
Hujan deras mengguyur Bogor saat Elang dan Mitha baru beberapa kilometer meninggalkan kota itu. Hampir setengah harian Elang melakukan sidak setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Jakarta. Hasilnya, benar-benar terjadi kecurangan di outlet itu. Dana pembangunan yang diselewengkan hingga membuat bangunan outlet menjadi kusam, tak terawat dan kehilangan sebagian besar pelanggan setia karena pelayanan dan sarana yang buruk. Padahal prospek S&M disana sangat bagus sejak awal didirikan. Tapi perusahaan makanan milik istrinya bisa saja jatuh bangkrut jika berada di tangan yang salah. Elang dengan cekatan mengajarkan pada Mitha bagaimana harus bertindak menghadapi seorang kepala cabang yang mangkir dari tugasnya.
Elang melirik ke samping dimana Mitha yang terkantuk menjadi tertidur karena kecapekan. Kepalanya bahkan sudah hampir terantuk jika Elang tak segera meraihnya dan menyandarkannya dibahunya. Tak ada gerakan. Artinya Mitha benar-benar tertidur. Petir berkilat dengan suara menggelegar. Refleks Elang menggunakan tangan kirinya untuk menutup telinga kiri Mitha. Tak terasa tangan itu menyentuh pipi seputih pualam dengan kelembutan yang tak perlu diragukan lagi itu.
Hujan semakin deras. Jangankan menjalankan kendaraan, pekatnya bahkan membuat semua orang tak bisa mengendarai dengan benar. Elang bahkan mengurangi kecepatan mobilnya hingga batas akhir, berusaha menembus derasnya hujan hingga sebuah plakat besar beberapa meter di depannya membuatnya berpikir satu hal. Tanpa banyak berkata, pria blasteran itu membelokkan mobilnya memasuki hotel bintang tiga yang merupakan alternatif non pilihan baginya saat ini.
Elang menepuk pipi Mitha pelan. Bukannya ingin menganggu tidurnya, Elang malah ingin Mitha beristirahat dengan tenanfmg karena mereka juga tak mungkin menembus hujan yang sudah bercampur angin kencang.
"Kenapa....ohh...Ya Tuhan..." pekik Mitha yang baru tersadar dan menatap ke laur mobil. Tadinya dia ingin bertanya kenapa mobil berhenti, tapi setelah melihat situasi di luar, dua jadi mengerti kenapa Elang berhenti. Seorang sekuriti menghampiri mereka, setelah Elang melambai padanya tadi.
"Maaf pak, bisa bantu saya memarkirkan mobil?" tanyanya sopan. Mitha sendiri hingga dibuat terpana karenanya. Suami dingin dan ketusnya bersikap amat ramah hanya pada seorang sekuriti hotel yang langsung mengangguki pada permintaan suaminya. Elang bergegas membuka pintu diikuti Mitha. Dia memberikan kunci dan memberikan uang tips bagi satpam itu sebelum mengajak Mitha masuk.
__ADS_1
"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis cantik yang menyambut mereka. Dari tatapannya Mitha jadi tau jika wanita itu terlihat mengagumi suaminya. Dia bahkan sesekali tersenyum manja dengan rona malu-malu, juga bicara dengan nada aneh yang membuat Mitha jengah.
"Saya pilih yang ini saja." kata Elang tegas. Netranya masih fokus pada kertas diatas meja tanpa mau menatap sang resepsionis yang terus berusaha menggodanya. Suaminya sudah mengeluarkan kartu identitas dirinya yang entah kenapa membuat senyum resepsionis itu terbit makin lebar. Sepertinya dia sedang sangat bahagia.
"Masih lajang ya pak?" pertanyaan genit yang seharusnya tidak perlu karena menyangkut privacy. Mitha masih berdiri kaku disamping Elang tanpa ekspresi. Satu hal yang dia sadari. Perbedaan usia yang cukup jauh diantara mereka pasti membuat resepsionis itu berpikir jika dia adalah adik sang Elang. Pun wajah tampan suaminya mungkin terlihat kontras dengan dirinya yang biasa saja. Elang tak menyahut, membuat Mitha menunduk.
"Bapak yakin? masih ada kamar dengan double bed yang nyaman dari kami." tawarnya lagi. Apa maksudnya tadi? secara tidak langsung dia menyuruh Mitha dan Elang tidur terpisah. Elang menggelang, membuat senyumnya luntur seketika.
"Silahkan pak." Elang mengangguk, menerima kunci kamarnya di lantai tiga.
"Dia istri saya." Ujarnya tegas, senyum samar bergelayut disudut bibirnya.
__ADS_1
"Ayo sayang." Mitha membulatkan matanya saat lengan kekar itu lagi-lagi melingkar posesif dipinggangnya, menariknya amat dekat hingga tak berjarak lalu menuju lift. Bukan hanya dirinya, resepsionis tadi juga tak kalah terkejut darinya.
"Mas, bisa dilepaskan?" cicit Mitha ragu. Elang meliriknya dalam diam, sama sekali tak berniat melepas rangkulannya hingga tiba di pintu kamar. Mereka masuk juga dalam mode diam.
"Istirahatlah, besok weekend. Tak perlu tergesa pulang. Aku mandi dulu." katanya seraya mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi dengan paper bagnya. Mitha hanya mengangguk. Dia berjalan ke ranjang, mendudukkan dirinya, lalu meletakkan tasnya diatas nakas. Dia juga ingin mandi dulu. Seharian ini tubuhnya terasa lengket walau sudah lumayan segar setelah tertidur sebentar tadi. Sebentar kemudian Elang keluar dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Tampan. Ya, Elang memang sangat tampan dan dewasa. Entah bagaimana menggambarkan wajah lelakinya dengan tampang maskulin dihadapanya itu.
"Kau mau mandi juga?" tanya Elang yang tanpa basa-basi juga mengambil duduk disampingnya. Dada Mitha berdesir. Bayangan tubuh kekar itu berkelebat.
"i...iya mas."
"Ada satu kaos milikku di paperbag tadi. Pakai saja untuk sementara. Nanti jika hujan sudah reda kita pesan pakaian baru."
__ADS_1
"hmmmm." gumam Mitha lalu bergegas ke kamar mandi. Jantungnya sudah berdetak tidak normal, nafasnya tak beraturan dan butuh dihembuskan panjang-panjang. Elang sudah membuatnya tidak tenang.