Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tugas


__ADS_3

Ini hari pertama untuk Elang dan Mitha pergi ke kantor berdua. Lihatlah, warna setelan kerja yang sama juga tampilan yang hampir sama pula. Elanglah yang secara sengaja memesan pakaian kantor couple untuk mereka. Hari itu semua serba hitam.


Mitha berjalan disamping Elang yang menuju lift khusus petinggi perusahaan. Ketika pintu lift tertutup sang suami segera menoleh padanya.


"Bisakah kau menggandeng lenganku saat berjalan bersama?" pinta Elang dengan wajah serius.


"Mas, ini di kantor. Apa layak kita bersikap begitu?" Siapapun tau jika seseorang diwajibkan bersikap profesional saat ada di area kantor.


"Tapi kau istriku Mitha. Perusahaan ini juga milik orang tua kita." sanggah Elang. Tapi Mitha bersikeras.


"Kita yang membuat peraturankan mas? jadi kita juga harus mematuhinya." ujar si wanita enteng. Canggung juga baginya untuk bersikap demikian. Jangankan di kantor seperti sekarang, di rumah yang hanya ada bik Sri dan Nana saja mereka tak pernah bersikap mesra. Lagian untuk apa mesra-mesraan kalau cuma untuk pencitraan?


"Hmmm baiklah. Tapi jangan coba-coba dekat dengan staf laki-laki apalagi Bian. Aku tidak suka."


"Kalau mas Elang tidak suka aku dekat sama pria ya biarkan aku di rumah saja jadi istri sholehah. Mudahkan?" Elang dibuat greget dengan sikap pembangkang Mitha yang makin menjadi sejak Maria meninggal.


"Paramithaaa!!" desisnya amat kesal sambil menatap Mitha tajam. Siapa yang tak resah melihat penampilan istri kecilnya yang terlihat ranum dan menggoda. Blazer dan rok selutut yang dia pilihkan malah mencetak tubuh seksinya dengan jelas. Warna hitamnya juga amat kontras dengan kulit putihnya. Jangan lupakan leher jenjangnya yang terekspose sempurna karena rambutnya yang diikat tinggi dengan gaya ekor kuda. Lipstik warna naturalnya malah membuat wajah ayunya fresh dan mempesona. Elang meruntuk dalam hati. Tau begini dia akan memilihkan celana saja untuk pakaian istrinya. Setidknya betis indahnya tidak dinikmati orang lain selain dirinya.


"engg...maaf..maafkan aku." balas Mitha sebelum Elang murka. Yang penting hari ini dia bisa ketemu Gea. Yang lain minggir dulu.


Bian sudah menunggu di depan lift saat pintunya terbuka. Ada Gea dengan rambut ala polwan disampingnya. Tanpa aba-aba dua wanita itu memekik histeris lalu saling berpelukan seolah sudah puluhan tahun tak berjumpa.

__ADS_1


"Gea lepas!" perintah Bian tegas. Sontak keduanya melepaskan pelukannya lalu menatap bingung pada sekretaris nyentrik itu.


"Ada apa sih pak?" Lagi, Bian dibuat meradang karena pertanyaan konyol sang gadis yang menurutnya nyleneh. Sudah tau ini di kantor, masih saja lupa peraturannya.


"Jaga sikapmu, ini di kantor." sarkas Bian keras. Gea tersenyum sinis lalu memperbaika sikapnya menjadi formal.


"Tak apa kak Bian, toh kami ini sahabatan. Iya kan mas?" Elang hanya berdehem keras mendengarnya. Mau bagaimana lagi? Mitha juga susah diatur.


"Sayang, ayo ikut aku." Dan baik Bian ataupun Gea dibuat melotot tak percaya pada panggilan sang Elang pad istrinya. Gea bahkan sudah beberapa kali menggosok telinganya, takut salah dengar.


"Pak Bian dengar yang barusan?" tanya Gea hati-hati. Bian mengangguk samar. Artinya dia juga mendengar panggilan itu. Tumben-tumbenan batin keduanya hampir bersamaan. Yang dipikirkan malah sudah melenggang pergi masuk ke ruangannya.


"Duduk saja disitu." perintah Elang enteng. Mitha dibuat merengut malas karenanya.


"Duduk tapi tak melakukan apapun. Lama-lama aku akan bosan." keluh wanita muda itu kemudian.


"Bersabarlah sebentar, ya cuma sebentar. Aku saja yang sepuluh tahun lebih menunggumu juga masih sabar."


"Aku? untuk apa mas Elang menungguku?" Elang terkesiap menyadari perkataan yang meluncur dari bibirnya secara spontan.


"Hmmm...lupakan saja." lanjutnya salah tingkah. Hampir saja dia keceplosan bicara.

__ADS_1


"Kalau aku hanya berdiam diri saja disini, lebih baik aku pulang saja mas." keluh Mitha lagi. Elang bergegas menghampiri mejanya, menahan tangan istrinya agar tetap duduk di kursinya.


"Nanti kuberikan tugas buatmu." katanya lembut. Mitha sampai dibuat terkesima karena sikapnya.


"Mana tugasnya? dari tadi aku cuma disuruh bersabar." lagi, gerutuan terdengar dari bibir mungil Mitha.


"Mari kita hitung mundur dari lima sayang...lima, empat, tiga, dua...


....Tok...tok..tok...


"Masuk." ucap Elang tegas sambil kembali ke kursinya. Mitha masih saja tak mengerti maksud suaminya hingga pintu ruangan terbuka. Sesosok wanita dengan pakaian kurang bahan yang memamerkan lekuk tubuhnya yang berukuran proporsional masuk.


"Selamat pagi pak Elang..."sapanya ramah dengan nada menggoda juga gestur tubuh yang bisa dibilang genit. Tangannya terulur dan disambut Elang dengan formal. Selanjutnya melepasnya dan kembali duduk dikursinya.


"Silahkan duduk nona Deby." Wanita yang disapa Elang dengan panggilan Deby itu segera duduk dengan tatapan tak lepas dari wajah tampan Elang. Alarm bahaya sudah berdengung di kepala Mitha.


"Saya menyetujui kerja sama kita. Tapi bisakah pak Elang menemani saya lunch hari ini?" tanya si wanita kembali dengan nada dibuat mirip ******* yang menggoda.


"Sayang, apa kau setuju jika kita lunch dengan nona Deby siang ini? Tentu saja Deby dibuat terkejut dan mengikuti arah pandangan Elang. Dari tadi dia tak menyangka bila ada orang lain disana karena hanya fokus pada Elang seorang.


"Tentu saja. Silahkan menentukan tempatnya. Kami pasti datang." balas Mitha kalem namun membuat Deby amat kesal karenanya.

__ADS_1


__ADS_2