
Suara tangisan terdengar dari dalam ruang persalinan. Bukan tangis seorang bayi, tapi tangisan Zahra yang menyayat hati. Mitha dan Gea serentak memeluk tubuh Zahra yang berguncang dalam kesedihan. Meski awalnya tak menginginkan bayi itu, tapi selama mengandungnya jiwa keibuannya tumbuh juga. Apalagi Andra bersikap seolah itu adalah bayi mereka, membuatnya amat nyaman dalam fase mengandung.
Andra...suaminya itu masih dalam perjalanan pulang dari Surabaya. Sebuah insiden demonstrasi karyawan membuatnya harus turun tangan langsung ke pabrik mereka diluar pulau sejak kemarin. Bukan salah Andra juga jika meninggalkan dirinya karena perkiraan persalinan memang baru dua minggu lagi.
"Bayiku...dia meninggal Mith..Ge..." ratap Zahra penuh kesedihan. Mereka semua tau jika bayi Zahra memang sudah meninggal saat masih dalam kandungan. Zahra sendiri baru tau semalam karena merasa tak ada pergerakan dalam perutnya. Zahra yang curiga membawanya periksa ke dokter. Hasilnya, dokter menyatakan bayinya meninggal dan harus segera dioperasi. Andra yang mendapat kabar itu langsung panik dan menelepon Leo juga Bian. Tapi tak tersambung entah karena apa. Mau tak mau dia menghubungi Elang dan meminta tolong agar mereka menemani Zahra operasi. Elag juga langsung bertindak cepat mengurus segala sesuatunya hingga operasi bisa berjalan. Bian dan Gea bahkan baru datang beberapa menit setelah Zahra masuk kamar operasi.
"Sabar ya Ra. Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukmu." Gea menenangkan iparnya. Mereka sontak menoleh saat pintu terbuka. Seorang pria masuk tergesa dan berlari memeluk Zahra.
"Za...maafkan aku." lirihnya. Tangis keduanya pecah. Zahra kembali histeris .
"Bayiku meninggal Ndra..."
"Bayi kita Za...bayi kita..." keduanya berpelukan dalam duka. Semua melihat betapa sayangnya Andra pada bayi itu. Dia bahkan lebih terguncang dari pada Zahra. Elang mendekati mereka.
"Sudahlah Ndra. Kita selenggarakan pemakaman bayimu. Doakan dia yang akan jadi penolong kalian saat hari kiamat nanti." Andra menyeka air matanya, dia menatap sedih Elang.
"Baik kak." balasnya patuh.
"Ra ..ini mungkin jalan yang Tuhan pilihkan agar kalian bisa memulai hidup baru. Bayi kalian sudah memilih jalannya agar kalian bisa bahagia. Nantinya, dia mungkin akan terlahir kembali secara nyata sebagai bayi kalian. Tuhan tidak akan mengambil sesuatu kecuali menggantinya dengan yang lebih baik. Maka itu bersabarlah." Andra beralih memeluk Elang. Pria itu sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya terlepas dari segala masalah dimasa lalu mereka.
"Terimakasih sudah menjaga Zahra kak." ujarnya tulus.
"Bos...semua sudah siap." Bian masuk dan melapor. Matanya juga memerah menahan tangis karena melihat adik perempuannya yang terus menangis. Bagaimanapun bayi itu tak berdosa. Dia juga keponakannya.
"Mari Ndra..kita makamkan bayi kalian." Leo dan Lusia bergegas berjalan mendahului mereka. Elang merangkul Andra dan membawanya keluar.
"Kalian temani Zahra disini saja. Biar kami yang ke pemakaman." pesan Bian pada Mitha dan Gea. Dua orang perawat masuk dan membawa Zahra ke ruang perawatan. Rasa lelah dan pengaruh obat tampaknya masih menguasai Zahra hingga kembali tertidur usai pemindahan itu.
__ADS_1
"Aku...tiba-tiba aku merasa takut Ge." Gea yang duduk bersebelahan dengan Mitha menoleh.
"Takut apa Mitha? Melahirkan?" Mitha mengangguk. Dia melihat bayi Zahra yang cantik dibawa ke kamar jenasah tadi. Tiba-tiba rasa takut itu menyergapnya.
''Jangan berpikiran buruk Mith. Semua sudah ada takdirnya sendiri-sendiri. Semoga baby kalian lahir normal dan sehat." Gea mengelus perut bulat Mitha yang makin membesar.
"Kamu...kapan nyusulnya Ge?"
