
"Mith...ini beneran aku disuruh pakai beginian?" Gea memasang wajah bingungnya saat mendapati sebuah gaun panjang berwarna peach yang ada ditangannya. Bagaimana tak bingung? seumur-umur dia tak pernah memakai gaun juga hells meski tak high seperti punya sahabatnya itu. Tapi hari ini Mitha malah memberikannya paperbag berisi barang aneh itu padanya.
"Iya dong Ge, kita ini mau ke nikahan Zahra lho. Nih lihat, punyaku juga hampir sama saja dengan punyamu. Bedanya ini berkrah sanghai dan lengan panjang. Soalnya mas Elang ribet banget kalau sudah menyangkut menghadiri undangan. Takut istri cantiknya ini dilirik orang." Mitha tertawa lepas. Kejadian saat kemarin mereka memilih pakaian saja sudah membuatnya geli. Bagaimana tidak, Elang menolak beberapa gaun hanya karena tak suka pada bentuk krahnya yang kebanyakan berpotongan rendah. Alasan klasik jika Mitha tak cocok memakainya. Yang sebenarnya ya cemburu buta, tak mau istrinya diperhatikan orang lain.
"Ayo. Buruan. Setengah jam lagi pasti mas Elang sudah menjemput kita." Mitha yang sudah lebih dulu mengenakan pakaiannya dan memulas make up natural ke wajah cantiknya sedikit menyentak Gea yang sudah memasang wajah melasnya. Gadis itu memang tak pernah tampil feminin. Koleksi rok dilemarinya saja hanya rok sekolah, bagaimana bisa dia pakai gaun dan sandal perempuan?
"Mith, gaun ini aku masih bisa terima ya, tapi sandal ini? Kamu kan tau aku nggak bisa pakai beginian? Nggak kasihan apa kalau aku jatuh ntar disana? bikin malu tau!!" protesnya sekali lagi. Mitha menarik nafas panjang.
"Baiklah, kamu bisa pakai sendalku yang lain. Masuk dan pilih saja disana." Bukannya bahagia karena kompensasi yang diberikan sahabatnya, Gea malah lebih lesu lagi. Bagaimana tidak? semua sandal Mitha malah haknya lebih tinggi dari kepunyaannya sekarang. Tubuh Gea langsung lemas.
"Ayo Ge!!" sentak Mitha sekali lagi sambil menunjuk jam dinding. Gea segera menggantu bajunya. Belum sempat merapikannya, Mitha sudah menariknya duduk di sisi ranjang. Merapikan rambut pendeknya cepat, memasang jepit bermotif angsa yang cantik di kepalanya lalu memulas wajahnya tanpa mendengarkan protes si gadis. Percuma Gea mengomel, Mitha tak akan mengalah. Malah mengancam dengan menyertakan kekuasaan suaminya di perusahaan.
"Nah..begini kan cantik. Lihat...ohh..kau cantik sekali Ge!" pekik Mitha girang. Wajah yang semula tak pernah bersentuhan dengan lipstik itu terlihat sangat manis sekarang. Gea sendiri bahkan harus beberapa kali meraba wajahnya untuk memastikan jika bayangan di cermin itu adalah dirinya. Gumaman penuh kekaguman juga terdengar dari bibirnya. Untuk masalah face app memang Mitha adalah ahlinya. Sahabatnya itu pernah kursus kecantikan secara khusus pada seorang ahli selepas SMA. Hebat.
Kekaguman mereka terhenti saat seseorang mengetuk pintu kamar tamu, tempat Mitha dan Gea berdandan di lantai bawah. Mitha memang sudah dengan sengaja menyuruh Gea datang tadi.
"Ya bik." bik Sri mengangguk hormat begitu pintu terbuka.
"Ditunggu tuan Elang di ruang tamu non." Mitha tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kami akan segera datang." dan Bik Sri segera pamitan. Mitha dan Gea juga bersiap keluar.
"Sayang apa kau sudah siap?" Tanya Elang yang duduk manis di sofa menunggu istrinya. Mata si pria berbinar. Istrinya terlihat sempurna dengan balutan gaun itu. Rambutnya yang disanggul modern juga membuatnya tampil elegan pagi itu. Mitha segera mendekat, merapikan krah kemeja sang suami yang berwarna senada dengan gaunnya. Mengelus pipinya mesra. Sekajap kemudia ekor matanya memberi isyarat pada Elang untuk melirik Bian yang tadi duduk berhadapan dengan Elang.
