
Mitha mengelus perutnya yang membuncit. Sekarang adalah acara tujuh bulanan untuk calon putrinya. Ya..calon bayi mereka adalah perempuan menurut hasil USG. Alangkah bahagianya istri sang Elang tersebut saat merayakannya bersama jajaran direksi dan seluruh karyawan kantor mereka sekarang. Ta ketinggalan pasangan Andra-Zahra, Leo-Lusia, juga Bian-Gea yang tampak masih malu-malu tampil didepan publik. Elang juga tak henti-hentinya tersenyum sekarang. Apalagi Papa Abi sengaja datang ke Indonesia walaupun tanpa aunty Malika ehhh tepatnya mama Malika karena dia dan papa Abi sudah menikah. Malika sibuk mengurus kakek yang memang tak bisa ditinggal karena kesehatannya terus menurun.
"Apa setelah ini kita pulang mas?" tanya Mitha saat acara tasyukuran usai dan seluruh karyawan mereka sudah kembali bekerja. Kini mereka berkumpul di ruangan Elang sekarang.
"Bagaimana Pa?" Elang minta kepastian papanya yang masih sibuk mengecek beberapa data soal perusahaan. Kali ini Abi harus berbangga hati melihat semua ini. Putranya membawa perusahaanya semakin besar dari waktu ke waktu.
"Hhmmm...baiklah." Abi menutup berkasnya dengan senyum lebar lalu berdiri merangkul anak dan menantunya keluar.
"Papa sangat bangga pada kalian nak. Tetaplah bahagia." Mitha memeluk sang papa erat. Rasa rindunya pada sang ayah sudah tak bisa dia bendung lagi. Bagaimanapun Abi adalah ayah terbaik baginya. Ayah yang tak pernah membeda-bedakan anak-anaknya.
"Papa akan tetap disini hingga aku melahirkan bukan?" Abi terdiam. Betapa rindunya dia pada rumah dan anak-anak. Tapi dia sudah berjanji akan segera kembali. Apalagi Malika sendirian disana merawat mertuanya karena putranya sedang di swiss, mengurus cabang baru disana. Bagaimanapun perasaannya pada Malika sekarang, Abi sudah berjanji pada mendiang Maria untuk bisa kembali mencintanya.
"Sepertinya tidak Mith. Tapi papa janji akan kesini bersama aunty jika kau sudah melahirkan." Kedua pasangan itu menghentikan langkahnya hampir bersamaan. Mitha sudah hampir menangis karenanya. Melahirkan tanpa sosok orang tua membuatnya sedikit takut meski Elang adalah suami siaga dan amat menyayanginya. Tapi Elang sudah lebih dulu mengelus pundaknya dan mengecup keningnya penuh kasih seolah berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Dia sudah jadi mama kami juga pa. Mama Malika, bukan aunty lagi." Tegas Elang diangguki Mitha. Walau baru pertama kali bertemu Malika dia merasa amat menyayangi wanita itu. Mungkin karena wajahnya yang amat mirip dengan mama Maria.
"Hmmm...maafkan papa kalian yang jadi pelupa ini." ujar Abi menyerupai keluhan. Namun malah disambut tawa hangat kedua anaknya. Semua terasa sama, kecuali ketidakadaan Maria saja. Mengingatnya sudah membuat air mata Abi hampir menetes.
Mobil membawa mereka ke kediaman Abimana. Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah. Mungkin karena terlalu asyik mengobrol hingga tak sadar jika sudah sampai. Elang menuntun istrinya penuh kesabaran dan mendudukkannya di sofa. Dia menyusul duduk dan melanjutkan acara bercengkrama mereka Abi pamit beristirahat.
Sesaat setelah pasangan itu beristirahat siang meski hanya rebahan dan nonton televisi di kamar, ponsel Elang bergetar. Mitha yang mendengar segera meraihnya.
Andra......
"Ya Ndra...." hanya itu yang bisa di dengar Mitha. Selebihnya Elang hanya diam sembari mendengarkan perkataan Andra diseberang sana.
"Hmmm...baiklah, kami akan segera kesana." ucapnya sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
"Ada apa mas?" mau tak mau Mitha penasaran juga. Apalagi perubahan ekspresi suaminya sekarang
"Sayang, sepertinya kita harus segera ke rumah sakit sekarang." belaian lembut Elang di kepalanya membuat Mitha sedikit tenang. Artinya suaminya tak marah karena Andra. Memangnya sedekat apa hubungan mereka sekarang hingga Andra sudah berani menelepon Elang yang amat posesif dengan urusan yang ada kaitannya dengan Mitha?
"Andra sakit?" tanyanya hati-hati. Elang menggeleng.
"Zahra akan melahirkan. Dia ingin kau dan Gea datang." balasnya membuat Mitha terduduk seketika. Zahra adalah yatim piatu yang selalu menganggap mereka saudara hingga sekarang walau pada kenyataannya hanya Gea yang jadi kakaknya. Sungguh persahabatan yang indah.
"Sayang, kau terlalu sering bergerak secara refleks. Kandunganmu sudah besar. Kasihan baby kita." Elang sontak memarahi istrinya, kepalanya merebah mencium perut Mitha penuh kasih.
"Baby, maafkan momymu ya. Tapi dady janji kok akan mengingatkan momy agar tak mengagetkanmu." bisiknya seraya terus menciumi perut Mitha dan mengelusnya. Sejenak Mitha dibuat lupa akan permintaan Zahra. Tangannya terulur membelai kepala suaminya yang terus bicara pada baby di dalam perut sana. Hati Mitha menghangat.
"Terimakasih sudah mencintai aku dan bayi kita." air mata luruh di pipinya. Elang dengan sigap mengusapnya lembut.
__ADS_1
"Cinta ini akan terus ada untuk kalian." lirihnya lalu mengecup bibir sang istri sekilas.