpangi menghilang dibalik pagar.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Mitha hanya memandang megahnya kota London sambil sesekali berdecak kagum dan mengambil gambar dengan ponselnya, mengabaikan Elang yang seolah tak terlihat disampingnya. Sang suami hanya tersenyum miris.
"Maafkan aku." seketika Mitha menoleh pada Elang yang memasang ekspresi sedih padanya.
"Maaf...untuk apa mas?" tentu saja Mitha bingung. Angin apa yang membuat pria menyebalkan itu minta maaf?
"Tidak masalah."
"Mith..." lagi-lagi Mitha dipaksa menoleh karena cekalan Elang pada tangannya.
"Ya." sahutnya kemudian.
"Lain kali kita jalan." Mitha menganguk mengiyakan, lalu kembali ke formasi awalnya mengagumi sepanjang jalan hingga mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir rumah sakit.
__ADS_1
Elang mengandengnya menyusuri koridor hingga berada didepan kamar perawatan papanya. Tangannya urung membuka pintu saat Mitha menarik lengannya dan menyuruhnya melihat kedalam lewat kaca jendela. Disana, Malika baru saja mengganti pakaian papanya dengan telaten lalu kembali duduk menjaganya, mengabaikan Abi yang terus menatapnya tanpa ekspresi.
"Kita masuk." ajak Elang sambil menarik tangan Mitha memasuki kamar.
"Lang...Mith...." ucap Abi samar. Mitha sudah lebih dulu berlari memeluk sang papa. Bagaimanapun dia adalah putri keluarga itu. Abi selalu memanjakannya sejak kecil hingga dewasa seperti sekarang.
"Apa papa sudah sehat?" tanya Mitha menahan tangisnya.
"Seperti yang kau lihat...papa sangat sehat sweety." hibur Abi dengan mata berbinar.
"Alhamdulilah pa..ini, Mitha dan mas Elang mau pamit pulang dulu."
"Dimana cincin pernikahan kalian?" tanya Abi tiba-tiba saat melihat jemari Mitha yang kosong. Mitha terdiam, melirik Elang lamat. Tapi sepertinya pria itu tak ingin menjawab atau menjelaskan jika dia memang tak pernah memakainya lagi, sama seperti Mitha.
"Tak baik menanggalkannya setelah menikah. Takut ada yang salah paham dengan status kalian." nasihat Abi lirih.
"Nanti kami akan memakainya pa." jawab elang kemudian.
"Hari ini kami akan pulang untuk mengurus acara tahlilan mama." jelas Elang singkat. Abi tersenyum bahagia menatap kedua anaknya.
__ADS_1
"Aunty kalian baru saja cerita." pungkas Abi yang tentu saja membuat Mitha merasa surprise. Jadi dua manusia dewasa ini juga berinteraksi. Agak lama bercengkarama, mereka segera pamit untuk menuju bandara. Abi berulang kali mewanti-wanti pasangan muda itu agar selalu rukun saat pulang ke kediaman Abimana di Jakarta.