Hampir saja Elang terbahak keras melihat ekspresi bengong sang sekretaris. Pria itu bahkan tak berhenti menatap Gea dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedang Gea hanya berani menundukkan kepalanya, tak percaya diri di tempatnya berdiri sambil meremas kedua tangannya bergantian. Sesungguhnya dia takut jika mulut pedas Bian mengatainya seperti biasanya. Memakai baju aneh itu saja sudah membuatnya tak percaya diri, apalagi ditatap aneh oleh seorang Nabihan.
"Ehhmmm... Kita berangkat sekarang atau nunggu kamu selesai lihatin Gea, Bi?" Seketika Bian dibuat gelagapan karenanya. Dia menggaruk rambutnya yang tak gatal lalu berdiri, lebih dulu keluar.
"Ayo!!" Mitha melingkarkan tangannya di lengan sang suami mesra. Senyum bahagia begitu terpancar dari pasangan serasi itu saat berjalan menuju mobilnya. Mitha sudah lebih dulu masuk di bangku penumpang disusul Elang yang tentu saja tak mau jauh darinya. Sedang Gea? mau tak mau gadis itu duduk disamping Bian di kursi depan.
"Pak Bian kenapa liatin saya seperti itu?" Tanya Gea yang merasa risih karena sejak masuk ke mobil tadi Bian terus menatapnya tanpa kedip minus mulut jahatnya yang biasanya selalu mengajak berantem. Tumben sekretaris menyebalkan itu tak menjulitinya.
"Ehmm...jangan lupa pakai sabuk pengamannya." Terlihat sekali jika Bian salah tingkah karena teguran Gea. Gadis itu tersenyum sinis.
"Takutnya kamu yang udah dandan kayak ondel-ondel gini kejedot kaca." tuh kan...baru saja diomongin, mulut pedasnya sudah bereaksi. Gea makin sinis memdengarnya.
"Ini juga karena tugas pak. Kalau mau saya sendiri sih ogah saya!!" tegas Gea.
"Kenapa Mitha nggak tiap hari aja nugasin dia begini sih?" gumam Bian sambil menjalankan mobilnya keluar dari pagar tinggi kediamanan Abimana.
__ADS_1
"Apa? Pak Bian bilang apa tadi?" Bian kembali salah tingkah, tapi segera menutupinya dengan pura-pura sibuk menyeberang.
'Kasihan ya kamu....nggak pernah dandan, tapi sekali dandan nggak ada cantik-cantiknya." ejek sang sekretaris seraya tersenyum smirk. Gea menarik nafas panjang.
"Ya pak Bian tinggal diam dan menikmati wajah saya ini dalam beberapa jam kedepan oke? Ntar kalau dah sampai disana saya juga nggak akan dekat-dekat pak Bian kok."
"Jangan!!" potong Bian tiba-tiba. Entah kenapa dia terlihat tak suka pada perkataan Gea tadi. Jiwa lelakinya memberontak.
"Lalu pak Bian maunya apa? mempermalukan saya gitu?" sungut Gea amat kesal. Tak lupa cebikan kesal dari bibirnya.
"Ya pokoknya kamu nggak boleh jauh dari aku, ini perintah!" timpal Bian dengan nada rendah tapi diliputi tatapan tajam yang langsung membuat Gea mengalihkan pandangannya keluar jendela. Resiko jadi pegawai baru memang begitu. Dari tadi tidak Mitha, tidak Bian...semuanya menggunakan kekuasaannya untuk menekan dirinya. Benar-benar tak masuk akal.
"Apa kau mendengar perkataanku Argea sasmitha?"
"Iya..iya saya dengar pak!" ketus Gea mengundang senyum kecil dibibir Bian.
ππππππππ
*Hai readers..
__ADS_1
Maafkan author yang telat update dalam beberapa hari ini ya..othornya lagi kecapekan dan tak enak badan. Doakan saya cepat baikan agar bisa terus menyapa kalian ya. Jangan lupa tinggalkan jejak dan komenta kalian untuk menyemangati saya berkarya.
Happy reading dan jangan lupa bahagiaππ*