"Aku?"
"Iya kamu. Kalian sudah tiga bulan menikah. Ada tanda-tanda gak?" Gea menarik nafas panjang.
"Belum."
"Kamu KB?" Gea menggeleng.
"Nggak. Mungkin belum diberi aja sama Tuhan."
"Kami sudah usaha Mith. Tiap hari bahkan raja onta itu sama sekali tak membiarkan aku absen semalam saja. Dasar onta. Dia pikir aku tak capek apa?" gerutu Gea kesal. Bian memang seperti singa kelaparan saat diranjangnya. Hanya sikapnya saja yang dingin diluar tapi saat dirumah, pria itu tak ubahnya seperti kucing yang manja. Tapi rasanya Gea harus banyak bersyukur menjadi istrinya. Bian adalah pria yang rajin, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Tak ada yang salah pada dirinya. Geapun sudah mencintai dan menerimanya sepenuh hati.
Bulan depan Lusia dan Leo akan menikah. Lengkaplah sudah kebahagiaan mereka. Lusia bukan hanya wanita yang baik hati, tapi juga calon kakak ipar yang klop dengannya. Apalagi rumah mereka akan bersebelahan. Satu kompleks dengan Andra dan Zahra. Hanya Mitha yang terus mengeluh rumahnya kejauhan. Elang yang sangat mencintai istrinya bahkan segera membelikannya rumah dikompleks yang sama hingga mereka bisa lebih dekat.
Lalu kediaman Abimana? Abi dan mama Malikalah yang menempatinya sekarang. Pasangan itu memilih pulang dan menghabiskan masa tuanya di Indonesia setelah kakek meninggal dunia. Putra Malikalah yang meneruskan perusahaan kakek. Malika dan Abi memang hanya akan menghabiskan hari tua mereka dengan bersantai. Apalagi warisan yang diberikan oleh kakek Hans pada mereka sudah lebih dari cukup.
"Sabar Ge..nanti juga dapat kepercayan dari Tuhan kok. Anggap saja kalian masih bulan madu. Aku juga baru hamil setelah setengah tahun menikah."
"Itu kan karena kamu dan si bos nggak melakukan usaha. Sedang aku...."
__ADS_1
"Husstt..kalau usaha yang ikhlas. Sekarang kamu harus berlomba sama Zahra. Siapa yang lebih cepat. Malu dong kalau aku ikutan ambil start lalu hamil anak kedua." Gea melotot kesal.
"Yang ini saja belum lahir..mau coba-coba bikin lagi huhh!!" Mitha tertawa kecil meraba perutnya.
"Mas Elang ingin enam anak." lanjutnya kemudian. Gea hingga terkaget karenanya.
"Enam?? Gilq banget tuh si bos. Mentang-mentang bikinnya enak. Dia mau bikin terus." hardiknya dibalas tawa Mitha. Sontak mereka berhenti tertawa saat Zahra membuka mata.
"Kalian malah asyik ketawa-ketawa tanpa mengajakku. Dasar jahat." maki Zahra kesal.
"Maaf Ra...kita lagi..."
"Mitha benar. Kau ini memang kakak ipar yang kurang usaha. Setelah ini aku akan memulai program membuat bayi untuk Andra. Awas kalau kau kalah Ge!!" mereka saling pandang sebelum tertawa bersamaan. Zahra menggapai tangan kedua sahabatnya.
"Kita harus bahagia." lirihnya kembali dengan mata berlinang. Kepergian bayinya tetaplah pukulan yang besar untuknya. Tapi Zahra harus bangkit. Ada Andra yang harus dia jaga pria itu terlalu baik padanya. Mitha dan Gea serempak mengangguk.
"Kau benar...yang pergi tak akan kembali. Mari menjemput esok yang bahagia. Semangatlah!!" ujar Mitha sejenak sebelum mereka kembali berpelukan. Persahabatan yang indah.
....................The End.................
๐
๐
๐
***Hai readers...terimakasih sudah menemani saya berkarya hingga novel ini tamat. Silahkan beri masukan jika kalian menginginkan ekstra part pada tokoh tertentu. Saya akan selalu mendengarkan masukan kalian dan berusaha menjalinnya dalam sebuah cerita. Sekali lagi terimakasih dan jangan lupa untuk terus mendukung dan memotifasi saya berkarya. Salam sayang selalu๐๐
__ADS_1
Last...mampir ke lapak baru author ya, karena tanpa kalian author recehan ini bukan apa-apa. Tetap semangat dan selamat membaca๐***