Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tantangan


__ADS_3

Ponsel di saku kemaja Elang berbunyi, menginterupsi sesi diskusi empat petinggi Abimana grup itu sesaat. Elang sengaja mengangkat panggilannya tanpa beralih dari tempatnya karena opanya yang menelepon.


"Ya opa? bagaimana kabar opa?" Diseberang sana opa Hans terdiam. Elang mengerenyitkan keningnya, heran. Tiba-tiba perasaan tak enak hati menyergapnya.


"Abi...."


"Ada apa dengan papa?" tanya Elang serius. Mendengar nama papanya saja sudah membuatnya sedikit takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya karena papanya dalam kondisi belum sadar dari koma saat dia tinggal pulang ke Indonesia.


"Bulan depan opa akan menikahkan papamu dengan Malika, auntymu. Bisakah kau datang kemari?" Elang terhenyak. Bukan berita pernikahan papanya dengan auty Malika yang menyebabkannya begitu, tapi dia tidak mungkin meninggalkan perusahaan terlalu sering, apalagi mereka sedang mengerjakan proyek baru yang butuh konsentrasi tinggi. Ahh...Elang jadi dilema. Disatu sisi dia anak tunggal, disisi lain dia punya tanggung jawab yang besar saat ini.


"Lang...apa kau tak setuju papamu menikah lagi?" pertanyaan klise. Siapa anak yang bisa menerima jika papanya menikah lagi dengan adik mamanya sendiri padahal mamanya baru tiada? apa tak sebegitu berharganya Maria untuk papanya? Elang cukup tau jika itu bukan murni kemauan papanya. Semua karena keinginan mamanya. Tapi kenapa sejak dulu Abi hanya diam dan menerimanya seolah dia pria yang tak punya keberanian?


"Oh ..ehh...bukan begitu opa, aku senang papa dan aunty menikah, tapi...mungkin aku tak bisa datang opa, ada proyek besar yang harus kami kerjakan disini. Ini menyangkut usaha peninggalan mama juga." jawab Elang tak ingin opa Hans salah paham. Sesaat pria tua diseberang sana juga diam, mungkin berpikir hal yang tadi terlintas dibenaknya pula.


"Tapi opa tak perlu khawatir, nanti jika proyek ini usai kami akan berkunjung. Mitha juga belum sempat jalan-jalan kemarin." Tentu saja Elang harus pintar-pintar membuat opa Hans bahagia. Dia tak ingin kakeknya itu banyak pikiran dengan praduga tak beralasan karena analisanya sendiri.


"Tapi itu kapan Lang? Padahal opa ingin kalian semua ada agar sepupumu tak mengira jika kau tak setuju pernikahan ini mengingat Maria baru saja tiada." Mendengar nada bicara opa Hans saja sudah bisa disimpulkan jika sang kakek kecewa.

__ADS_1


"Secepatnya opa. Nanti aku akan menelepon Ben dan menjelaskan semuanya." Mau tak mau kakek Hans setuju dan menutup teleponnya setelah cukup lama berbasa-basi. Pernikahan penuh intrik itu akan jadi masalah besar jika dia tak segera bertindak.


"Baguslah. Bagaimanapun sekarang Ben sudah menjadi adikmu, tak lagi sepupumu." tukas sang kakek sesaat sebelum sambungan telepon itu benar-benar terputus.


"Bisa kita lanjutkan lagi?" Yang lain segera mengangguk. Mereka cukup paham jika Elang tak ingin membahas isi teleponnya. Setengah jam kemudian diskusi itu berakhir. Harus Bian maupun Mitha akui, Elang adalah pria profesional yang tetap berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya


"Bos, kami permisi dulu." Pamit Bian mewakili Gea yang sudah berdiri lebih dulu mengamit map ditangannya.


"Ya, jangan lupa segera tinjau proyek kita diselatan kota Bi. Aku ingin laporannya hari ini." ingat Elang. Serentak pasangan sekretaris muda itu mengangguk hormat lalu berbaris menuju pintu keluar.


"Ada apa dengan papa?" Mitha segera mendekat karena rasa penasarannya yang membuncah. Sama seperti Elang, dia juga amat khawatir dengan kondisi Abi.


"Kau terlihat amat senang?" sinis Elang tak disadari oleh Mitha.


"Ya tentu saja aku senang. Akhirnya aunty kembali pada cinta pertamanya. Ahhh..manisnyaaaa....pasti aunty bahagiaaaa sekali. Kau tau mas?? cinta pasti kembali pada pemiliknya." kata Mitha dengan nada riang yang terkesan berlebihan.


"Apa itu artinya kau juga ingin kembali pada cinta pertamamu?"

__ADS_1


"Ya!!" Elang langsung memukul meja kayu didepannya hingga Mitha berjingkat kaget. Wajah tampannya memerah dengan sorot mata dingin yang mengerikan. Mitha langsung menundukkan kepalanya.


"Kau ingin aku mati seperti suami aunty lalu kau bisa kembali dengan tuan muda Permana itu?" hardik Elang kasar. Entah kenapa dia jadi semarah itu.


"Bukan itu maksudku mas!" sanggah Mitha sedikit gugup.


"Lalu apa?" buru Elang yang terlihat makin marah. Mitha memejamkan matanya. Dadanya bergemuruh sekarang.


"Bagaimana jika kubilang kau adalah cinta pertamaku mas?" Elang terkekeh.


"Hanya trik wanita saat sudah ketahuan." sindirnya pedas.


"Aku akan membuktikannya mas. Ayo pulang!!" Dan seketika Mitha menarik lengan suaminya setengah memaksa.


"Apa yang ingin kau buktikan? semua sudah jelas."


"Belum.kau harus tau yang sebenarnya mas."

__ADS_1


"Bagaimana jika kau gagal?"


"Dan bagaimana jika aku berhasil? Apa mas Elang akan menuuti keinginanku!" tantang Mitha berani.


__ADS_2