
Mata Zahra mengerjab, menyesuaikan diri dengan cahaya sekitarnya. Rasa pusing masih amat mendera saat dia memaksa membuka mata. Masih dapat dia dengar teriakan wanita memanggil dokter saat dia siuman tadi. Dia hafal...itu suara Gea. Zahra hanya diam tanpa ekspresi saat dokter dan seorang perawat memeriksa keadaannya lalu bicara dengan Mitha dan suaminya sesaat sebelum mereka keluar dari ruang perawatannya.
"Ra...kamu baik-baik sajakan?" tanya Gea hati-hati. Gadis itu mengelus tangannya amat lembut.
"Ge...aku....hiksss..." tangis Zahrapun pecah. Gea sontak mengengam tangannya.
"Sudah...jangan bicara lagi. Istirahat saja, yang penting kau baik-baik saja." Tangis Zahra makin kencang dengan bahu yang terguncang.
"Bayi ini....aku tidak mau bayi ini Ge! aku nggak mau anak haram ini!!" teriak Zahra histeris. Tentu saja Mitha segera berlari mendekat dan memengangi tangan Zahra yang terus memukuli perutnya kuat dengan raungan yang menyayat hati. Entah apa yang dipikirkan dan dialami Zahra sebelum ini.
"Hentikan Ra. Bayi ini tak berdosa. Dia juga berhak hidup!" sentak Mitha kesal. Terlepas dari apapun yang dialami sahabatnya itu, menghilangkan nyawa seorang bayi yang belum lahir tetaplah sebuah dosa.
"Bayi ini harus mati Mith...dia tak layak hidup hiks..." tangan Zahra terus memukuli perutnya tanpa bisa dihentikan.
"Istighfar Ra..."
"Aku tidak mau dia bernasib sama sepertiku Mith. Lebih baik dia mati saja." ucap Zahra disela isakan yang tak kunjung usai. Mitha menegang. Dia dan Gea cukup tau jika Zahra memang yatim piatu yang bahkan tak tau siapa ayahnya karena lahir sebagai bayi yang tak diinginkan. Ibu Zahra diperkosa hingga hamil dan dikucilkan keluarganya. Apa mungkin....Zahra juga diperkosa seseorang?
"Jika kau tak menginginkan bayi itu...biar aku dan Mitha yang mengadopsinya." suara bariton itu seketika membuat semua orang fokus menatapnya. Disana, Elang berdiri tegak dibelakang istrinya dengan wajah serius. Jangankan orang lain, Mitha saja sampai kaget dibuatnya.
__ADS_1
"Mas...kau..serius??" tanya Mitha ragu. Baru kemarin mereka bicara soal anak dan kehamilan, dan hari ini suaminya memutuskan sesuatu tanpa bicara dulu dengannya. Memang, tanpa bicarapun Mitha pasti setuju dengan keinginan suaminya. Bagaimanapun dia tak akan membiarkan bayi tak berdosa itu mati atau sahabatnya dalam keadaan depresi.
"Sangat serius sayang." lirihnya, namun membuat Mitha seketika menghambur ke dalam pelukannya. Mempunyai suami tanggap dan penuh pengertian seperti Elang adalah anugerah istimewa dalam hidupnya. Entah bagaimana dia harus bersyukur karenanya.
"Pak Elang anda..." Elang segera memdekati brankar.
"Kandung dan lahirkan anak itu secara layak. Aku yang akan menanggung semua biayanya. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Pak...hiks..." Air mata Zahra terus berderai mendengar perkataan Elang. Dia mengangguk setuju seraya tersenyum kecil walau dipaksakan. Setidaknya bayangan kehidupan anaknya yang gelap sedikit berkurang manakala tau bayi itu akan diadopsi orang yang tepat.
"Terimakasih mas." Mithalah yang kali ini mengatakannya. Rasa haru benar-benar dia rasakan.
"Sampai aku lelah mengucapkannya mas." Elang membalas pelukan istrinya lalu melepasnya berlahan. Senyum manisnya membuat Mitha seketika tersenyum juga. Siapa yang mengira Elang akan memutuskan sesuatu secepat itu? Mitha lekas berbalik mendekati brankar Zahra dan mengenggam tangannya.
"Kau dengar bukan Ra, mas Elang ingin mengadopsi anakmu. Aku juga menginginkannya, jadi tolong jaga bayi ini untukku." Zahra terus menitikan air matanya tanpa jawaban. Baik Gea ataupun Mitha hanya mampu terus menghiburnya.
"Kalian bahkan tak bertanya siapa ayahnya?" Mithalah yang pertama menggelengkan kepalanya. Tak penting mengetahui siapa pria yang sudah menghamili Zahra. Bagi Mitha keselamatan sahabat dan calon bayinya jauh lebih penting.
"Tak usah membicarakan itu Ra, kami tak ingin membuatmu sedih. Lupakan semuanya. Jangan berbuat hal bodoh lagi. Ada kami yang akan selalu ada untukmu." hibur Mitha dengan mata berbinar. Zahra hanya mengangguk lemah. Mereka terus saling menghibur hingga malam tiba.
__ADS_1
"Mith, sebaiknya kamu pulang duluan. Kasihan pak Elang, capek kelihatannya." Mitha menelisik Gea yang juga sama seperti dirinya. Masih pakai pakaian formal ke kantor. Gea juga belum sempat pulang untuk ganti baju.
"Meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Ya Tuhan Ge...apa aku setega itu?" bantah Mitha. Tapi Gea terus memaksa agar dirinya dan Elang cepat pulang. Mitha hingga heran dengan sahabatnya itu. Ngotot sekali menyuruh dirinya pulang.
"Kalau kutinggal beneran memangnya kamu bisa ganti baju dan lstirahat?" Gea nyengir kuda setelahnya. Tapi sebentar kemudian senyum nakal menghiasi wajahnya.
"Bisa dong...kan ada pak Bian dan mama." ujarnya setengah berbisik. Tentu saja Mitha heran karenanya. Sejak kapan Bian jadi perhatian dan akur dengan Gea? biasanya mereka cenderung musuhan dan saling sindir. Apalagi Bian seperti menggunakan kekuasaannya untuk menekan Gea yang note bane pegawai baru.
"Kalian...kalian pacaran?" saling bisik jadinya. Tak ingin Elang yang duduk di sofa atau Zahra yang tertidur mendengar pembicaraan mereka.
"Bukan."
"Lalu itu tadi??"
"Pak Bian bilang ini hanya solidaritas sesama sekretaris. Jadi aku bebas minta tolong padanya asal tak keterlaluan." Mitha menarik nafas. Setahunya Bian bukan tipe seorang teman yang baik. Yang pria itu tau cuma disiplin dan bekerja. Mendengar kata solidaritas dari bibir Gea seakan jadi aneh menurutnya.
"Mulai kapan dia begitu?" bukanya kepo pada urusan orang lain, tapi Mitha berhak tau karena selain sahabatnya, Gea juga bekerja padanya.
"Ehmm.....beberapa hari lalu."
__ADS_1