
"Baik, aku yang akan pergi!!" sergah Mitha cepat dan berjalan cepat menuju pintu. Tak dia hiraukan banyaknya busa yang menempel pada tubuhnya. Yang dia perlukan hanya pergi menjauhi Elang.
"Tetap disini." paksa Elang sambil menarik lengannya. Tubuh yang penuh busa itu kehilangan keseimbangan, limbung dan terpelanting jatuh tepat pada saat Elang menangkap tubuhnya. Kedua manik mata itu bersitatap.
'kau bahkan pria paling tampan yang pernah kulihat tapi tak bisa kumiliki.' gumam Mitha yang masih tetap terpana. Dia bahkan tak menyadari saat Elang membawanya ke bawah shower dan mengguyur tubuh yang hanya berbalut selimut itu hingga tak menyisakan busa sedikitpun.
"Lepas handukmu dan pakai ini." bisik Elang sambil memberikan kimono mandi ke tangan Mitha yang berangsur mendapatkan kesadarannya. Wajah itu merona.
Langkah rikuh membawa Mitha masuk kembali ke kamar. Bergegas dia mengambil baju dan berganti pakaian. Elang yang duduk di sofa mengamatinya dalam diam.
"Kenapa pulang sesore ini?" tanyanya dingin. Mitha yang masih mengeringkan rambutnya mendongak.
"Aku ada janji dengan teman." balasnya datar.
"Teman? kau lebih memilih teman-temanmu dari pada suamimu?"
"Sama seperti kakak yang lebih memilih orang lain dari pada....istrinya." kata istri yang terdengar amat samar, nyaris berbisik.
"Orang lain siapa? Sindi maksudmu?" Mitha menarik sudut bibirnya. Kalau bukan wanita itu siapa lagi yang dia maksut? bukannya dia orang lain dala kehidupan mereka?
"Sebentar lagi dia juga jadi kakak iparmu." lanjut pria itu ringan. Jemari Mitha terkepal sempurna. Haruskah dia mendengarnya sekarang? saat hatinya berbunga dan mengunginkan seseorang untuk berbagi dengannya? aahhh...mama...aku rindu.
"Aku tau." ujarnya lamat. Ternyata rasanya sesakit ini.
"Boleh aku tidur di kamarku?"
"Tidak. Kau akan tetap disini." tanpa dijawabpun Mitha tau permintaannya tidak akan di acc. Elang pasti bersikeras menahannya tetap sekamar dengannya. Entah apa tujuannya. Bukannya sekamar atau tidak akan sama seja bagi mereka? hanya formalitas.
"Baiklah." putusnya kemudian, meletakkan hair dryer di meja dan beranjak keluar.
__ADS_1
"Aku ingin berkas-berkas itu besok pagi." Ungkapnya sebelum keluar dari kamar. Rasanya dia butuh bersantai sejenak di belakang rumah. Menghirup udara segar diantara tanaman bunga mamanya sambil meminum kopi susu kesayaangannya.
"Bian, persiapkan berkas S&M resto besok pagi.Antar ke rumah." perintah Elang pada Bian yang masih sibuk dikantor Abimana crop. Kepulangan lebih awal dari bos barunya itu membuatnya harus menambah jam kerja sore itu.
"Kenapa mesti besok? sekarangpun semua berkasnya sudah siap." sahut pria tampan itu diseberang sana.
"Bawakan kemari saat kau pulang nanti ." lagi, Elang memerintah lagi. Sesaat kemudian, dia memilih turun menemui istrinya.
"Aku sudah menyuruh Bian membawanya kemari sebentar lagi." Mitha memilih diam tak menghiraukan perkataan Elang yang langsung mengambil tempat duduk disisinya. Baginya kedatangan Elang sudah merusak moodnya.
"Aku sudah tau semuanya."
"Apa yang kau tau?" datar, hanya nada itu yang keluar dari bibir Mitha yang sebenarnya memang tidak mau tau.
"Obrolanmu dengan papa ditemlat ini, hubungan orang tuamu dengan papa mama, perusahaan dan masa lalu keluarga kita." namun Mitha sama sekali tak tertarik bertanya lebih jauh. Dia tetap meluruskan pandangannya kedepan. Pada sepasang kupu-kupu yang hinggap pada tangkai mawar merah yang dikelilingi duri.
