Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Bintang


__ADS_3

"Aku? Mitha tell me please." ucapnya terdengar amat lembut ditelinga Mitha yang tiba-tiba berubah mellow. Haruskah dia berkata jujur?


"Pasti Gea yang mengatakannya pada mas kan?" ujanya menatap langit tinggi diatas sana. Hanya Gea saja yang tau semua itu karena Gea adalah sahabatnya dari kecil, tak sama dengan Zahra ataupun Andra yang baru dekat dengannya selepas SMA. Elang membuang nafas panjang.


"Aku yang bertanya dan memaksanya." Mitha menatap sekilas pria nyaris sempurna dimatanya itu. Dia memutuskan jalannya sendiri. Tak ada gunanya berbohong atau menutupi apapun lagi dari Elang. Sudah cukup dia memendamnya sejak dulu.


"Aku mengagumi mas Elang dari SD saat teman-temanku juga kagum padamu. Entah kenapa mas Elang terlihat sangat perfect dan gentle saat itu. Aku terus mengagumi orang yang kupanggil kakak itu dan terus berharap jika kau bukanlah kakakku. Kau tau betapa kecewanya aku saat melihatmu jadian dengan kak Sindy? aku selalu saja bersembunyi dan menangis melihat keintiman kalian. Aku takut kehilangan karena Impian terbesarku adalah menikah denganmu sedangkan seisi dunia tau kau adalah kakakku. Aneh bukan?" kekehan kecil terdengar diantara kisah masa lalu yang diceritakan oleh Paramitha.


"Lalu kau mulai mengabaikan aku setelahnya. Hingga mas lulus dan pergi ke Inggris sepuluh tahun lamanya. Tadinya aku mengira hanya cinta monyet semata. Tapi semakin tahun rasa itu semakin nyata. Saat mas vc dengan mama papa aku bahkan akan dengan senang hati mendengarkannya dalam diam dan berharap mas menanyakan kabarku. Tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi hingga perjodohan ini terjadi. Yang kucintai adalah kau...bukan orang lain. Terserah apa pandangan mas Elang padaku setelah ini." ucap Mitha lesu dengan kepala tertunduk.


"Sudah malam, masuklah ke kamar." bisik Elang. Mitha tersenyum kaku.


"Mas masuk saja, aku mau tidur disini malam ini." tolak Mitha.


"Kamu bisa sakit. Udara malam tak baik untuk kesehatan." nasihat yang mungkin benar tapi tak ingin dilakukan oleh sang gadis.

__ADS_1


"Udah biasa mas. Kami bahkan selalu berkemah kesuatu tempat jika ada kesempatan. Aku hanya kangen alam terbuka. Mas Elang tidur saja. Besokkan masuk kerja?"


"Iya juga. Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu." Mitha mengangguk kecil, lagi-lagi tertawa sumbang menertawakan kebodohannya juga dirinya yang terlalu naif saat Elang berdiri dan mengacak rambutnya lembut. Mana mungkin Elang membalas cintanya? dia pria dewasa keturunan Abimana yang punya segalanya, sukses berkarier dan jadi incaran banyak wanita. Dia seperti fans berat Lee min hoo atau Song jongki yang hanya bisa memuja tanpa bisa berbuat apa-apa. Menyedihkan bukan? sekali lagi Mitha menatap langit. Tangannya terulur pada jaket tebal dan kaos kakinya lalu memakainya. Udara terasa mulai dingin menusuk tulang.


Dia yang awalnya ingin mengajak bik sri menemaninya menjadi urung. Dalam keadaan galau begini dia memutuskan ingin sendiri. Lihatlah...bintang saja menertawakan dirinya. Gugusan indah mereka juga banyak yang hilang ditelan pekatnya malam. Tiba-tiba hati Mitha sekelam langit malam.


"Ahh ya Tuhan...kenapa mesti kebelet sih?" gumamnya lalu beranjak ke dalam rumah. Perutnya terasa melilit. Kamar mandi lantai satu adalah tujuannya saat ini.


"Hufft...leganya...." gumam Mitha setelah keluar dari sana. Sekilas dia melirik ke lantai atas, tepatnya kamar Elang dengan pandangan nanar. Dia sudah harus menyiapkan mental dari sekarang. Jika besok Elang bersikap dingin, mengacuhkan bahkan mendiamkannya itu adalah resiko dari jalan yang dipilihnya. Jujur, hatinya sedikit lega karenanya. Dengan begitu dia tak perlu lagi menyembunyikan apapun pada siapapun.


"Dari mana saja??!!" hampir saja Mitha melompat kaget saat tiba-tiba Elang sudah berada dibelakangnya, lengkap dengan sweater dan selimut tebal ditangannya.


"Mas Elang mau ngapain?"


"Tidur." jawab Elang pendek. Tetap cuek tidur cantik diatas kasur tipis yang dibentangkan istri kecilnya.

__ADS_1


"Tapikan aku nyuruhnya mas tidur dikamar, bukan disini?" buru Mitha kebingungan.


"Dikamar atau disini sama sajakan? tetap saja tidur." kekeh Elang tak mau kalah.


"Disini dingin mas."


"Dingin? lalu apa masalahnya? aku punya istri yang bisa kupeluk agar menghangatkanku. Lagi pula aku tidak bisa membiarkan istriku tidur sendiri bukan? takutnya kamu sakit dan aku kehilangan fans beratku." jawaban simpel, pemuh percaya diri namun sontak membuat pipi Mitha memerah.


"Ini..tenda ini...terlalu sempit untuk kita mas." balas Mitha gelisah. Perasaannya jadi tidak enak.


"Siapa bilang? tenda segini tuh muat dua orang kok." Mitha terdiam kehilangan kata-kata saat tiba-tiba tangan kekar Elang menarik tangannya masuk dan menutup resleting tenda.


"Ayo tidur." dan tangan itu sudah memaksanya berbaring lalu memeluknya posesif.


"Mas aku......"

__ADS_1


"Ssstttt...diamlah." bisik Elang sambil melabuhkan ciuman lembut di bibir wanitanya. Mitha hanya bisa memejamkan matanya lagi-lagi menikmati perlakuan cinta pertamanya.


"Tidurlah. Aku akan menemanimu bersama bintang." bisiknya lagi usai melepas tautan bibir mereka. Sebuah kecupan mesra juga tersemat dikening wanitanya.


__ADS_2