
"Dari mana saja kamu!!" bentak Elang kala Mitha usai mengunci pintu. Hampir saja Mitha melonjak kaget karenanya. Suami anehnya itu berdiri bersandar pada pilar besar sambil bersedekap, menatapnya amat tajam.
"Itu...aku..." Mitha yang terkejut tentu saja berubah gagap karena tak menyangka jika Elang sudah ada di rumah, padahal ini masih jam 3 sore. Dia dan Gea terlibat pembicaraan asyik dan berjalan-jalan sebentar untuk melepas beban yang menimpa dirinya hingga sedikit lupa waktu. Lagian dia juga rindu kumpul atau jalan bareng Gea.
"Jangan karena mama papa nggak ada dirumah lalu kamu bisa bertindak seenaknya." sarkas Elang lagi, membuat Mitha hanya terdiam.
"Maaf." balasnya pendek. Dijawabpun percuma. Bukannya masalah berakhir yang ada malah kakak galaknya itu akan makin menjadi menegurnya.
"Jawab pertanyaanku. Kau kemana?" desak Elang lagi.
"Aku ke sekolah, ketemu Gea."
"Bukannya aku sudah melarangmu ke sekolah itu?"
"Kakak hanya melarangku mengajar, bukan kesekolah. Lagian apa salahnya jika aku kesekolah? Itu lebih baik dari pada aku menganggu acara makan pagi kakak dengan yank Sindy." sindir Mitha pedas.
"Apa kau cemburu pada kami?"
"Apa? cemburu? untuk apa kak?" tanya Mitha sinis. Cemburu atau tidak itu bukan urusan Elang.
"Syukurlah. Jadi kau tidak perlu menyiapkan hati melihat kami jalan atau saat aku menginap ke rumahnya." Ada yang sakit di sudut hati Mitha. Jika dia berkata tidak cemburu, tak seharusnya juga Elang berkata hal menyakitkan itu. apa tadi? Jalan? menginap? sebebas itukah pergaulan mereka? tapi apa pedulinya?
"Silahkan saja kak. Lagian aku tidak selera dengan om-om." sahut Mitha sambil berlalu ke kamarnya sendiri. Tidak ada papa mamanya dirumah bukan? Jadi dia bisa tidur bebas dimanapun tanpa di ganggu kakak menyebalkan berlabel suami itu. Saatnya me timeeeeee🤗🤗
__ADS_1
Elang mengepalkan tangannya kesal. Benar-benar istri tak berakhlak. Berani sekali Mitha menyebutnya om-om diusia tiga puluhan seperti sekarang. Om-om dari mananya? dia bahkan masih terlihat lebih muda diusianya, tampan dan jangan berkata selain ini...penuh pesona.
"Akan kubuat kau menyesal. Dasar gadis aneh." gumamnya penuh kekesalan.
Malam tiba saat mitha merasa perutnya amat lapar. Sejak siang tadi dia hanya dikamarnya, menonton drakor favoritnya atau sekedar berkirim pesan di grup chat trio macannya. Hanya sesekali dia melirik grup kampus yang bolak-balik berbunyi karena beberapa pengumuman. Hari ini mood kuliahnya sedang ancur-ancuran. Apalagi saat-saat penyelasaian skripsi seperti sekarang...Mitha dalam titik jenuh.
Bau harum masakan menggugah seleranya untuk turun ke dapur. Pasti amat lezat. Tumben-tumbenan bik Ijah memasak beginian. Biasanya mamanya yang membuat dapur menguarkan aroma ini.
"Waaahh...steak sapi. Hmmm...bibik tau saja aku lagi lapar." soraknya senang saat melihat seporsi steak yang masih mengebulkan asap, sedap.
"Mau apa kau?!" Elang yang baru membersihkan bekas memasaknya membentak keras kala melihat Mitha sudah meraih steak miliknya.
"Makan." balas Mitha dengan wajah heran. Karena terlalu fokus ke makanan dia jadi tak melihat sekelilingnya. Elang juga luput dari penglihatannya.
Mitha berjalan lesu ke rak dapur, mencari sesuatu disana, juga membuka kulkas, tapi tak ada apa-apa disana. Dia akan memanggil bik Ijah saat Elang sudah membuatnya terpaku.