"Aku tau kaulah yang lebih berhak mengelola perusahaan dibanding aku. Maka itu aku membangun usahaku sendiri disini. Meski baru, respon pasar sangat positif dan aku berniat untuk fokus padanya bersama Sindy. Besok Bian akan mengajarimu memegang Abimana crop dan S&M sekaligus." Ini pertama kalinya Mitha menatap Elang yang duduk santai di dekatnya. Sindy lagi...tak bisakah jika nama itu berhenti disebut?
"Dan soal perusahaan rintisan kakak...aku tidak mau tau dengan siapa kakak bekerja sama. Yang aku tau, aku ingin fokus saja dengan hidupku."
"Lalu aku?"
"Ada apa dengan kakak?"
"Kita sudah menikah."
"Lalu?"
"Hidupku...bukannya juga kehidupanmu?"
__ADS_1
"Apa kakak merasa begitu?" dan keduanya terdiam dalam kelu. Elang hanya berulang kali menarik nafas, sedang Mitha tetap terpekur dalam senyap hingga sebuah tangan hangat menggenggam jemarinya.
"Menikah atau tidak kau tetap adik perempuanku Paramitha putri pratama abimana." desahnya dengan berat hati. Kini Mithalah yang menarik nafas panjang.
"Aku cukup bahagia mendengarnya."
"Hanya itu?"
"Apa ada hal lain diantara kita? bukannya aku juga bukan tipemu tuan Elang narendra abimana? aku cukup tau diri untuk berharap lebih padamu. Setelah bertahun-tahun kau abaikan dengan tak menganggapku ada...menjadi adik bagimu bukan hal buruk bagiku. Aku hanya tak ingin terpisah dari papa dan mama." ponsel di saku celana Mitha berdering. Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya. Ada nama Andra terpampang disana. Tanpa beralih dari tempat duduknya, dia mengangkat panggilan itu.
"Hallo Ndra..." sapanya ramah.
"Hallo juga Mith, selamat atas kelulusanmu ya..sayangnya aku diwisuda lebih dulu dari pada kamu. Tapi nggak papalah...siapa tau aku bisa datang ke acara wisudamu he...hee.." seketika senyum Mitha terkembang. Pasti andra melihat story whatsappnya tadi. Pembicaraan terus berlanjut dengan tawa dan candaan ringan Andra yang menceritakan banyak hal yang terjadi disana. Mithapun tak kalah heboh bercerita hingga harus berganti tempat menjauhi Elang. Entah berapa lama mereka bertelepon ria hingga lupa waktu. Rasanya lamaa sekali tidak berbagi cerita. Mitha merindukan Andra, Zahra juga Gea bersama-sama. Perahabatan memang tak pernah lekang oleh waktu.
Senyum masih terkembang dibibir mungil Mitha saat memasuki rumah. Perasaannya sudah sangat lega saat panggilan itu digabung dengan para sahabatnya.
"Ternyata mantan memang membahagiakan yaa...." langkah Mitha terhenti, menatap Elang yang duduk manis di sofa depan televisi.
"Sama seperti kakak yang tak bisa move on dari mantan." serang balik Mitha.
"Wajar...pria bisa menikah lebih dari satu kali." jawaban enteng yang tentu saja menyinggung perasaan Mitha.
"Dan aku tidak suka dipoligami, apalagi dihianati. Kakak boleh menjalin hubungan dengan siapapun, tapi nanti setelah kita berpisah." rahang Elang mengeras. Berpisah?? kata yang paling dia benci.
"Kutegaskan padamu...kita tidak akan berpisah!" ujarnya berapi dengan wajah memerah.
"Lalu bisakah kau putuskan perempuan itu??" sergah Mitha tak kalah emosi. Bagaimana Elang bisa begitu egois tanpa memikirkan dirinya, perasaannya??
"Tidak!!" balas pria itu cepat. Mitha menengadahkan kepalanya, sakit....dia mencoba menekan rasa itu, juga air mata yang hampir luruh. Dia tak ingin terlihat lemah.
__ADS_1
"Terserah kakak...anggap saja aku sedang membalas budi pada mama papa." ujar Mitha sambil berjalan tertatih menuju kamarnya.