
"Pecat Sindy sebagai sekretarismu." ucap Mitha dengan wajah serius.
"Tapi kenapa?" tanya balik Elang padanya dengan wajah datar. Dia sama sekali tak mengira Mitha akan mengatakan syarat tak masuk akal itu padanya. Sebagai seorang anggota keluarga Abimana Mitha amat tau jika tak ada yang mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan dalam keluarga mereka.
"Karena aku tidak suka padanya." Elang menatapnya tajam.
"Mitha...ini soal pekerjaan. Kau tau jika...."
"Aku tau mas. Maaf." potong Mitha cepat. Dia tau jika Elang pasti menolak permintaannya. Dia juga tak berharap banyak dari hal itu.
"Bisa kita tidur sekarang? aku capek." ucap Mitha sambil merebahkan dirinya.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau mencoba menghindariku?"
"Menghindarimu bagaimana? aku memang sangat capek mas. Kepalaku juga terasa tidak nyaman."
__ADS_1
"Baiklah, kita bicarakan lagi besok." Elang menarik selimut menutupi tubuhnya juga Mitha lalu berusaha tidur. Ada yang mengganjal dalam benaknya karena pembicaraan mereka yang masih menggantung. Tapi untuk memaksa Mitha terus bicara juga terasa tak manusiawi. Istrinya benar-benar lelah dan jatuh tertidur hanya dalam beberapa merebah saja.
Esok paginya, Elang yang terbangun sudah tak mendapati Mitha disampingnya. Tak ada suara gemricik air dikamar mandi ataupun balkon yang terbuka. Semua masih tertutup rapat karena diluar juga masih terhitung gelap walau sudah memasuki pagi hari.
"Kemana Mitha?" gumamnya. Bergegas dia menuju pintu dan turun kelantai dasar. Dapurlah yang pertama kali dia singgahi karena yakin jika menantu perempuan akan berada disana saat dirumah kerabat atau keluarga suaminya meski itu tak pernah terjadi di keluarganya. Tapi disana hanya ada beberapa maid yang langsung memberi hormat padanya.
"Ada yang melihat istriku?"
"Nona bersama nyonya Malika tuan." jawab salah satu pelayan yang memang berpapasan dengan kedua majikannya tersebut.
"Kemana?" rasa ingin tau kembali bergelayut dalam diri Elang. Bukannya Mitha dan Malika baru pertama bertemu? mereka juga tak melakukan interaksi yang cukup berarti selain jabat tangan, saling sapa dan selebihnya hanya bersikap biasa karena mereka berada dalam situasi duka.
"Sepagi ini?" entah bergumam atau meruntuk tapi yang Elang lakukan adalah segera keluar rumah dengan kepala celingak-celinguk menatapi seputaran mansion besar itu. Seputaran rumah yang dimaksud pembantunya mungkin setara satu RT dikampung lantaran halaman dan taman mereka yang luas.
Elang memutuskan kebelakang rumah saat tak menemukan keduanya dimanapun. Tempat itu satu-satunya yang belum dia singgahi. Benar saja, dia melihat dua wanita beda generasi itu sedang bercengkrama di tepi kolam ikan. Untung saja matahari sudah mulai terang. Sinar keemasannya bahkan memantul diwajah Mitha yang seputih pualam. Cantik...itulah kesan pertama yang ada dibenak Elang saat wanitanya mendongak sambil menyelipkan anak rambutnya yang terurai.
"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Malika yang walau tak keras namun bisa terdengar karena keheningan diarea kolam yang berbatasan dengan taman kecil tempat mereka ngobrol pagi itu.
"Iya aunty. Saya akan malanjutkan hidup ditempat baru nantinya." jawab Mitha. Tempat baru?? apa maksud Mitha? Elang yang penasaran berlahan mengendap semakin dekat.
__ADS_1
"Jangan lupa berikan alamatmu pada aunty ya. Aunty akan berusaha datang dan menjengukmu. Ahhh...andai kau mau tetap disini...ada banyak tempat yang bisa kau tinggali tanpa Elang tau karena letaknya tersembunyi." lanjut Malika. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya itu menggengam jemari Mitha penuh kasih, seakan menyalurkan kekuatan hidup padanya.
"Saya akan lebih nyaman ditanah air saya aunty." tolak Mitha halus. Sebuah senyum getir terukir di bibir polosnya.
"Terserah kau saja nak. Kadang kehidupan memang menuntut kita untuk berkorban. Mungkin awalnya akan terasa sakit, tapi lama-lama kau pasti akan terbiasa. Yang penting hati kita ikhlas."
"Saya akan mencobanya aunty. Kak Elang harus mendapatkan wanita yang dia inginkan pada akhirnya. Seperti mama Maria yang ingin menyatukan aunty dan papa kembali." Malika terpaku. Ditatapnya gadis didepannya dalam.
"Kau salah Paramitha. Hati kak Abi sudah menjadi milik kak Maria. Bukan milikku lagi." jawab Malika nyaris berbisik.
"Mama akan tetap berada di hati papa, sama seperti papa yang selalu ada dihati aunty. Semangatlah aunty. Dan ya...tolong jangan katakan apapun pada papa nantinya. Selalu kabari aku tentang perkembangan papa. Saya titip papa aunty." lirih Mitha dengab suara seraknya. Malika mengangguk.
"Tentu saja dear. Kau juga harus baik-baik disana. Ingat, hidup tanpa suami itu berat. Jaga dirimu baik-baik."
Degh.....
Apa? tanpa suami? apa maksud Malika sebenarnya? apa yang Mitha rencanakan bersamanya? tangan Elang terkepal kuat, dia segera berlalu tanpa suara. Wajah tampan itu berubah keruh saat berjalan kembali ke kamarnya.
Dia melirik koper Mitha yang sudah tertata rapi. Rupanya Mitha sudah bersiap pulang karena baju kotornya juga sudah terbungkus rapi disis paling ujung,padahal dia belum mengatakan waktu keberangkatannya nanti. Kenapa tak mencucinya dulu? kalaupun teringgal dirumah ini, para maid pasti akan menatanya dilemari miliknya. Seolah Mitha bersikap tak akan kembali lagi ke rumah ini. Bukankah dia sudah bilang jika mereka akan sering berkunjung kemari? Berlahan dibukanya koper kecil itu lalu mengeluarkan semua isinya dan memindahkannya ke dalam lemarinya.
__ADS_1