
"Bisa cepat sedikit mas?" tanya Mitha setengah berteriak agar terdengar oleh sang driver. Mas drivernya yang terpaksa berhenti karena lampu merah membuka sedikit kaca helm SNI nya.
"Apa mbaknya sudah terlambat?"
Deg....
"Andra."
Desis Mitha terbelalak. Sedikit mengrejabkan matanya, takut salah orang. Tapi dia cukup hafal dengan pemuda itu. Jangankan mendengar suaranya, melihat bola matanya saja dia sudah hafal padanya.
"hmmmm."
"Kok kamu ngojek Ndra?"
"Memangnya kenapa? Nggak boleh? aku tuh liburan lumayan lama lho Mith. Gabut aja kalau dirumah. Mendingan gini kan? jalan-jalan dapet duit. Ntar kalau udah dapet duitnya buat beliin nasi kotak tukang ojol lain ma berbagi di panti." Andra kembali melajukan motornya kala lampu berubah hijau.
"Udah lama jadi ojol?" Mitha kembali bertanya walau ekspresi kaget tetap tergambar di wajah ayunya.
"Udah terlambat banget ya?" bukannya menjawab, Andra malah bertanya balik.
"Belum sih, masih ada dua puluh menitan."
"Trus kenapa tadi suruh cepet-cepet?"
"Engg...itu...aku ada janji ma dosen pembimbing. Pengen dateng lebih awal aja kok."
"Hmmmmm." Pembicaraan terus berlanjut hingga Mitha tiba di depan gerbang kampus.
"Ndra, makasih ya." ujarnya sambil menyerahkan helmnya balik. Andra tersenyum dan menerimanya
"Mith." panggil Andra saat Mitha sudah akan beranjak dari sana.
__ADS_1
"ya."
"Ntar pulangnya boleh kujemput nggak?" Andra membuka helmnya juga, merasa kurang nyaman saat bercakap dengan mantan pacarnya itu.
"Untuk?"
"Makan siang bareng Gea dan Zahra." jawab Andra spontan. Sebenarnya belum ada rencana mau ngajak makan siang sih, ngasal aja biar bisa dekat Mitha terus.
"Hedewh...udah berapa lama nggk chatting mereka sih? Zahra itu lagi nemenin mama papaku di London."
"Oh ya?" tentu saja Andra sangat terkejut karenanya. Dia memang jarang berkomunikasi dengan para sahabatnya itu setelah pulang ke Indonesia.
"Tinggal aku dan Gea yang tersisa." desah Mitha.
"Ya udah, nanti kuhubungi Gea, trus aku jemput kamu oke?" lagi-lagi kebiasaan lama Andra yang jahil terulang. Pemuda itu main tinggal saja tanpa menunggu jawaban. Dia memang tipikal pria aneh jika sudah membuat janji. Dia bikin janji sendiri, disetujui sendiri dan bikin peraturan sendiri. Hal yang sebenarnya sama sekali tak aneh bagi Zahra, Gea dan Mitha yang juga pernah pacaran dengannya.
Setengah menggelangkan kepala Mitha melanjutkan langkahnya memasuki kampus kala sebuah tangan kekar menarik lengannya hingga berhenti berjalan.
"Kakak...."
"Kakak ngapain disini? Kak sindy dan Kiara mana?" tanya Mitha tak mengerti. Bagaimana bisa suaminya itu sudah tiba di depan kampusnya secepat itu? padahal jarak sekolah Kiara dan kantor mamanya terbilang agak jauh. Mau ngebut model bagaimanapun dia tidak akan bisa sampai secepat itu.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! jadi begini ya yang katanya anak baik, rajin, penurut....."
"Sudah cukup kakak! jangan pernah membawa kata-kata mama atau papa di depanku. Jika kakak memang tidak menyukai aku dan hubungan ini kenapa kita tidak pisah saja? aku juga tidak peduli pada kakak!" kata Mitha tajam.
"Apa kamu bilang? Pisah?"
"Iya! Nggak usah pedulikan aku lagi. Apalagi ngatur-ngatur aku. Urusi saja pacar kakak itu juga calon anak kakak yang centilnya melebihi emaknya. Dasar om-om menyebalkan!!" teriak Mitha kesal sambil melepakan cekalan Elang kasar dan berlari masuk ke kampusnya.
"Apa dia sedang cemburu?" gumamnya masih terpaku ditempatnya. Beberapa pasang mata mahasiswa yang berpapasan dan melihat pertengkaran dirinya dan Mitha menatapnya aneh. Tak jarang beberapa mahasiswi malah senyum-senyum menatapnya malu-malu.
__ADS_1
Elang meraup wajahnya kasar lalu berbalik menuju mobilnya. Dimasukkannya beberapa lembar uang yang tadi akan dia berikan pada mitha ke dalam dompet lalu pergi dari sana.
Memasuki kantor Abimana crop, Bian sang sekretaris berpapasan dengannya di lift.
"Silahkan pak." ujarnya mempersilahkan Elang berjalan lebih dulu. Bian tampak heran karena CEO penggantinya itu datang lebih awal. Masih pagi malah. Para karyawan saja masih satu dua yang datang.
"Berapa lama kau jadi sekretaris papa?" Bian menatap bos barunya heran. Pertanyaan macam apa ini? Pagi-pagi begini apa dia membuat kesalahan?
"Hampir sepuluh tahun pak. Saat saya masih kuliah, sudah bekerja pada tuan Abi."
"Apa kau bisa bersikap profesional?"
"Tentu saja pak. Dalam jam kerja saya akan menjunjung tinggi perintah atasan dan peraturannya."
"Tapi setelahnya?" lagi, Bian dibuat bingung dengan pertanyaan aneh sang bos. Tau begini dia akan memilih tidak jadi naik lift bersama tadi. Lebih baik dia keluar sarapan atau minum kopi dulu. Toh jam kerjanya masih satu jam lagi. Dia datang pagi juga gara-gara melupakan sesuatu kemarin.
"Saya akan jadi diri saya sendiri. Tapi apa maksud anda sebenarnya?" kali ini Bian benar-benar penasaran.
"Ikut aku." perintah Elang seraya berjalan ke ruangannya. Bian mengikutinya dengan patuh.
"Aku ingin kau menyelidiki orang ini." Elang menyodorkan ponselnya. Dahi Bian kembali berkerut lalu menatap Elang heran.
"Apa kau mengenalnya?" Elang tentu saja tau perubahan rona wajah Bian.
"Tanpa saya selidikipun saya tau orang ini."
"Maksudmu?"
"Dia Andra permana. Putra bungsu pemilik Permana grup. Dia sedang menempuh pendidikan di Singapura. Dan dia...mantan pacar Mitha." sahut sang sekretaris kalem namun bisa menusuk rongga dada Elang yang berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Mantan pacar Mitha?" ulang Elang lirih, nyaris bergumam.
__ADS_1
"Ya. Mereka pacaran sejak kelas dua SMA."
"Ada hal lain yang kau tau?" buru Elang kesal. Kenapa dia baru mendengar semuanya sekarang?