Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Aunty


__ADS_3

Tujuh belas jam menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menuju London membuat Mitha merasa sangat capek. Tubuhnya terasa pegal-pegal, namun sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk segera bertemu sang mama walau hanya tingga jasadnya saja. Dia sudah abai akan mimpinya naik pesawat, berswafoto di London ataupun angan-angan kosong lain yang sudah dia susun dari jauh hari sebelumnya. Semuanya sudah menguap seiring rasa duka yang mendera hati dan jiwanya.


Sebuah limosin mewah mendekat saat mereka sampai di lobi bandara. Seorang berseragam lengkap dengan topinya datang tergopoh menghampiri mereka bersama seorang bule gagah berjas hitam yang langsung memeluk Elang penuh kerinduan.


"Ahh...kakak..syukurlah kau datang tepat waktu. Ayo pulang, satu jam lagi aunty akan dimakamkan. Dan dia...." pria itu menatap Mitha intens lalu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Kau pasti Paramitha kan? aunty banyak cerita tentangmu. Benar, kau sangat cantik. Ohh ya..aku Richard sepupu kak Elang." ujarnya memperkenalkan diri. Mitha menjabat tangan itu ragu. Matanya terus terarah pada Elang yang bersikap acuh. Rupanya peristiwa kemarin benar-benar masih membekas di dalam benaknya.


"Senang berjumpa denganmu kak Richard." balas Mitha sopan. Richard tertawa ringan sambil membukakan pintu bagi mereka.


"Panggil aku Richard saja. Kau istri kakakku." timpal Richard lagi. Mitha hanya mengangguk, berusaha tersenyum walau terpaksa. Kesedihan itu telah meraja. Pun tak ada reaksi dari Elang saat terjadi interaksi dua anak manusia berbeda genre tersebut. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat dengan tatapan sayu. Tubuhnya mungkin ada disini, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Dia seolah berada pada dimensi yang lain.


"Bagaimana keadaan papa." tanyanya amat lirih seperti sedang bergumam. Richard yang berada di kursi depan dekat dengan sopir keluarga mereka seketika menoleh.


"Auncle Abi...masih koma." jawabnya tak kalah lirih dari Elang. Darah Mitha seolah tersirap.

__ADS_1


"Apa ..apa yang terjadi pada papa?" Elang menoleh, sesaat kemudian wajahnya menjadi amat sendu.


"Papa koma sejak kemarin." dan Mitha kembali menangis terisak. Air mata membanjiri pipi mulus khas wanita Asia itu. Mata itu kembali sembab. Dia sama sekali tak tau siapa orang tuanya. Yang dia tahu adalah Abi dan Marialah orang tuanya. Orang yang sudah mencurahkan semua kasih sayang padanya. Orang tua sekaligus mertuanya. Semua kenangan indah bersama mereka kembali membayang.


"Turunlah kak, kita sudah tiba." suara Richard memutus kesedihan pasangan suami istri itu. Elang membuka pintu samping lalu turun diikuti sang istri. Suasana haru langsung terasa saat keduanya menjejakkan kaki di mansion kakak Hans.


Beberapa pelayat yang datang dan merupakan kolega bisnis Elang menyalami dan menyucapkan kata bela sungkawa. Elang terus berjalan menuju ruang utama hingga berjumpa dengan sang kakek yang duduk termenung disamping peti jenasah putri sulungnya, Maria. Sesekali pria itu menyeka matanya yang berair. Disampingnya, Malika putri bungsunya, ibu dari Richard dengan setia menaninya.


"Opa..." pria tua itu langsung menengadahkan kepalanya. Elang memeluknya sangat Erat, menumpahkan semua kesedihan dalam hatinya. Tangan keriputnya membelai kepala sang cucu.


Proses pemakaman Maria berjalan cepat di tanah khusus milik keluarga Larsens. Yang berjajar disana adalah seluruh keluarga Larsens yang secara khusus membeli tanah disamping pemakaman umum untuk keluarganya. Semua pelayat sudah pulang. Yang tersisa hanya keluarga inti dan para pengawal. Kakek Hans mendekati cucu sulungnya, mengelus pundaknya.


"Doakan mamamu lalu kita pergi dari sini." Seketika Elang menatap sayu wajah kakeknya. Apa pria itu tidak bersedih atas kepergian mamanya? kenapa harus menyuruhnya cepat pergi saat dia masih ingin meratapi kepergian wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kita harus mengurus papamu. Kakek tidak ingin Maria tidak tenang di alam sana karena kakek mengabaikan pesan terakhirnya."

__ADS_1


Degh...


Elang segera berdiri dari posisi jongkoknya. Meraih kembali lengan Paramitha agar ikut berdiri bersamanya.


"Mari kesana kakek." ucapnya tegas. Kakek Hans menatap lurus Elang dan mendahului langkah semua orang. Richard dan mamanya membimbing pria tua itu berjalan berlahan menuju mobilnya diikuti Elang dan Mitha.


"Apa keadaan papa begitu parah?" semua orang terdiam mendengar pertanyaan Elang. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.


"Lalu siapa yang menemani papa dua hari belakangan ini?" Elang langsung merasa khawatir memikirkan kondisi jantung papanya yang bermasalah tanpa pendampimg saat dia berbaring tak berdaya dinegara yang jauh dari asalnya.


"Mama yang selalu menemani uncle kak." kali ini suara Richard yang memecah ketegangan. Tentu saja Malika langsung terkejut karenanya.


"Aunty....????" ulang Elang seraya mengalihkan pandangannya pada sang bibi.


"Itu hanya karena aunty saja yang tidak bekerja formal seperti merek Lang. Jangan salah paham." Entah kenapa Malika terlihat risau akan celetukan putra semata wayangnya. Gestur tubuhnya juga terlihat gugup saat memberi alasan tadi. Sayangnya Elang masih belum sepenuhnya menyadari perubahan yang terjadi di raut wajah sang bibi.

__ADS_1


"Aku sangat berterimakasih padamu aunty." balas Elang pendek. Setelahnya hanya kesenyapan yang terasa. Tak ada pembicaraan yang terjadi hingga mereka tiba di halaman rumah sakit dimana Abimanyu dirawat.


__ADS_2