
Elang menggelengkan kepalanya saat Mitha terus menarik lengannya layaknya anak kecil yang menginginkan sesuatu pada orang tuanya. Berlahan diusapnya pucuk kepala istrinya lembut sambil menatapnya dalam.
"Mitha dengar, ini jam kerja. Nanti saja bukti membuktikannya. Lagi pula terbukti atau tidak kau sudah menjadi istriku. Memangnya siapa yang berani mendekatimu?" Mitha mengerjabkan matanya berulang kali. Entah mengapa Elang melihatnya seperti sangat lain sekarang. Ya, istri yang terpaut sepuluh tahun dari usianya itu terlihat amat imut dimatanya hingga tanpa sadar sebuah kecupan mendarat di kening Mitha yang entah kenapa langsung menutup matanya meresapi kelembutan bibir sang suami. Hal kecil yang sebenarnya lumrah saja bagi pasangan suami istri namun sangat jarang dialami oleh Mitha. Resiko cinta bertepuk sebelah tangan.
"Walau kita pemilik perusahaan ini kita harus profesional." sambung Elang yang seketika membuat Mitha kembali membuka mata. Dalam hati dia meruntuk kesal, kenapa waktu begitu cepat berlalu.
"Ehhmm...ya." jawabnya pendek. Elang kembali mengelus pucuk kepalanya sebelum berdiri diikuti Mitha.
"Aku keluar dulu meninjau proyek kita. Aku akan kembali saat makan siang." Elang memang sudah menyuruh Bian menunggunya di lantai dasar setelah menyiapkan beberapa hal yang dia butuhkan selama peninjauan proyek yang hanya beberapa kilo meter dari kantor Abimana grup. Mereka masih punya cukup waktu sebelum sampai disana.
"Ehhmmm...boleh aku panggil Gea untuk menemaniku disini mas? aku...aku merasa sepi jika kau tak ada." Elang terkekeh melihat kemanjaan istrinya.
"Boleh. Tapi ingat, kerjakan pekerjaan kalian. Jika belum selesai saat aku kembali, jangan harap kau kuijinkan makan siang." Ancam Elang sambil menowel hidung mancung Mitha yang tersenyum amat lebar.
__ADS_1
"Terimakasih bos." kata Mitha menirukan ucapan Bian. Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Elang singkat hingga membuat sang empunya pipi terkesiap.
"Hati-hati di jalan mas." ucap Mitha. Jemari lentiknya segera merapikan dasi suaminya membuat Elang bergerak cepat meraih pinggang rampingnya. Mitha menahan nafasnya saat aroma mints yang menguar dari bibir suami tampannya menghipnotis syarafnya.
"Bos kita berangkat...ehh...ma..maaf bos." Keduanya berjingkat saat suara Bian menginterupsi suasana intim pasangan muda itu. Mithalah yang pertama mendorong tubuh suaminya dan mundur dari tempatnya berdiri.
"Lain kali tutuplah pintu jika mau ehmmm...ehhm...bos." kata Bian memelas namu sama sekali tak ditanggapi Elang yang langsung menyusulnya ke ambang pintu. Bian sampai heran melihat kelakuan bos mudanya yang terus memegangi pipi kirinya sambil senyum-senyum sendiri. Hal yang amat mengerikan bagi pria seusia dirinya maupun Elang. Bukannya hal begituan hanya dilakukan ABG labil?
"Bos, kau sehat?" tanya Bian memastikan. Sudah berulang kali dia mengibasakan tangannya didepan wajah tampan Elang, tapi bosnya itu seakan berada pada dimensi lain.
"Aku duduk di depan saja Bi." Bian menurut, membukakan pintu penumpang lalu menutupnya kembali. Dia dan Elang memang sudah biasa begitu saat pergi bersama. Sangat jarang Elang duduk dibelakang dan memperlakukan dia bak seorang sopir. Harus dia akui Elang sangat mirip papanya dalam hal ini.
"Apa kau pernah jatuh cinta Bi?" Bian terkekeh mendengar pertanyaan Elang.
__ADS_1
"Apa orang sepertiku bisa jatuh cinta bos? aku ini hanya tau bekerja. Kurasa Leo demikian juga. Tapi setidaknya nasibku lebih beruntung darinya yang hanya dibodohi istrinya." Bian memang hanya punya Leo di dunia ini. Oran tuanya sudah meninggal tanpa menunjukkan siapa saja sanak familynya. Yang Bian tau, semua keluarganya membenci kedua orang tuanya karena menikah secara diam-diam. Kisah yang hampir mirip itulah yang membuat Abi iba dan mengasuhnya.
"Kenapa menanyakan itu? apa bos jatuh cinta?" Elang menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan khas yang membuatnya mempesona.
"Entahlah. Aku yang bertanya padamu, kenapa kau malah ganti bertanya padaku?"
"Iya juga ya. Mana aku tau jawabannya bos? Pacaran saja aku tak pernah." Ungkap Bian nyaris seperti gerutuan. Diusianya yang sekarang dia memang sudah tak pantas pacaran lagi. Mungkin hanya Bian orang yang tak butuh pasangan saat ini. Pria disampingnya ini memang hanya memikirkan bekerja dan kebahagiaan dirinya sendiri.
"Sepertinya Gea cocok denganmu Bi." Bian hanya melengos kesal mendengar saran Elang yang tak masuk akal.
"Gea? aku seperti pacaran dengan sesama laki-laki jika dengannya. Heran...makhluk jadi-jadian begitu kok ya masih lestari dimuka bumi." Bian bergidik ngeri, namun malah memicu tawa Elang.
"Jangan begitu Bi, takutnya kamu beneran jatuh cinta dengannya."
__ADS_1
"Semoga saja tidak bos. Ngeri juga membayangkannya." tawa keduanya berderai.