Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Bertengkar lagi


__ADS_3

"Kakak mau mandi sekarang? aku sudah menyiapakan air hangatnya." ujar Mitha lembut pada Elang yang masih bermalas-malasan di sofa kamar mereka. Mitha menuju lemari besar, meyiapkan pakaian ganti untuk sang suami lalu menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Aku bukan kakakmu lagi Paramitha putri pratama abimana." sembur Elang ketus. Terlihat sekali dia tidak suka pada panggilan yang disematkan Mitha padanya. Sekilas sorot mata tajam itu melirik Mitha yang juga menatapnya dari pantulan cermin. Berlahan Mitha meletakkan hair dryernya lalu mendekati Elang.


"Kau kakakku, dan selamanya akan begitu." Rahang Elang mengeras. Pria itu bangkit dari duduknya dan berdiri saling berhadapan dengan Mitha.


"Apa itu karena pemuda bernama Andra itu?" Mitha melayangkan tatapan aneh pada Elang. Kenapa membawa-bawa nama Andra? Padahal mereka tak pernah membahas itu sebelumnya, Elang juga tak kenal Andra. Bagaimana suaminya itu tau perihal sahabatnya itu? atau jangan-jangan.....


"Kakak membuka aplikasi ponselku?" Pasti itu. Tadi dia lupa tetap menaruh ponsel itu diatas meja saat pergi ke toilet. Pasti Elang membaca chattingannya dengan Andra. Bercanda...ya, dia hanya bercanda saja. Melepas lelah dan beratnya beban pada hari pertama bekerja.


"Kalau iya kenapa?" tanya balik Elang makin terdengar sinis. Dia mengeluarkan ponsel Mitha dari saku celana bahannya. Tentu saja Mitha amat terkejut karenanya. Bisa-bisanya dia melupakan ponselnya sejak pulang tadi. Benar-benar ajaib.


"Kakak salah paham." balasnya mencoba menguasai diri dibawah tekanan dan tatapan tajam sang Elang. Tak mudah baginya untuk menutupi semuanya dari pria yang bahkan membuatnya begitu ketakutan saat ada di dekatnya sejak kecil.


"Salah paham apanya? kau bahkan tak pernah memberitau aku kapan acara wisudamu. Padahal aku suamimu. Orang yang harusnya mendampingimu di acara itu. Kau malah memberitau pemuda itu lebih dulu." Elang terdengar makin berapi-api. Sebagai lelaki, egonya sudah ternoda. Dia seperti tidak dihargai sama sekali.

__ADS_1


"Kembalikan ponselku, kak!" Mitha sudah menadahkan tangan kanannya, tapi Elang tetap bersikap cuek saja.


"Never." jawabnya dingin. Mitha tersenyum kecut seraya menurunkan tangannya. Percuma dia meminta, Elang tak akan merubah keputusannya.


"Aku minta maaf kak. Tapi aku sama sekali tak bermaksud....."


"Apa??!!" sentak Elang emosi. Dia tau Andra dan Mitha hanya bercanda di grup berisi empat sahabat itu. Andra tidak mengechat istrinya secara pribadi. Tapi hatinya tiba-tiba terasa panas saat melihat Andra begitu dekat dengan istrinya. Curhatan dan perhatian pemuda itu pada Mitha seakan tak ada habisnya.


"Aku dan Andra hanya berteman. Tidak lebih. Tolong hargai kami yang masih berusaha saling merelakan." Yang dikatakan Mitha adalah benar. Dialah yang merasa amat bersalah pada seorang Andra. Pemuda itu begitu lapang dada saat tau dia sudah menikah tanpa memutuskan dulu hubungan dengan dirinya. Andai dia pemuda egois, tentu sekarang mereka tak lagi bersahabat. Jika ada yang paling bersalah diantara semua ini, Paramithalah orangnya. Mitha yang berjanji menunggunya, menyemangatinya dan menjadikan dirinya satu-satunya harus menikah tanpa sekalipun berpamitan padanya.


Degh....tak terasa jemari Mitha terkepal kuat. Wanita itu lagi. Ratu ulat itu akan tetap jadi biang kerok jika terus-terusan dibiarkan.


"Itu berarti selama ini kalian masih saling cinta. Jadi perkataan kakak tempo hari padaku adalah sebuah kebohongan begitu?" Mitha mengigit bibirnya yang bergetar. Baru beberapa hari lalu Elang mengatakan alasannya dekat dengan Sindy, sekarang perkataannya lain lagi.


"Kalau kau tak bisa melupakan Andra, kenapa aku harus melupakan Sindy?"

__ADS_1


"Kakak...kami berteman sejak TK. Bukan hanya aku, Zahra dan Gea juga teman kami. Tolong mengertilah."


"Aku dan Sindy juga berteman dari SMP. Lalu apa yang harus kumengerti?" Sebulir air mata tumpah di pipi Mitha. Namun gadis itu dengan cepat mengusapnya.


"Kita sama-sama punya masa lalukan? aku tidak akan memaksa kakak melupakan apapun, atau menjauhi siapapun. Kita akan menjalani perjodohan ini tanpa menganggu satu sama lain."


"Kalau itu maumu baiklah. Deal!" Ujar Elang acuh. Mitha membalikkan tubuhnya sebelum air mata kembali tumpah dipipi mulusnya. Terlalu naif jika dia menangisi keputusannya sendiri. Elang adalah sosok yang akan sulit dia jangkau sejak kecil. Sekarangpun dia hanya memilikinya sebatas formalitas. Dia punya raganya, tapi tidak hatinya.


"Mau kemana?" Mitha menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu.


"Ke kamarku."


"Siapa yang menyuruhmu tidur terpisah denganku?" Mitha menarik nafas berat. Dadanya terasa begitu sesak sekarang.


"Aku yang ingin tidur di kamarku." ujarnya lalu bergerak cepat meninggalkan kamar itu. Dia rindu mama papanya, dia kangen membenamkan kepalanya pada boneka doraemon kesayangannya. Dia ingin tenang.

__ADS_1


__ADS_2