Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Lagi


__ADS_3

"Aku tidur dulu. Jika kau lapar maka pesanlah makanan." kata Elang yang mulai membaringkan tubuhnya di ranjang hotel yanv berukuran lumayan besar itu. Tangannya terulur meletakkan ponselnya di meja kecil samping ranjang. Sesaat tatapannya mengarah pada Mitha yang baru keluar dari kamar mandi.


Kaos itu ... kaos miliknya yang terlihat kedodoran ditubuh istrinya. Elang hendak mengalihkan pandangannya manakala sudut matanya menangkap paha mulus Mitha yang terpampang jelas di depannya. Wanita itu terlihat risih dan terus memegangi ujung kaos nya yang hanya mampu menutupi separuh pahanya. Mitha terlihat mengigil. Kepalanya celingak-celinguk memindai remote AC.


"Mas, bisa kecilkan suhunya?" pintanya dengan suara bergetar. Elang segera meraih remote di sampingnya, mematikan AC dengan segera. Udara memang sangat dingin diluar. AC hanya akan memperparah hawa dingin di kamar itu.


"Mau kemana?" tanya Elang begitu Mitha melewati ranjang mereka.


"Kesana." jawab Mitha seraya duduk di sofa kecil yang hanya muat dua orang disana. Elang mengerutkan dahinya.


"Aku kesini karena ingin kau istirahat."


"Katanya mas mau tidur, kenapa malah ngurusin aku sih?" ketus Mitha sebal. Memangnya suaminya itu berharap apa darinya? bahwa dia akan berbagi tempat tidur dengannya setelah mengatainya wanita rendah,murahan dan memalukan? Pikiran yang picik. Mitha segera menelepon resepsionis dan memesan selimut tambahan ke kamarnya. Lebih baik tidur di sofa ini dari pada kehilangan harga diri.


"Untuk apa pesan selimut lagi? Ini sudah sangat tebal. Jika kau kedinginan maka kau tinggal kemari dan menutupi tubuhmu."


Tak ada jawaban. Mitha lebih banyak diam seolah tak menghiraukan perkataan Elang hingga pintu diketuk dari luar. Tentu saja Mitha spontan berlari membukanya. Seorang pria muda yang merupakan room boy berdiri tegak disana, mengulas senyum ramahnya.


"Selamat sore nona. Ini selimut pesanan anda." katanya sopan. Mitha segera menerimanya lupa jika dia tak memakai bawahan. Mata sang room boy menatapnya aneh.


"Apa masih ada yang bisa saya bantu?"


"hmmm...tidak, terimakasih."


"Nama saya Gio. Mungkin kita bisa bertemu dilain waktu." ujarnya mengulurkan tangannya. Mau tak mau Mitha menerima uluran tangan itu.


"Saya Paramitha. Maaf saya..."


"Sayang cepatlah masuk. Aku menunggumu." potong Elang dengan suara dibuat-buat. Hampir saja Mitha terpekik kaget saat suaminya itu muncul sambil bertelanjang dada, memamerkan perut sickpack dan dada bidangnya. Apa yang Elang lakukan? bukannya tadi dia sudah berpakaian lengkap? kenapa harus lepas baju ditengah hawa sedingin es ini? mata Gio menatap nyalang kearahnya. Terlihat sekali jika pria muda seusia Mitha itu kecewa.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi nona." katanya lalu secepatnya melangkah menjauh. Mitha juga segera menutup pintu kamar, berjalan lirih melewati Elang.


"Wanita murahan memang beda ya? dingin-dingin begini masih bisa menggoda pria lain, roomboy pula. Selera yang yah....bisa dibilang rendah." sindir Elang menusuk hati dan perasaan Mitha. Lagi-lagi wanita muda itu memilih diam. Dia lebih fokus membaringkan tubuhnya lalu membentangkan selimut untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya cuaca.


"Apa begitu kebiasaanmu dari dulu hmmm? katakan apa mereka semua tidak bisa memuaskanmu diatas ranjang hingga kau terus mencari yang bisa melakukannya?" tukas Elang lebih berani. Entah kenapa dia bisa mengatakan rentetan kalimat pedas itu dari bibirnya. Mitha mengalihkan tubuhnya memunggungi Elang. Digigitnya bibir bawahnya yang bergetar. Hatinya terasa teriris sembilu.


"Ini yang dibilang mama papa menantu idaman? kalau yang begini dinamakan idaman maka semua pria lebih baik menikahi janda bukan? statusnya jelas dan yang pasti tidak mengecewakan suaminya dari pada yang mengaku gadis tapi rasanya janda." Elang tersenyum sinis lalu membaringkan tubuhnya kembali. Tubuhnya terasa penat karena perjalanan panjangnya, matanya juga memberat dengan perasaan dongkol yang tiba-tiba hadir dalam benaknya.


