Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Uang


__ADS_3

Mitha masih asyik bercanda dengan Gea dan dua staf dapur sambil membersihkan etalase dan lantai toko mereka. Baru jam 7 malam, tapi seluruh stok mereka sudah habis terjual, melebihi target malah hingga owner toko menyuruh mereka tutup lebih sore dan istirahat dirumah. Lumayan bukan? Masih ada dua jam free untuk istirahat.


"Jadi ke tempatkukan Ge?" tanya Mitha saat tawa mereka mulai menghilang.


"Jadi dong. Ntar mampir di warung nasi goreng langganan ya Mith, suruh Zahra nyusul biar rame." usul Gea membuat cacing diperut Mitha langsung berdemo karena ingin dikasi makan. Mitha melupakan makan siangnya karena harus buru-buru ke kampus tadi. Nasi goreng mang Asep memang tiada duanya, cita rasanya tak kalah dari buatan restoran terkenal. Dengan harga terjangkau, rasa enak dan porsi lumayan mengenyangkan, warung disamping masjid itu langsung menjadi destinasi para mahasiswa dan karyawan bergaji kembang kempis seperti mereka.


Gemrincing lonceng yang ditaruh di depan pintu masuk berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Gea yang ada di dekat meja terdepan segera memalingkan kepalanya, hendak memberi tau pelanggan mereka jika persediaan roti mereka sudah habis. Herannya, apa pelanggan tadi tidak membaca tulisan close di pintu tembus pandang itu? Ahh sudahlah...


"Maaf pak, toko kami.......astaghfirullah." bukannya melanjutkan ucapannya, Gea malah menjatuhkan pel dan menutup mulutnya dengan bibir terbuka. Refleks tangan kirinya menowel bokong Mitha yang masih sibuk mengepel lantai.


"Mith...mith...lihat."

__ADS_1


"Apa?" dan sama seperti Gea, Mitha juga terpaku saat melihat siapa yang datang. Iris mata kecokalatannya membulat sempurna.Elang, pria itu berdiri tegak dipintu masuk dengan setelan kerja biru gelap yang membuatnya terlihat amat gagah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan wajah dingin.


"Kak..." sapa Mitha serasa tercekat di tenggorokan. Rasa terkejut masih mendominasi dirinya.


"Kutunggu di mobil." katanya singkat lalu berjalan tegap keluar tanpa menoleh atau menyapa siapapun lagi. Semua mata memandang kepergiannya dengan tatapan tak percaya. Mitha bergegas beringsut ke balik meja kasir dan terduduk lemas seraya mendekap dadanya yang masih berpacu kencang. Kata-kata dan tatapan dingin Elang seakan mencabik hatinya.


"Dia....siapa???" tanya rekan dapur mereka ingin tau. Dua orang pengurus dapur itu memang sempat melongokkan kepalanya keluar karena penasaran siapa yang datang.


"owwhh...kenapa dia terlihat galak pada adiknya sih?" gumam wanita tadi lalu berlalu pergi, kembali ke dapur.


"Mith, cepetan temui kak Elang dulu. Takutnya dia marah." usul Gea sambil mengelus punggungnya. Mitha menarik nafas dalam, mengatur detak jantungnya dan berdiri pelan. Dia harus segera bertemu Elang. Hati-hati, dia melangkah keluar menuju mobil mewah Elang.

__ADS_1


"Masuk!" perintah Elang yang langsung dituruti Mitha dengan duduk disamping Elang di dekat kemudi.


"Ada apa kak?" tanya Mitha ragu. Melihat ekspresi Elang, dia mencium ada gelagat buruk yang akan terjadi.


"Ini!" ucap Elang datar. Dia melemparkan setumpuk uang di pangkuan Mitha yang masih tercengang. Uang? apa maksudnya?


"Berhentilah bekerja menjadi pelayan yang memalukan. Juga menjadi guru TK yang menyedihkan. Siapapun kau, nama belakangmu adalah Abimana. Jangan membuat malu keluarga." kata Elang ketus. Mitha dengan segera mencengkeram uang dalam pangkuannya lalu menghela nafas panjang. Tangannya terulur memberikan tumpukan uang itu di dashbord mobil.


"Aku sama sekali tidak mempermalukan siapapun dengan pekerjaanku kak. Kerjaanku halal dan tidak merugikan siapapun. Maaf, aku tidak butuh uang kakak." sahutnya tenang, lalu bergerak membuka pintu mobil dan pergi dari sana, meninggalkan Elang yang merebak dengan kemarahannya.


"Gadis sombong!" ujarnya penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2