"Bik Ijah lagi pulang kampung. Bik Mun nungguin anaknya di rumah sakit. Jangan manja! ini yang katanya mama istri idaman? taunya tiduran nggak mikir punya suami juga. Palingan juga cuma pinter cari muka biar dijodohkan dengan anaknya. Takut diusir dari rumah." ejek Elang dengan wajah menyebalkannya. Mitha hanya menghela nafas panjang. Sudah biasa dia mendengarkan omongan pedas dari elang. Kebal sudah dia karenanya.
Tanpa banyak bicara, dia mengambil ayam dan membalurinya dengan bumbu lalu menggorengnya. Tangannya juga dengan trampil mengambil bahan-bahan lain dan membuat sambal tomat diatas cobek kecil favoritnya. Mitha bukan tipe rewel soal makanan. Sebenarnya bukan tak bisa membuat steak seperti bikinan Elang, tapi dia sudah tidak punya selera memakannya. Eneg lihat muka Elang.
Mitha duduk diujung meja makan, mengambil jarak dari Elang. Dia membawa cobek kecilnya ke meja setelah menggeprek ayamnya dan menyempurnakan tampilannya dengan potongan ketimun dan selada kesuakaanya.
Elang menatap makanan di depan Mitha. Ayam goreng itu terlihat sangat enak dengan bumbunya yang kekuningan dan aroma yang menggugah selera. Apalagi sambalnya...dia rindu sambal bikinan mamanya yang pastinya tak pernah dibuat dirumah opanya yang hanya tau masakan ala barat. Dalam hati dia berdoa agar Mitha tak menghabiskannya.
__ADS_1
Ponsel Mitha berbunyi kala dia baru makan beberapa suapan. Potongan ayamnya bahkan baru dua kali dia suwir tepinya. Dia melirik identitas pemanggil. Zahra. Bergegas dia mencuci tangannya dan membuka pintu samping, menuju bangku taman dan duduk menelepon Zahra yang pastinya akan menceritakan pengalaman serunya setelah tadi mengirimkan beberapa foto dirinya bersama pembantu opanya sedang berbelanja kebutuhan dapur di mall.
Lima menit...sepuluh menit..hampir lima belas menit Elang menunggu Mitha berhenti ngobrol di telepon, tapi hasilnya sia-sia. Wanita memang begitu saat bertemu dengan sesama bianh gosipnya. Tak tau waktu. Bahkan makan saja sampai ditingglakan. Seperti tak punya waktu lain saja.
Tapi ngomong-ngomong soal makan, Elang jadi teringat niat awalnya mencicipi makanan Mitha. Dia bergegas mencuci piring bekas steaknya lalu mengambil potongan ayam dan mencolekkannya pada sambal yang merah merona.
"Kenapa rasanya sangat ....hmmm...lezat." gumamnya sambil mengambil lagi dan lagi hingga habis tak bersisa. Rasanya sangat pas dilidahnya. Walau terlihat merah, sambal buatan Mitha tak sepedas bayangannya. Ada rasa gurih dan manis yang tercampur menjadi racikan yang pas dilidah. Elang segera kembali ke kursinya dan pura-pura menikmati kopinya saat Mitha mengakhiri obrolannya.
"Hey...kemana ayamku?? Kok hilang??" pekiknya sambil memeriksa piringnya hingga melihat kolong meja.
"Kakak yang memakannya?" tuduhnya sadis. Terang saja. Hanya ada Elang disana.
"Jangan menuduh sembarangan. Kucing yang memakannya." sanggah Elang tak beralih dari ponselnya.
"Kucing? tak ada kucing dirumah ini kak. Kakak jangan mengada-ada." protes Mitha kesal. Bagaimana tidak kesal, dia masih sangat lapar.
"Kau tak lihat pintu samping terbuka. Apa kau tak ingat jika semua tetangga kita memelihara kucing? salah sendiri meninggalkan makanan."
"Kucing tidak suka sambal kak."
"Buktinya dia suka." kukuh Elang pada argumennya.
"Aku tidak yakin."
__ADS_1
"Aku bilang kucing ya kucing! Jangan banyak mengeluh seolah aku ini kucingnya." geram Elang tajam. Mitha diam, percuma dilanjutkan. Tanpa membersihkan piringnya dia berlalu kembali ke kamarnya. Lebih baik lapar dari pada terus melihat Elang yang menyebalkan.