
Langkah lebar Elang terhenti saat melihat Bian kembali mengerjai Gea dengan memberikan berbagai tugas padanya. Tugas yang kadang tidak masuk akal hingga membuat gadis itu kelelahan. Bagaimana tidak lelah, Bian menyuruhnya naik turun ke lantai atas tanpa menggunakan lift alias lewat tangga demi mengambil kunci mobilnya yang ketinggalan. Alasan klasiknya agar Gea berlatih fisik, padahal sekretaris tampan itu benar-benar ingin mengerjai Gea. Terlalu.
"Gea..masuk ke ruangan saya. Sekarang." perintah Elang sebelum masuk ke ruangannya.
"Permisi pak, saya mau ke tuan Elang dulu." pamitnya sopan. Namun tangannya sudah dicekal lebih dulu oleh Bian.
"Ada apa pak?" tanya Gea tak mengerti.
"Ingat, selesaikan tugasmu sebelum makan siang nanti." ujarnya memperingatkan.
"Baik pak, permisi." Bian mengangguk, mencoba menelaah permintaan Elang yang tiba-tiba menyuruh Gea masuk ke ruangannya. Sementara gadis yang dia pikirkan sudah hilang dibalik pintu ruangan besar Elang.
"Duduk." kata Elang begitu Gea sudah ada di depannya. Gea mengikuti perintah. Segera duduk manis dengan wajah sedikit tegang. Elang bukan Bian yang sudah biasa dia hadapi. Suami sahabatnya itu punya aura lain yang membuatnya sungkan.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanyanya ragu. Trauma akan sikap main perintah Bian tadi masih menyisakan rasa kesal dan pegal-pegal disekujur tubuhnya. Dasar atasan tak beradab.
"Berapa lama kau berteman dengan istriku?" tanya Elang to the point. Pandangannya lurus pada Gea yang terlihat .. takut.
"Mitha?"
"Memang istriku ada berapa?" sarkas Elang saat mendengar pertanyaan bodoh Gea.
"Ohh maaf pak. Saya hanya....."
" Saya hanya ingin kau menjawab dengan jujur Ge. Kau tau bukan akibatnya jika kau berbohong? jadi berapa lama kalian berteman?" Gea meneguk ludahnya susah payah. Dia sangat tau apa akibatnya. Saat ini pembangunan TK rintisan ibunya yang dipertaruhkan. Ya, Elang berbaik hati menjadi dinatur tunggal dan merenovasi TK itu, juga merekrut tenaga guru untuk menggantikan tugasnya hanya agar dia bersedia menjadi asisten Mitha.
__ADS_1
"Sudah lama. Sejak SMP kami berteman. Bertiga saja sebelum Zahra datang dan melengkapi trio kami jadi kwartet." Kali ini Gea sedikit menarik bibirnya, tersenyum saat ingat para sahabatnya.
"Dengan Andra juga maksudmu?" kali ini wajah tampan Elang jadi makin serius.
"Ya."
"kalian sering bepergian...hmmm...maksudku berlibur bersama?"
"Ya. Kami sahabat yang tak terpisahkan." timpal Gea bangga.
"Lalu hubungan istriku dan Andra? mereka pernah pacaran bukan?" deg...sisi sensitif dimulai.
"Ya. Tapi ...."
"Ada yang kau sembunyikan dariku?" Ucap Elang menelisik wajah Gea.
"Siapa dia?"
"Itu yang saya tidak tau pak. Dia sangat tertutup soal ini. Yang saya tau Mitha amat mencintainya dari kecil."
"Dari kecil? Lalu kenapa mereka pacaran?" bisa dikatakan Elang sangat ingin tau. Otaknya dengan cepat mengingat siapa orang yang dekat dengan adiknya itu sejak kecil hingga membuatnya terpikat diusia belia. Semakin dia tau pribadi Mitha, semakin dia penasaran. Rupanya ada yang luput dari perhatiannya.
"Itu karena Mitha ....kasihan pada Andra yang sudah sangat baik pada kami semua. Jangankan Mitha, saya atau Zahra sekalipun akan melakukan seperti yang dia lakukan jika Andra mencintai salah satu diantara kami. Andra adalah sahabat terbaik kami. Jika ada pria yang tulus di dunia ini, maka dia salah satunya."papar Gea panjang lebar. Sebenarnya Elang sudah tau perwatakan seorang Andra jauh hari sebelumnya. Itulah yang membuat dia menghubungi pemuda itu agar datang diacara wisuda Mitha kemarin.
"Apa Mitha menyukai sesuatu?"
__ADS_1
"Maksud bapak?" tanya Gea makin bingung. Dia seperti sahabat bermerk penghianat yang menguliti sahabatnya sendiri. Tapi bukankah Elang adalah suaminya? kakaknya juga? pria itu juga punya hak untuk tau.
"Hal yang membuat dia senang." jelas Elang tanpa ekspresi tapi dengan rasa ingin tau yang memuncak.
"Nonton film romantis. Kalau perlu yang pakai acara nangis-nangis karena setelah itu dia akan baikan dengan sendirinya pada kami." ucap Gea terkekeh. Dia ingat betul sahabatnya itu sangat suka hal yang menurutnya aneh. Terlalu feminin, sedang dia punya sisi maskulin.
"Dia juga sangat suka menatap bintang. Saat dia kesal, kami cukup datang ke rumahnya dan menemaninya melihat benda langit itu. Hatinya mudah luluh. Tapi...ada apa sebenarnya pak?" kali ini Gea sudah tidak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya.
"Kami bertengkar." ucap Elang dengan ekspresi aneh. Mulutnya bilang bertengkar, tapi dia malah tersenyum menerawang. Sebenarnya siapa yang salah sih? mana ada pasangan yang bertengkar tapi terlihat happy?
"Maaf...masalah apa ya pak?" tentu saja Gea bertanya dengan keraguan diatas rata-rata. Bisa dianggap lancang dia jika ingin tau urusan pribadi atasannya.
"Hanya masalah kecil. Hmmm...terimakasih infonya ya Ge. Kamu sudah bisa kembali."
"Owh ya..sama-sama pak. Kalau begitu saya permisi." pamitnya sopan lalu keluar dari sana. Baru saja bernafas lega keluar dari kandang singa, dia berjumpa dengan harimau lainnya. Yang ini malah sejenis cheetah yang larinya paling kencang.
"Sudah acara berduaanya?" tanya Bian dengan memincingkan matanya tepat disampingnya.
"Saya bukan berduaan pak." protes Gea tidak terima.
"Lalu kalian bertiga dengan siapa? setan?" dengus Bian kesal. Gea jadi naik darah karenanya. Tapi sejenak kemudian senyum jahilnya menyeruak.
"Pak Bian kok ngotot banget pengen tau. Jangan-jangan pak Bian naksir saya ya? lagi cemburu ya?" goda Gea terkekeh. Bian yang kesal segera membuang wajahnya.
"Naksir kamu? kayak nggak ada cewek lain saja. Dasar cewek jadi-jadian!" ketusnya lagi. Gea terdiam. Dia akui dirinya punya sisi maskulin yang tampak dari dandanannya. Tapi jiwanya adalah perempuan. Punya hati yang amat lembut dan mudah tersentuh.
__ADS_1
"Hey....kamu mau kemana?"
"Toilet..bapak mau ikut?"