
"Bagaimana? kamu suka?" Gea tersenyum manis pada Reza yang duduk dihadapannya. Pria itu tampil cool dengan stelan santainya senada dengan dirinya yang juga tampil casual saja malam itu. Sama-sama pakai kaos putih, jaket jeans dan celana senada membuat mereka serasa kembali ke bangku kuliah.
"Lumayan. Mau berapa lama di rumah Za?" tanya Gea menyambung percakapan. Reza yang baru saja menyeruput jus mangganya bersandar di kursinya, merelakskan tubuhnya.
"Dua minggu. Tapi setelah ini mungkin aku akan menetap disini."
"Nggak kerasan di Jogja?"
"Bukan...Jogja itu sangat nyaman dan bikin kangen. Tapi aku selalu kangennya sama yang disini. Ya nggak tau juga kalau dianya mau nemenin aku disana. Tapi kayaknya susah deh." Gea tersenyum kecut. Pagi tadi Bian mengaku menaruh hati pada Vera, sekarang Reza sudah punya tambatan hati pula. Walau dia belum punya perasaan yang berarti pada mereka, tapi kenapa ada yang terluka di sudut hatinya?
"Usaha duluan Za, jangan pesimis gitu." balas Gea seraya mengambil steak dan mengunyahnya pelan.
"Ini juga lagi usaha Ge. Makanya aku ngajak dating." Kali ini Reza memasang muka seriusnya. Gea hanya tertawa sumbang. Takut salah sangka lagi. Cukup baginya mengira jika Bian menyukainya karena perhatian dan sikap manisnya walau lebih banyak bertengkar dari pada damaninya. Gea takuk keGRan
"Okelah..." jawabnya asal. Tapi seketika tubuhnya jadi menegang saat Reza mengenggam tangannya hangat.
"Ge...pacaran yuk." Mata Gea membola. Ini beneran apa cuma mimpi ya? siapa yang tak kenal Fahreza ahmad. Anak paling pintar di kampus, putra pejabat, punya prestasi gemilang dan sederet kelebihan lain dalam dirinya yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang pas-pasan dalam segala hal. Dia bukannya tak tau jika Reza menaruh hati padanya, tapi sungguh...strata sosial dan kesenjangan diantara mereka membuatnya tak punya nyali untuk sekedar jalan berdua seperti sekarang. Kalau saja Bian tak membuat egonya tersentil tadi...tentu dia tak akan terjebak disini dan pura-pura bahagia diantara rasa minder yang menderanya.
__ADS_1
"Ge....." Ulang Reza sambil menatapnya penuh harap.
"Argeani setyaji...kembali pada pekerjaanmu sekarang!!" Sontak Gea maupun Reza menolehkan kepalanya pada sosok tinggi menjulang pria dewasa berkumis tipis yang tampak gagah dengan jas hitamnya. Reza sampai melepaskan tangannya entah karena apa karena mendengar suaranya yang amat tegas dan penuh wibawa.
"Pak Bian..." desis Gea terkejut. Bagaimana tak terkejut, pria yang sebentar lalu muncul diingatannya itu malah sudah ada dibelakangnya tanpa aba-aba. Dari mana pria itu tau? padahal dia sengaja tak langsung pulang setelah dari kantor tadi. Gea memilih pergi ke mall untuk membeli baju lalu numpang mandi di rumah sepupunya tadi.
"Kau lupa tugasmu hemm..." Sungguh saat itu tatapan tajam Bian sama sekali tak bersahabat padanya. Pria matang itu bahkan sudah meraih pergelangan tangannya dan memaksa Gea berdiri.
"Lepas pak!! saya sudah resign. Bapak nggak berhak memerintah saya!" desis Gea dengan wajah penuh emosi. Anehnya Bian juga tak kalah emosi darinya. Giginya bahkan hingga bergemeletukan karenanya.
"Resign? ha..ha...kau kira semudah itu? kontrakmu masih sampai tahun depan. Jika kau resign, denda satu miliard sudah menunggumu." ancam Bian dengan wajah dinginnya.
"Sebaiknya kau diam bocah!! Ini bukan urusanmu!" sentak balik Bian, Reza langsung diam. Secara postur maupun nyali tentu dia ada jauh dibawah Bian yang sudah ditempa pengalaman.
"Dan kau...ikut aku!" Gea bahkan tak sempat menyeimbangkan tubuhnya saat Bian menyeretnya menjauh keluar dari sana. Mereka jadi tontonan pengunjung lain. Tapi Bian sama sekali tak peduli. Hanya Gea saja yang menatap dirinya sendiri miris. Kenapa dia jadi terlihat seperti istri yang ketauhan selingkuh oleh suaminya dari pada seorang bawahan yang ketahuan bolos kerja oleh atasannya?
"Lepas!!!" Gea menyentakkan tangannya kasar hingga terlepas saat mereka sudah sampai di parkiran. Bian mengeram kesal karenanya.
__ADS_1
"Saya akan bicara pada pak Elang dan Mitha besok. Terserah mereka mau memberhentikan atau menuntut saya besok. Tapi sekarang bukan jam kerja pak! berhenti bersikap otoriter pada saya. Anda hanya sekretaris...bukan bosnya!!" kata Gea tajam. Bian tersenyum sinis.
"Sungguhkah? lihat bagaimana besok aku akan membuatmu membayar semua denda itu di pengadilan Argeani setyaji!!"
"Lakukan saja Bian!! aku tidak takut!!" dan Gea segera melambaikan tangannya pada sebuah taksi yang barusan menurunkan penumpangnya. Secepat kilat tubuhnya masuk dan menutup pintunya rapat.
"Jalan pak!!" beruntung sopir taksi itu amat sigap dan segera menjalankan kendraannya keluar dari area kafe. Gea sedikit bernafas lega saat melihat mobil Bian sama sekali tak mengikutinya.
"Dasar belagu!!" gumamnya kesal lalu menarik nafas kasar. Setengah jam kemudian taksi yang dia tumpangi sudah memasuki jalanann menuju rumahnya yang ada diantara deretan rumah lain disana.
"Aahhh ya Tuhan!! Dia lagi!!" pekik gea frustasi. Bagaimana tak frustasi...mobil Bian sudah terparkir manis di depan rumahnya lengkap dengan ibunya yang duduk diberanda. Jika dilihat dari gesturnya, Gea yakin mereka baru terlibat percakapan hangat. Enggan, Gea keluar dari taksi dan membuka pagar. Dua manusia berbda gender dan generasi itu berdiri hampir bersamaan.
"Ge...kok lambat amat pulangnya? nak Bian bilang kau pulang sejak jam lima tadi." Gea melirik Bian tajam.
"Iya bu. Tadi mampir dulu ke mall." timpal Gea sekenanya lalu memasuki rumahnya, bersikap cuek pada Bian yang terus menatapnya.
''Ge...berhenti dulu. Ada tamu lho." Kata sang ibu memperingatkan. Mau tak mau Gea menghentikan langkahnya.
__ADS_1
''Tapi Gea capek bu." kata Gea beralasan. Sebenarnya dia tak sepenuhnya salah. Kejadian demi kejadian tadi sudah membuat pikiran dan tubuhnya lelah. Apalagi kehadiran Bian sudah membuatnya makin muak.
"Ge...mari menikah!!"