
"Owwhh...rupanya kau benar-benar serius dengan wanita ganjen itu ya, hingga mau bersusah payah mengambilkan barang-barangnya kesini. Apa kau sebegitu miskinnya hingga tak bisa membelikannya barang baru selain pemberian orang tuaku?" ucap Elang sinis saat dia melihat bi Ijah memberikan sebuah koper berisi beberapa pakaian dan buku-buku sesuai permintaan Mitha di telepon. Tak ada balasan dari mulut Bian. Pria seumuran Elang itu hanya fokus pada bi Ijah.
"Akhirnya sampah itu pergi juga." ujar Elang dengan tawa berderai. Kali ini Bian sudah kehilangan kesabarannya. Pria itu melepaskan koper itu dan mendekati Elang.
"Dia bukan sampah pak Elang. Dia istrimu. Jangan sampai suatu saat kau menyesal dan memungut sampah itu lalu membawanya kembali ke rumah ini."
"Ambil dan bawa pergi dia. Bagiku dia bukan hanya sampah, tapi duri dalam daging." hardik Elang kasar. Kebenciannya pada Mitha bahkan sudah menutup hati dan kedua matanya.
"Tanpa kau suruhpun aku akan tetap membawanya pergi Lang." Hilang sudah formalitas diantara mereka. Bian bahkan menatap tajam Elang seakan menghujamkan belati di ulu hatinya.
"Itu bagus. Jangan sampai dia kembali melihatku dan jatuh cinta padaku karena aku tak sudi menerimanya." kekeh Elang dengan congkaknya. Bian mengepalkan tangannya.
"Matamu memang buta Lang. Mitha gadis sempurna yang dipilih untuk mendampingimu. Kau pasti akan menyesal!" balas Bian dingin. Pria gagah itu segera berlalu dari sana sebelum emosinya kembali menyala, meninggalkan Elang yang masih tertawa penuh kemenangan disana.
Lega? tentu saja Elang sangat lega. Sepuluh tahun sudah Mitha merampas kebahagiaanya. Gadis itu yang membuatnya pergi meninggalkan orang tua, teman-teman dan merampas masa mudanya. Orang tuanya bahkan secara tegas lebih memilih Mitha dari pada dirinya. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang Elang dari pada sebuah kehilangan? Bahkan sepuluh tahun ini dia hidup dalam kehampaan hakiki. Yang ada dalam hidupnya hanya belajar, kerja dan kerja hingga tak terasa usianya sudah kepala tiga.
"Apa saja yang dia bawa tadi bik?" tanya Elang pada bik Ijah yang baru akan beranjak ke dapur. Wanita paruh baya itu menoleh.
"Hanya beberapa baju-baju non Mitha dan buku saja tuan."
"Berarti masih ada yang tersisa?" dan bi Ijah hanya mengangguk karena memang Mitha hanya menyuruhnya memasukkan beberapa stel saja, sedang yang lain masih tertata rapi di kamarnya.
"Keluarkan dan bakar bi!"
"Tapi tuan...."
"Tidak ada tapi...bakar kataku!" sergah Elang dengan suara keras.
"Tidak!" suara lantang Abimanyu membuat keduanya terperanjat. Dari arah pintu, Abi berjalan gagah menghampiri putrnya.
__ADS_1
'plak'
Sebuah tamparan melayang di pipi kiri Elang yang refleks memegang pipinya yang memerah. Tak hanya disitu, Abi bahkan sudah mencengkeram kuat krah bajunya.
"Kau ini pria macam apa hhehh? kau biarkan istrimu sendirian diluar sana. Apa salah Mitha padamu? kenapa kau sangat membencinya?" teriak papanya menggelegar.
"Sendirian? ada sekretaris papa disampingnya. Dan masalah kenapa aku membencinya adalah karena dia anak haram papa dengan wanita....."
'plak...plak' kali ini dua buah tamparan mendarat kembali di pipi kanannya yang langsung terasa panas. Tapi Elang malah tersenyum mencemooh.
"Terus tampar Elang, pa. Tapi satu yang harus papa ingat, tamparan papa tidak akan merubah apapun!" kata Elang tak kalah keras dan langsung berlari ke luar rumah dengan mata penuh kebencian.
"Astaghfiruahaladzim." Abi mengusap wajahnya. Sepuluh tahun ternyata belum cukup bagi Elang untuk berhenti membenci Mitha dan mau menerimanya. Andai saja dia bisa jujur dan mengatakan yang sesungguhnya pada Elang....
🍀🍀🍀🍀
"Lho..cepat amat baliknya kak."
"Cepet dong. Kan cuma ambil doang trus balik lagi kesini." Bian menyerahkan koper milik Mitha dan memilih duduk diluar. Sebentar kemudian Zahra muncul dari kamarnya membawa baki berisi minuman untuk mereka.
"Silahkan diminum pak." Mata Bian membulat. Apa dia bilang tadi? pak?????😐😐😐
"Apa aku setua itu hingga kau panggil pak?" ketusnya tidak suka.
"Lalu saya panggilnya apa? om?"
"kenapa tidak kakek sekalian!" sergahnya mulai emosi. Zahra hanya menatapnya penuh tanda tanya.
"Kok marah sih om?" ujarnya lagi tanpa merasa berdosa, malah menantang wajah Bian yang makin berang. Sebenarnya dari mana datangnya wanita antik jaman purba di depannya ini? dia sama sekali tak ada rasa tertarik padanya, sedang diluar sana banyak wanita yang luluh dalam jerat pesonanya. Dia memang tak setampan dan sekaya Elang, tapi siapa yang mampu menolak pesona seorang Bian. Mantan atlet basket yang digandrungi para kaum hawa.
__ADS_1
"Sekali lagi panggil om, awas saja kamu!" ancam Bian ketus. Dia sama sekali tak suka dipanggil om. Dipanggil pak, dia masih toleransi karena banyak bawahannya di kantor memang memanggilnya begitu. Tapi ini???? om????? dia pasti terdengar seperti om-om yang suka mengejar daun muda. Mendengarnya saja sudah membuatnya kesal.
"Lalu panggilnya apa? kak? abang? akang? mas?"
"Terserah!"
"Kak Bian."
deg.....
Bian seketika menoleh, menatap lurus wanita muda didepannya itu. Sebuah panggilan yang lembut. Dia suka suara Zahra saat memanggilnya tadi.
"Hmmmmm."
"Minum dulu tehnya kak." dan tanpa diminta dua kali Bian meneguk tehnya karena memang kerongkongannya sedang kering sejak tadi. Zahra berpamitan kembali ke kamar untuk bersih-bersih karena hari sudah menjelang sore. Dia harus ke rumah sakit lebih awal karena harus mengambil motornya yang menginap di bengkel.
Mitha dan Bian masih bicara serius saat Zahra keluar dari kamarnya dan mengunci pintu. Ada sebuah helm hitam ditangannya. Wanita muda itu menghampiri keduanya.
"Mith, kak, berangkat dulu ya." pamitnya.
"Motormu mana Ra?" tanya Mitha heran karena melihat sahabatnya itu hanya membawa helmnya saja.
" Macet kemarin Mith. Ini aja masih mau kuambil di dekat rumah sakit."
"Jauh amaaat....kesana naik apa Ra?"
"Ojol aja, sambil mengenang masa kuliah." balas Zahra terkekeh geli.
"Biar kuantar." sela Bian membuat kedua wanita itu saling tatap.
__ADS_1