
"Apa anda sedang memata-matai tuan muda Permana?" tanya Bian datar. Sama sekali tak ada ekspresi diwajah tampannya.
"Kau ingat kewajibanmu di jam kerja Bian?" ketus Elang tak suka. Walau minim ekspresi, dia tau jika Bian sedang memberi sindiran halus padanya. Lagian apa salahnya jika dia menyelidiki hal-hal yang menyangkut istrinya? mereka bukan hanya suami istri, namun juga kakak beradik. Jika dulu dia tidak menjaga Mitha, itu karena mereka berjauhan.
"Saya cukup tau." balas Bian formal. Kalau saja dia tak ingat pesan Abi sebelum meninggalkan Indonesia untuk menjaga anak-anaknya, mungkin Bian akan mengabaikan Elang yang amat sombong dimatanya. Dia tak seperti Abi yang sopan, berwibawa dan bersahaja. Tapi Bian tetaplah orang yang setia memegang janjinya pada Abi yang sudah dia anggap pamannya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" pertanyaan benar yang sejak tadi bahkan sudah ditunggu oleh Elang.
"Aku ingin kau menempatkan orang untuk mengawasi Mitha." sudut bibir Bian terangkat. Ini pertama kalinya Elang mau menyebut nama Mitha dihadapanya. Sebagai orang yang lebih tua beberapa tahun dari Elang, Bian tau jika anak bos besarnya itu mengkhawatirkan istri kecilnya.
"Baiklah pak. ada lagi yang harus saya lakukan?" tanyanya memastikan.
"Kita lihat saja nanti. Apa perusahaan papa menjalin kerjasama dengan Permana grup?"
"Ya, sudah sejak lama malah."
"Sejak kapan?" rinci Elang ingin tau.
"Sejak saya baru bekerja pada tuan Abi. Mitha dan Andra juga jatuh cinta karena mereka sering bertemu saat ikut meeting papanya. Tuan Andra cukup care, dia langsung pindah sekolah di tempat Mitha saat mereka jadian. Tak hanya jadi pacar, tapi dia juga jadi sahabat Mitha." Elang diam dengan salahs satu tangan menopang dagunya. Kata-kata Bian harusnya membuatnya puas karena mengandung banyak informasi, tapi nyatanya? malah ada rasa lain yang menyesak di dadanya.
"Baiklah..cukup untuk saat ini." putus Elang tak ingin melanjutkan. Rasanya dia harus mempersiapkan diri dulu untuk mendengar lebih lanjut tentang kehidupan Mitha dimasa lalu.
"Apa anda tak ingin tau apa kedudukan saya dihati Mitha?" Elang menggerakkan bola matanya membentuk lirikan tajam. Bian seolah tau dia ingin menyudahi percakapan itu, tapi dia enggan dan masih ingin terus.
__ADS_1
"Itu tidak perlu karena kau hanya sekretaris papa." jawab Elang tegas namun terasa hanya menghibur dirinya sendiri.
"Anda salah."
"Aku tak ingin mendengar apapun Bian." kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit.
"Oh..baiklah. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, maka saya akan lanjut bekerja." Bian dengan sigap menaruh berkas-berkas ditangannya keatas meja lalu bergegas keluar ruangan.
"Berikan aku jadwal kuliah Mitha." Pinta Elang tiba-tiba saat Bian sudah memutar handle pintu. Mata Bian menajam.
"Mitha tidak lagi punya jadwal kuliah pak. Dia hanya ke kampus untuk menyelesaikan skripsinya saja. Masak anda suaminya tidak tau?" mulut pedas Bian memang tak ada duanya. Sindiran demi sindiran telak sudah dia lontarkan dengan ekspresi datar yang membuat Elang ingin meremas wajahnya. Mungkin ini alasan pria di depannya itu belum menikah dan menjadi perjaka tua. Ehh..ngomong-ngomong tentang perjaka tua, bukannya usianya dan Bian tak jauh berbeda?Jika Bian adalah perjaka tua lalu dia apa? bukannya dia juga setali tiga uang dengan sekretaris bermulut bon cabe itu? tampan tapi tak punya pasangan.