Mitha menyingkap selimutnya beberapa saat setelah merasakan tak ada gerakan disekitarnya. Kaki jenjangnya manapak dilantai. Dia melihat ranjang sekilas, tempat dimana Elang tertidur pulas disana. Berlahan dia masuk ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan miliknya tadi. Tak apa belum sempat dicuci. Toh dia hanya perlu sebentar memakainya. Disambarnya tas kecilnya lalu keluar. Langkah panjangnya membawa tubuh semampai itu menuju lift menuju lantai dasar.


"Bisa pesankan saya taksi secepatnya mbak?" tanyanya lembut pada resepsionis yang tadi menerima kedatangannya bersama Elang. Tentu saja wanita itu terkejut dibuatnya. Pasti dia sedang sibuk berspekulasi dengan berbagai dugaan dalam rongga kepalanya. namun dia cepat menguasai diri dan buru-buru mengangguk sopan Mitha yang tersenyum ramah padanya.


"Untuk tujuan mana nona?"


"Jakarta." sahut Mitha pendek. Sebenarnya dia bisa saja memesan taksi online, tapi disaat hujan seperti ini dia tak bisa mengambil resiko. Tak deras memang, namun akan lebih aman jika dia menggunakan layanan hotel untuk mendapatkan taksi yang mengantarnya.


Dua jam berjalan menembus hujan. Tak ada suara baik dari pengemudi maupun penumpang itu. Mereka sama-sama diam. Mungkin sang sopir cukup tau diri saat melihat wajah penumpangnya terlihat murung dari kaca depan. Ya benar, Mitha lebih banyak melamun saat itu.


"Kita ke arah mana mbak?" tanya pengemudi tadi sambil melirik penumpangnya. Mereka sudah jauh memasuki Jakarta. Mitha menengok jalanan.


"Jalan Setiabudi gang 5 pak." jawabnya cepat. Sang sopir segera melajukan kendaraannya sesuai alamat yang diberikan Mitha, berhenti di depan sebuah rumah lumayan besar dengan halaman luas nan asri. Mitha turun dan berjalan lambat kesana.


"Mitha!!!" pekik Gea kaget. Gadis berperawakan bak polwan itu memeluknya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kamu...baik-baik saja kan?" tanya Gea ragu. Wajah Mitha sudah menunjukkannya tanpa dia bertanya atau mendapat jawaban.


"Apa...pak Elang penyebabnya? kalian..bertengkar???" sungguh Gea tak enak hati saat menanyakannya. Mitha hanya mengangguk samar.


"Boleh aku menginap disini Ge?" tanya Mitha dengan suara bergetar. Matanya berkaca. Gea buru-buru memeluknya.

__ADS_1


"Aku sangat sedih Ge...." ungkap Mitha menitikan air mata.


"Ya...ya...menginaplah disini. Kau mau dikamarku atau di kamar tamu?"


"Bisa biarkan aku sendiri Ge? Aku...."


"Tentu Mith...tentu." sahut Gea cepat. Dia segera membawa sahabatnya itu ke kamar tamu. Hatinya terasa perih mendengar tangisan Mitha.


"Istirahatlah, tenangkan dirimu. Ini teh hangat untukmu. Jika lapar atau butuh sesuatu just call me okey?" Katanya sebelum menutup pintu kamar itu.


"Ternyata pernikahan itu rumit. Rasanya aku harus berpikir ulang untuk menikah nanti." gumamnya seraya menuju kamarnya sendiri. Masih pukul delapan malam, Gea memilih menuju ruang tengah. Rasanya melihat tv lebih menarik dari pada tidur sore hari seperti sekarang.


Satu jam kemudian bel rumahnya berbunyi.


"Lho..kok ibu balik lagi. Katanya mau nginep dirumah tante Alya dua hari." Gerutu Gea. Sejak sore tadi ibunya memang bilang mau menginap dirumah bibinya karena besok akan menggelar hajatan.


"Buk...ngapain....hah...pak...pak Elang." desis Gea masih terkaget-kaget. Ternyata Elanglah yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam seperti sekarang.


"Apa istri saya disini? bisa panggilkan dia atau biarkan saya masuk?" Wajah Elang yang penuh kekhawatiran membuat tanda tanya besar dibenak Gea.


"Gea jangan berpikir untuk berbohong karena menurut info taksi yang mengantar istri saya, dia menurunkan Mitha disini." kata Elang penuh penekanan.


"I...iya pak..tapi...tapi mungkin Mitha sudah tidur pak. Be...besok saja bapak kesini lagi." balas Gea tergagap. Rasa terkejut dan tertekan membuatnya bodoh mendadak.


"Baiklah. Tapi ijinkan saya menginap juga disini Ge."


"Tapi pak....."


"Saya berjanji tak membuat keributan." tegas Elang, membuat Gea tak bisa lagi berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2