Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Pendarahan


__ADS_3

"Hallo...."


"Mith bisa nggak datang ke rumah sakit Zelow sekarang?" Mitha baru akan menyapa saat wanita yang meneleponnya diseberang sana terdengar bicara dengan cepat diselingi kegugupan yang tentunya membuatnya bertanya-tanya, ada apa dengan sahabat baiknya itu. Ya...Gea yang meneleponnya.


"Rumah sakit Zelow?siapa yang sakit Ge?" pertanyaan manusiawi karena merujuk kata rumah sakit yang disematkan Gea. Elang yang sedang mengemudi melirik istrinya sekilas sebelum fokus lagi pada jalanan yang lumayan macet sore itu.


"Zahra Mith....dia...ahh...pendarahan." Mata Mitha membulat.


"Pendarahan? apa Zahra kecelakaan Ge?" tanya Mitha panik seketika. Elang hingga harus mengelus lengannya agar istrinya tenang.


"Tidak Mith...nanti saja ceritanya. Aku...aku...tak bisa berbuat banyak. Mereka minta administrasi diurus dulu. Sedang aku belum punya uang sebesar itu. Bisakah aku meminjam padamu setengahnya saja?" Mitha terdiam. Bukannya tak punya uang atau tak ingin membantu sahabatnya, tapi sekarang dia adalah wanita bersuami yang juga harus bicara dulu dengan Elang dalam menggunakan uang.


"Kenapa?" Mitha hanya menundukkan kepalanya, bimbang. Elang hingga keheranan melihat tingkah istrinya.


"Ya, aku akan segera kesana." balas Mitha tegas sebelum menutup teleponnya cepat.


"Mas...Zahra pendarahan."


"Aku sudah dengar tadi."


"Bolehkah aku ke rumah sakit sekarang?" tanya Mitha ragu, berulang kali bahkan dia meremas tangannya mencoba menghilangkan panik sekaligu gugup.


"Kau lihat, beberapa tikungan kedepan kita sudah sampai di Zellow." seketika pandangan Mitha beralih ke depan. Elang benar, mereka sudah berada di ruas jalan menuju rumah sakit Zello tempat Zahra di rawat. Kepanikan bahkan membuatnya tak perhatian hingga tak tau jika suaminya sudah berbalik arah menuju tempat itu. Mitha menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


"Terimakasih mas." Elang hanya tersenyum mendengarnya. Dia cukup tau bagaimana hubungan istrinya dengan Gea dan juga Zahra. Apalagi Zahra pernah berjasa merawat mamanya. Dia juga cukup tau jika istrinya tak akan membiarkan sahabatnya itu begitu saja. Persahabatan mereka amat kuat.


"Mas..."


"Hmmm.."


"Boleh aku minta sesuatu?" ragu..tentu saja wanita itu amat meragu. Ini pertama kalinya dia bicara soal uang pada Elang. Itupun bukan untuk dirinya, tapi untuk keselamatan sahabatnya.


"Apa? katakan." Mitha menarik nafas panjang. Dia dikejar waktu karena dua belokan lagi mereka sudah sampai, artinya waktu bicara dengan Elang hanya tinggal sedikit saja.


"Aku minta uang senilai biaya pengobatan Zahra mas. Gea tak punya semuanya, dia tadi ingin meminjam setengahnya dariku. Tolong Zahra mas..." Elang terpaku dalam diam, menyisakan Mitha yang makin resah.


"Mas...kumohon...."


"Sayang, ayo turun." Mitha terlonjak kaget. Secepat itu mereka sampai? padahal dia belum mendapatkan persetujuan dari suaminya. Memikirkan keselamatan Zahra saja sudah membuatnya tertekan. Lamat Mitha membuka pintu samping, menjajari langkah sang suami yang secara spontan sudah meraih pinggangnya agar berjalan beriringan.


"Sayang kita harus menyelesaikan administrasinya dulu agar Zahra segera ditangani."


Degh.....


Mitha menatap suaminya lekat, tanpa berkedip hingga Elang selesai membayar semua biaya pengobatan awal Zahra. Mitha tak juga mengalihkan pandangannya.


"Sayang..Mitha!" Mitha mengerjabkan matanya setelah mendengar panggilan sang suami.

__ADS_1


"I..iya mas."


"Ayo." lagi dan lagi Mitha berjalan disamping suaminya menuju IGD.


"Mas...terimakasih sudah membantu Zahra." lirihnya dihadiahi pelukan dari sang suami.


"Kau terus mengucapkan terimakasih seolah aku ini orang lain bagimu. Sayang...kau tak perlu meminta ijin padaku untuk menggunakan uangmu. Aku bahkan masih harus menafkahimu diluar itu. Kau bebas membelanjakan uang itu karena itu hakmu." Mitha membalas pelukan lelakinya penuh rasa haru. Sekarang dia ragu...apa pria di sisinya itu manusia? atau mungkin malaikat yang diutus Tuhan untuk menemani kehidupannya?


Gea masih menangis berurai air mata saat Mitha dan Elang datang. Gadis itu terlihat mondar-mandir tanpa henti dengan wajah sedih. Seketika dia menghambur memeluk Mitha yang masih beberapa meter di depannya hingga Mitha kaget.


"Ada apa dengan Zahra Ge?" Sama-sama menangis, itu yang dia gadis itu lakukan dengan Elang yang masih berdiri tegak dibelakang mereka.


"Zahra hamil Mith...dia..dia mengalami pendarahan hebat saat dilarikan kesini setelah mencoba aborsi." jelas Gea dengan suara bergetar. Mitha luruh.


"Hamil? bagaimana bisa Ge?" tanyanya tak percaya. Gea sangat menjaga dirinya. Bahkan dia satu-satunya yang pakai hijab diantara mereka bertiga. Tidak mungkin Zahra melakukan hal terlarang. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini.


"Inis semua salah kita Ge, kita melupakan Zahra. Dia sendirian di luar sana Ge." Tangis Mitha pecah. Andai mereka sedikit menaruh perhatian pada sang sahabat, pasti hal ini tak akan terjadi. Setidaknya ada yang menjadi tempat curhat dan menyemangati Zahra disaat paling buruk dalam hidupnya. Mereka terus berpelukan hingga dokter yang menangani Zahra keluar.


"Bagaimana keadaan Zahra dok?" Elanglah yang lebih dulu bertanya karena dia satu-satunya yang bisa berpikir jernih saat itu.


"Bayinya dan ibunya selamat pak. Tapi pasien harus terus diobservasi hingga sadar."


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya dok." kata Elang tegas. Sang dokter mengiyakan.

__ADS_1


"Apa kami sudah bisa menjenguknya dok?" tanya Mitha dan Gea serempak.


"Tunggu pasien sadar dulu hingga dipindahkan ke kamar perawatan ya." Wajah Mitha dan Gea kembali lesu. Mereka hanya ingin melihat Zahra walau sebentar, tapi yang bisa mereka lakukan sekarang hanya bersabar, menunggu hingga Zahra sadar dari pingsannya.


__ADS_2