Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Profesional


__ADS_3

Mitha menundukkan kepalanya, tak ingin bersitatap dengan Elang yang masih berada disampingnya. Suaminya itu sedang memeriksa pekerjaannya. Walau suasana hatinya sedang tidak baik, tapi ini masalah pekerjaan. Mitha dituntut bersikap profesional dijam kerja. Hal yang Elang tunjukkan dari tadi. Tak ada percakapan yang mengarah ke hal pribadi kecuali insiden tadi. Tapi Mitha buru-buru meyakinkan hatinya jika itu adalah tindakan penyelamatan yang memang harus dilakukan Elang di depannya.


"Lihat ini Mith." Mitha menghadap pada layar laptopnya. Menatap detail arah bolpoin yang dipakai Elang menunjukkan sesuatu disana.


"Jika laporannya begini, kamu patut curiga. Ada yang tidak beres dengan anak cabang perusahaan makananmu di Bogor. Sepertinya ada yang mencoba bermain disana." terang Elang penuh keyakinan. Naluri bisnis dan ketrampilannya memang tak perlu diragukan. Elang seorang pebisnis andal. Hasil didikan sang kakek.


"Lalu??" tanya Mitha gamang. Elang menatapnya tajam.


"Hubungi kepala cabangnya. Minta penjelasan. Jika tetap tak ada solusi, kita harus sidak kesana."


"Separah itu?" Tanya Mitha meyakinkan dirinya. Elang mengiyakan sambil tetap fokus pada laporan dari email itu.


"Harus jika kau tak ingin segalanya makin parah." tegas Elang. Mitha menurut hendak menelepon, tapi Elang sudah mendahuluinya. menghidupkan mode loudspeaker agar Mitha bisa mendengarnya. Pria tampan itu juga memberi isyarat agar Mitha menyimak percakapan mereka. Mitha menatapnya serius.

__ADS_1


Elang mencecar berbagai pertanyaan pada sang kepala cabang yang terlihat berbelit menjawab pertanyaan demi pertanyaan darinya. Wajah pria itu terlihat geram walau nada bicaranya masih terdengar biasa. Kontrol diri yang baik, Mitha juga harus belajar itu dari suaminya.


"Kita harus kesana." putua Elang setelah menutup teleponnya. Mitha melongo kaget. Secepat itu suaminya memutuskan sesuatu.


"Tapi pekerjaan mas gimana?" tentu saja Mitha tidak enak hati karena pergi ke Bandung tentu akan menyita waktu sang Elang yang dituntut mengurus tiga perusahaan sekaligus. Bukannya membantu, dia malah menyusahkan.


"Ada Bian yang akan mengurusnya." sahut Elang sambil mengambil jas yang tersampir di kursinya lalu memakainya cepat.


"Apa kau yakin bisa mengatasinya?" ketus. Itulah hal yang pertama tertangkap oleh Mitha. Elang terlihat tak suka pada usulannya.


"Setidaknya biarkan aku mencoba. Aku tidak bisa selamanya mengandalkanmu mas." sahut Mitha lirih. Elang mendekat dan meraih dagunya. Maksud hati ingin bicara serius, tapi tatapan matanya malah tertuju pada dua buah kissmark yang berbekas dileher istrinya. Tentu saja Mitha sudah berusaha menutupinya dengan mengenakaan kemeja berleher tinggi dibalik blazernya juga mengurai rambutnya. Tapi Elang tau persis dimana dia meninggalkan jejak cinta. Bayangan percintaan panas mereka menyergap kepalanya. Kernyitan kesakitan Mitha, ******* halus, nafas memburu dan juga ....sempitnya sesuatu dibawah sana yang amat susah ditembus olehnya sudah membuat sesuatu dalam dirinya menegang. Ya, dia tau pasti betapa milik Mitha sangat susah dimasuki meski tiga kali dia mencoba merangsak masuk dengan hentakan kuat. Tak bisa dibayangkan betapa nikmat yang menyergap dirinya saat benda itu meremas batangnya kuat hingga dia nyaris tak tahan karenanya. Mata Elang meredup.


"Mitha dengar...kau adalah tanggung jawabku. Semua yang membebanimu adalah bebanku. Demikian pula semua kesulitanmu. Aku akan tetap ada untuk menyelesaikannya. Itu janjiku pada mama papa." jelas Elang dengan mata berkabut. Bayangan penyatuan mereka kembali berkelebat manakala bibir ranum Mitha sedikit terbuka. Ingin dia mencercap manisnya. Tapi Elang sadar...Mitha masih menjaga jarak dengannya. Wanitanya itu terlihat banyak menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya ke arah lain dari pada menatapnya.

__ADS_1


"Janji....." desis Mitha lirih. Hatinya miris. Jadi semua yang dilakukan Elang padanya tak lebih dari sebuah janji? entah sampai kapan janji itu akan bertahan. Cukupkah jika sebuah pernikahan hanya berdasarkan pada sebuah janji?


"Kita berangkat." kata Elang sambil meraih jemarinya, menggandengnya keluar. Mitha masih tertegun mengamati tautan jemari mereka. Sebenarnya apa yang ada dalam hati suaminya? dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa setelah perlakuan menyakitkan yang dia terima semalam.


"Aku bisa jalan sendiri mas." ucap Mitha pelan, mencoba melerai tautan mereka. Tapi Elang bersikeras memegang tangannya. Pria itu baru sadar jika ada sesuatu yang salah saat melihat Mitha mengrenyit dengan cara jalan yang lucu. Elang melepaskan tautan tangan mereka. Mitha baru saja bernafas lega saat tiba-tiba lengan kekar lelakinya malah meraih pinggangnya posesif dan mengajaknya berjalan berlahan menuju lift.


"Apa masih sakit?" Mitha menunduk, tak mau menjawab. Takut dikira berbohong dan cari perhatian. Elang sudah menganggapnya tidak suci bukan? harusnya dia tak merasakan hal ini, juga mendramatisir rasa sakit dipangkal pahanya. Karena dia tau pasti Elang tak akan percaya. Berlahan Mitha menegakkan tubuhnya, berusaha berjalan normal, menghilangkan krenyit kesakitan diwajahnya dan bersikap baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa. Bisa lepaskan tanganmu mas? maaf, aku merasa kurang nyaman." kata Miha sambil kembali berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan saja. Maka aku akan mengendongmu sampai kebawah." ancam Elang dengan wajah datar. Egonya kembali tersentil.


"Jangan berbohong atau menyembunyikan sesuatu dariku Paramitha. Kau kesakitan." Dan Elang mulai mengamit pinggangnya lagi. Kali ini tanpa penolakan.

__ADS_1


__ADS_2