"Pergilah." putusnya kemudian. Kehadiran Bian bukannya memberi solusi tapi malah membuatnya galau dan banyak pikiran.
"Hmm baiklah pak, saya hanya ingin mengingatkan jika hari ini ada meeting dengan ABA company jam 11 siang, kunjungan proyek jam 1 dan...."
"Kalau begitu saya permisi."
"Hmmm." jawab Elang tak mau tau. Cukup pusing juga dia jika lama-lama berada di depan sekretaris papanya itu. Kalau tak ingat jika dia diserahi tanggung jawab mengurus perusahaan orang tuanya selama mamanya sakit, dia tentu lebih memilih kembali ke London dan mengurus usahanya sendiri.
Ponsel dalam sakunya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari papanya. Elang segera mengangkatnya.
"Hallo papa." sapanya sopan.
__ADS_1
"Lang, papa baru saja melihat-lihat perusahaanmu disini." jawab Abi dengan suara ringan.
"Apa terlalu buruk untuk papa?" Dibanding perusahaan besar papanya, rintisan perusahaan miliknya memang tidak sebanding. Tapi bagaimanapun itu hasil kerja kerasnya selama ini. Dari perusahaan itu dia belajar memimpin, memutuskan dan menjalankan usaha meski dia harus pintar membagi waktu antara bekerja pada kakeknya dan menjalankan bisnisnya sendiri. Tapi Elang bisa membuktikan jika dia bisa profesional meski mengorbankan masa mudanya.
"Tak apa. Papamu ini juga memulai segalanya dari nol. Ngomong-ngomong besok papa akan mengirim Zahra pulang ke Indonesia."
"Pulang? lalu mama?" heran juga Elang, bagaimana mamanya setuju mengirim Zahra pulang. Padahal dulunya dia yang ngotot mempekerjakan dan membawa Zahra ikut serta. Kenapa tiba-tiba melunak?
"Mamamu sudah bisa baikan. Kakekmu sudah menasihatinya agar tidak pesimis, buktinya sedikit demi sedikit dia bangkit dan melawan penyakitnya. Kakakmu sangat menyayanginya Lang." Maria memang jauh berubah sejak berada di London. Terapi demi terapi dia jalankan dengan suka rela, tak seperti saat dia disini. Faktor ingin bertahan hidup sesuai dengan sugesti papanya memang membuatnya lebih baik dan menuruti permintaan Abi untuk mengirim Zahra pulang dan menghentikan rencana bodohnya mendekatkan Zahra dengan Abi.
"Jadi bagaimana pernikahan kalian?" Elang tercekat. Di depan mamanya dia bisa bohong, tapi pada Abi? mereka sama-sama laki-laki. Abi juga amat tau alasannya menikahi Mitha.
"Papa tidak akan memaksa kalian tetap bersaama Lang. Papa cukup tau perasaan kalian. Jika kau memang tak bisa mencintai Mitha maka papa tidak akan melarang jika kalian ingin pisah. Tapi biarkan Mitha tetap menjadi putri kami." lagi, kepala Elang berdenyut makin intens.
"Apa Mitha mengadu sama papa?" tangan Elang terkepal kuat. Takut dugaanya selama ini salah.
"Mengadu soal apa?"
"Hubungan kami."
"Memangnya ada apa dengan kalian hingga dia harus mengadu? Mitha bukan anak kecil Lang. Mamamu sendiri yang mendidiknya. Apa mamamu pernah mengadu pada kakekmu meski dia kritis sekalipun? Tidak bukan? dan papa yakin Mitha akan meniru itu."
"Tapi tadi papa bicara masalah perpisahan."
__ADS_1
"Papamu ini hanya tak ingin mengikat kalian dalam hubungan rumit seperti harapan mama kalian. Kalian pribadi bebas yang bisa menentukan nasib kalian dimasa depan. Jangan saling menyiksa dalam ikatan tanpa cinta."
"Tidak akan ada perpisahan dalam pernikahan kami, pa!" putus Elang lagi. Tadi Mitha lalu Bian, sekarang papanya. Kenapa semua orang terasa menyebalkan hari itu?