
Mitha dan Elang bergandengan tangan memasuki koridor rumah sakit. Semalam Zahra sudah dipindahkan kembali ke ruang perawatan karena kondisinya yang mulai stabil meski tak sepenuhnya baik. Setidaknya, gadis yang pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta terbesar di kota itu sudah mendapatkan kesadarannya. Tentu saja Gealah yang pertama memberi kabar pada Mitha pagi itu.
"Sayang tunggu..." Elang mencekal kuat pergelangan tangan Mitha yang akan terus berjalan memasuki kamar perawatan. Jemarinya menunjuk pada kaca transparan yang ada di pintu masuk. Mata Mitha membulat sempurna saat mendapati Gea dan sekretaris Bian sedang tidur bersama di sofa dengan posisi aneh. Tak aneh bagaimana? bukannya dua orang itu seperti kucing dan anjing saat bertemu? nyatanya Gea sudah tidur nyaman sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bian. Pria itupun tak bisa dikatakan memusuhinya karena posisinya yang juga melingkarkan lengan dipundak Gea.
"Apa yang kau pikirkan mas?" tanya Mitha dengan wajah kesal. Elang sama sekali tak ingin ribut karena masalah orang lain saat hari masih sepagi itu. Senyum di wajah istrinya saja sudah membuatnya bahagia.
"Nothings."
"Kalau begitu ayo!!" Tapi Elang bersikeras berhenti ditempatnya dan tak melepaskan cekalannya dilengan sang istri yang bergerak menariknya.
"Apalagi sih mas?" kali ini wajah cantik Mitha sudah merengut.
"Sayang perutku tiba-tiba lapar. Temani aku ke kantin sebentar ya." ungkap Elang dengan wajah memelasnya. Mitha menarik nafas kesal. Tapi dia cukup tau jika memang suaminya belum sarapan karena mereka yang tergesa-gesa setelah menerima telepon Gea tadi.
"Cuma alasan agar membiarkan mereka berduaan lebih lamakan? Jangan-jangan mereka beneran pacaran dan mas Elang merahasiakan semuanya dari aku." ketus Mitha masih bersungut kesal. Sekaranv ganti Elang yang menarik nafasnya panjang. Menghadapi istri yang sedang merajuk memang butuh keahlian dan kesabaran diatas rata-rata.
"Aku benar-benar tak tau masalah itu. Kau selalu bersamaku dua puluh empat jam. Apa aku pernah mengurusi pribadi Bian?" kali ini pertanyaan dengan nada rendah dan tatapan tajam harus dia lontarkan agar Mitha tau jika dia tak suka dituduh tanpa sebab. Bukan tipe dirinya juga untuk mengurusi kehidupan orang lain.
"Hmmm...maafkan aku mas." Mitha cukup peka pada perubahan ekspresi wajah suaminya. Harusnya dia mengikuti kemauan Elang untuk tak mengganggu privasi orang lain meski itu sahabat baiknya. Suaminya itu memang lebih dewasa dan tau bagaimana harus bertindak dalam situasi berbeda.
__ADS_1
"Yuk. Katanya mau ke kantin."
"Mitha, sudahlah. Aku juga tak begitu lapar. Kita tunggu disini saja sampai mereka bangun."
"Nungguin mereka bangun sama saja menunggu hujan di musim kemarau mas. Sudahlah, kita tinggal saja dulu. Yang penting Zahra ada yang menemani."
"Kamu salah Mith. Bian itu sangat terlatih. Dia akan bangun saat mendengar pintu ini di buka." Mitha melongo kaget. Apa memang Bian sehebat itu?
"Jadi ke kantin tidak? atau mas Elang mau kita sarapan di luar saja dulu?" tawar Mitha. Bagaimanapun dia tetap merasa bersalah karena mengabaikan suaminya hingga melupakan sarapannya.
"Hmmmm....di kantin saja."
"Baiklah, ayo!" dan dua sejoli itu kembali bergandengan mesra hendak pergi dari sana sebelum....
"Kau sudah bangun? Kukira terlalu nyenyak tidur sambil memeluk anak gadis orang." sindir Elang pedas. Tapi Bian yang sudah biasa mendengar kata-kata sang bos hanya memilih diam menulikan telinganya.
"Semua tak seperti yang kalian lihat. Kami kecapekan karena dini hari tadi tuan muda Permana itu menyuruh datang. Pagi ini dia malah sudah ada di kantor polisi untuk menjebloskan papa tirinya ke penjara."
"Dia bertindak sendiri." desah Elang kecewa. Padahal dia berharap Andra tak bertindak gegabah. Orang seperti Permana punya banyak orang yang siap berdiri membelanya, juga amat pintar menghilangkan bukti dan saksi.
__ADS_1
"Tidak. Ada saya dan gadis itu di belakangnya."
"Apa Zahra sudah sadar?"
"Hanya beberapa menit saja. Tapi saya pastikan gadis itu akan segera pulih dan bisa bersaksi." ujar Bian amat yakin.
"Kau terlalu percaya diri Bi."
"Kepercayaan seorang kakak yang amat besar pada sebuah nyawa. Dia sudah terlalu banyak menderita di luar sana sendirian." Mata Bian berkaca. Tapi buru-buru pria itu menengadahkan kepalanya untuk menghalau lelehannya. Laki-laki tak boleh nangis.
"Adik?" Ulang Mitha dan Elang bersamaan.
"Dia Sarah Amelia aszahra yang saya cari selama ini bos. Dia adik bungsu saya. Saat tsunami itu memisahkan kami, aku mengira dia sudah meninggal karena sudah putus asa mencari." kali ini Bian sama sekali tak bisa membendung air matanya hingga Elang harus menepuk bahunya lembut untuk beberapa kali agar membuatnya kuat. Tsunami itu memang memporak-porandakan keluarga Bian, menewaskan orang tuanya juga menghilangkan adiknya yang masih berusia tujug tahun kala itu. Entah siapa yang menolong Zahra hingga bisa sekolah dan tumbuh sebesar itu. Mungkin nanti jika gadis itu sadar, Bian akan banyak bertanya padanya.
"Kau......"
"Saya baru saja tau identitasnya dari rumah sakit ini. Dia juga punya tanda lahir yang sama seperti milik Leo. Ahh ya Tuhan...kenapa selama ini aku tidak tau jika itu Sarah?"
"Itu memang nama lengkapnya dari dulu kak." ujar mitha lirih.
__ADS_1
"Itu sebabnya kau begitu peduli padanya. Ada sambung rasa diantara kalian rupanya." timpal Elang.
"Mungkin. Tapi saya dan Leo tak akan pernah tinggal diam. Permana harus mendapatkan balasan setimpal karena perlakuannya pada adik saya." ujar Bian tegas dan berapi.