
Elang membantu Mitha duduk setelah usai pemeriksaan dan USG kandungan yang dilakukan dokter Zara. Untuk kali ini dokter Sam memang patut diacungi jempol karena sudah merekomendasikan dokter spesialis wanita untuk Mitha. Tentu dokter Sam sudah amat hafal watak seorang Elang Narindra abimana yang posesif walau tak nampak.
"Bagaimana keadaan istri dan calon anak kami dok?" tanya Elang setelah mereka bertiga duduk berhadapan. Sebenarnya dokter Zara sudah menjelaskan secara garis besar saat USG tadi. Tapi Elang ingin semuanya diperjelas.
"Kandungan istri anda lemah. Mungkin kedepannya akan sering mengalami flek dan pendarahan ringan. Setidaknya dua minggu sekali harus di cek walau kondisi terlihat normal pada triwulan pertama. Jangan terlalu capek atau banyak pikiran ya bu, babynya di jaga. Saya akan memberikan vitamin tambahan dan penguat kandungan untuk mencegahnya." dokter Zara segera menuliskan resep dan menyerahkannya pada Elang yang menerimanya dengan perasaan campur aduk. Sesaat kemudian mereka keluar dari area rumah sakit.
"Pulang sekarang bos?" tanya Bian yang tiba-tiba saja muncul dari koridor samping. Elang mengangguk, membukakan pintu untuk istri tercintanya.
"Apa nyonya bos baik-baik saja?" Elang hanya menarik nafas. Melihatnya saja Bian sudah tau jika Mitha memang sedang tak baik saja. Bian segera mengarahkan mobilnya ke jalan pulang.
"Mas.." Elang menoleh, memastikan istrinya tak kenapa-napa.
"Ada apa Mith?" Tangan besarnya malah refleks mengelus perut rata Mitha, membuat perasaan Mitha menghangat. Berlahan tangan lembutnya ikut membelai tangan Elang.
"Mampir ke toko di depan ya. Belikan aku sari kacang ijo kotak. Aku ingin meminumnya." Elang tentu saja sangat lega. Perkataan dokter tadi sedikit banyak sudah membuatnya sedikit takut.
"Bi, belok bentar ya."
"Siaap bos." Bian segera membelokkan kendaraannya dan memasuki pelataran toserba. Elang bergegas turun lalu masuk, mencari-cari minuman kotak yang diinginkan istrinya. Setelah mendapatkannya dia langsung pergi.
__ADS_1
"Lho..banyak amat mas. Aku kan cuma mau minum satu saja?" Mitha tentu kaget karena suaminya malah membeli satu kardus berisi dua lusin minuman, bukannya satu atau dua biji saja. Tapi Elang tak menjawab. Dia memilih membuka kardusnya lalu memberikannya untuk Mitha, Bian juga dirinya. Mitha melongo.
"Kalian semua juga pengen ini?" Bian terbahak.
"Tidak juga Mith. Tapi kalau ada juga nggak nolak. Lagian kamu nggak hafal si bos sih. Belanjanya pasti party besar." kata sang sekretaris sambil menyedot minumannya. Tapi ada satu hal yang membuat dua pria itu melotot di tempatnya. Mitha bisa menghabiskan dua kotak sekaligus sekali minum. Sekarang bahkan wanita muda itu sudah menghabiskan enam kotak hanya dalam beberapa menit saja hingga dia bersendawa sambil mengelus perutnya.
"Aaaahh...leganyaa...baby kau sudah kenyangkan?" Elang yang melihatnya tentu langsung menatapa Bian yang juga balik menatapnya.
"Sepertinya calon bayi kalian jagoan bos." lirihnya. Elang masih menatap istrinya tak percaya. Tak biasanya Mitha begitu menyukai sesuatu.
"Untung aku belinya satu kardus Bi. Kalau cuma satu dua mungkin aku akan dibikin pusing keluar masuk toko itu." balas Elang tak kalah lirih. Sedang Mitha? dia tampak acuh saja sambil mengelus perutnya.
"Mas, mau makan siang pakai apa? biar kumasakkan." Elang yang baru saja berganti pakaian rumahan mendekat, memegang pundak istrinya lalu mendudukkannya di ranjang.
"Mulai hari ini jangan melakukan apapun. Biar pembantu yang melakukannya. Fokus saja pada kesehatanmu dan bayi kita." Sebuah kecupan lembut berlabuh di kening si cantik.
"Apa mas Elang bahagia?" Elang terkekeh lalu mencium pipi istrinya gemas.
"Tentu saja aku bahagia sayang. Pria mana yang tak bahagia saat tau dia akan mempunyai anak dari wanita yang dicintainya?" Mitha menatap suaminya dalam. Cinta? Benarkah Elang barusan mengatakan cinta padanya? tapi tema mereka hari ini adalah anak bukan? Ahh...Mitha gamang.
__ADS_1
"Mas Elang mencintai calon bayi kita?" Elang memeluk Mitha dan menenggelamkannya dalam dada hangatnya.
"Kalian berdua." bisiknya.
"Berarti jika bayi ini tak ada mas Elang...."
"Ssst...ada atau tidak bayi ini aku bahkan sangat mencintaimu istriku...Paramithaku." Seulas senyum terukir di bibir Mitha.
"Aku tau." balasnya seraya mencari tempat nyaman di dada suaminya. Tangan Elang kembali mengelus perutnya penuh kasih.
"Mulai besok berhentilah bekerja. Aku tak mengijinkannya."
"Biar mas Elang bisa bebas karena aku lagu hamil dan nggak boleh diajak begituan kan?" Sungut Mitha kesal. Entah kenapa dia jadi gampang marah dan cemburuan sekarang.
"Bebas? Kau bahkan bisa memantauku kapan saja saat aku di kantor. Cctvnya akan terhubung ke ponselmu nanti." Bolehkah Mitha bersorak bahagia sekarang? suaminya bahkan sudah berpikir jauh kedepan sebelum dia kembali kesal.
"Dan soal kau tak bisa diajak begituan aku juga tak keberatan. Apa kau lupa aku bahkan bisa menahannya amat lama saat kita baru menikah dulu."
"Itu karena mas Elang belum jatuh cinta sama aku. Lagian juga belum tau rasanya." kali ini Mithalah yang tergelak hingga matanya berair.
__ADS_1
"Siapa bilang? Aku sudah pernah ngomongkan? Kalau aku sudah jatuh cinta padamu jauh hari sebelumnya. Dan soal rasa merasakan....aku bukannya masih bisa minta jatahku walau tak dimasukkan? kita bisa pakai cara lain dulu." bisik Elang sensual di telinga istrinya.