Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Selamat


__ADS_3

Semua mata menatap dokter Sam tajam. Elang yang sedari tadi berdiri di sisi ranjang sampai harus bolak-balik menatap khawatir pada istrinya. Dokter itu seolah menguji kesabarannya. Tak seperti pada pasien lain, dia bertanya sangat pelan dan anehnya Mitha juga menjawab dengan pelan. Membuat Elang meradang saja. Belum lagi suara aneh dari dua sejoli yang sedari tadi berdiri di dekat pintu. Saling melotot, memakik ataupun ngomel-ngomel sendiri. Tapi anehnya tak mau jauh walau satu senti. Siapa lagi kalau bukan Gea dan Bian. Profesi yang sama tak membuat keduanya akur begitu saja.


"Apa masih lama Sam?" tanya Elang tak sabaran. Dokter Sam berbalik menatapnya. Ada sedikit mendung di wajahnya. Sekarang darah di tubuh Elang bagai tersirap. Ada yang disembunyikan oleh dokter pribadi keluarganya itu.


"Lang, Aku akan membuatkan surat pengantar agar istrimu diperiksa lebih lanjut oleh spesialis." ujar dokter Sam sambil menarik resep dari tasnya.


"Ada apa dengan Mitha Sam? apa penyakitnya serius?" Elang yang sedari tadi merasa gugup langsung saja panik saat mendengar kata spesialis. Bayangan mama Maria melintas. Mamanya yang awalnya terlihat baik-baik saja itu dulunya juga begitu. Sam lah orang yang pertama menemukan keanehan ditubuhnya dan menyuruhnya ke dokter spesialis.


"Sangat serius." Tenggorokan Elang tercekat, demikian pula Bian dan Gea yang langsung diam dan kompak mendekat. Bian harus rela melepas tautan tangannya dari Gea demi merangkul lengan bosnya yang terlihat tak baik-baik saja. Sama seperti Elang, Bian juga teringat almarhumah Maria.


"Apa dia seperti mama...." Elang sangat berharap Sam menyangkal, tapi nyatanya dokter itu malah mengangguk. Elang hampir terjatuh saking lemasnya. Untung Bian sigap menopang tubuh tingginya.


"Dia akan seperti nyonya Maria saat melahirkanmu." jawab Sam tanpa ekspresi. Elang yang lunglai masih harus mencerna perkataan kakak tingkatnya saat SMA itu. Hingga Gea dengan berani bertanya.


"Apa Mitha hamil dok?" Sam mengangkat sudut bibirnya, mencoba menahan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.


"Ya. Kalian semua akan mendapatkan calon keponakan." Dan tanpa menunggu lagi Elang sudah menghambur memeluk Mitha dengan mata berlinang. Mereka berdua menangis dalam haru. Salahkah jika Bian juga berpelukan dengan Gea secara spontan karena ikut terharu. Gea mungkin tak menyadarinya karena fokus pada sang sahabat, tapi Bian terlihat sengaja memanfaatkan moment itu dengan baik.

__ADS_1


"Sayang kau hamil..." lirih Elang seraya mengecup pucul kepala istrinya penuh kasih.


"Lang..." panggilan Sam seolah menyadarkan semua orang. Elang segera berdiri.


"Ya Sam."


"Kuucapkan selamat untuk kalian. Tapi aku juga perlu menyampaikan ini padamu. Kandungan Mitha lemah karena dia bilang padaku sempat datang bulan walau cuma sedikit, menyerupai flek. Kalian harus segeran ke dokter obygain untuk memastikan kandungannya aman." Sam terlihat amat serius. Elang tau Sam sangat perhatian pada keluarganya. Dia akan memberi informasi akurat seputar kesehatan keluarga mereka dri yang baik ataupun yang buruk. Wajah yang tadi cerah itu sedikit mendung.


"Apa itu berbahaya Sam?" punya anak adalah impian mereka setelah vonis dokter yang menyatakan Mitha akan sulit memperoleh keturunan. Elang tak mau istrinya kecewa.


"Dokter yang akan memutuskannya nanti. Tapi tiga puluh persen wanita hamil dengan kandunga lemah masih bisa melahirkan bayinya dengan selamat. Jadi jangan putus asa."


"Bagaimanapun Abimana juniior harus diselamatkan." katanya lagi. Elang langsung memeluknya hangat. Sam sudah seperti kakak baginya. Pria itu juga membalasnya.


"Kau tau Katty juga pernah mengalaminya bukan? dua bahkan harus dua kali keguguran sebelum Toms lahir." Elang mengangguk. Dia cukup tau perjalanan panjang Sam dan Katty untuk mendapatkan bayi mereka. Katty bahkan sudah berencana melakukan bayi tabung saking putus asanya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Toms hadir tanpa disadaro oleh mereka hingga minggu ke sembilan. Dan anehnya janin ketiga mereka ini sangat sehat dan lahir dengan selamat walau untuk seterusnya Katty tak bisa hamil lagi karena kandungannya lagi-lagi bermasalah. Tapi tak apalah. Si kecil Toms sudah meneruskan garis keturunan keluarga mereka.


"Aku permisi dulu. Ohh ya, aku sudah membuatkan janji dengan dokter kandungan untuk kalian satu jam lagi. Jadi jangan lupa segera kesana." Elang lagi-lagi memeluk sahabatnya itu. Sam bergerak cepat tanpa diminta. Menimbulkan empatinya saja.

__ADS_1


"Dan Mitha, selamat ya. Jangan lupa jaga selalu kesehatanmu. Hubungi aku atau Katty jika ada sssuatu." Sam menyalami Mitha sebelum pergi. Pasangan dokter itu memang sangat kompak dan dekat dengan keluarga Abimana.


"Bi...."


"Ya bos."


"Kita pamitan dengan Andra." Bian segera mengikuti langkah bosnya ke ruang pesta tadi. Andra dan Zahra yang barusan duduk karena kelelahan sontak berdiri.


"Bagaimana Mitha kak?" tanya Zahra khawatir. Tak seperti suaminya, calon ibu muda itu tak bisa menyembunyikan kekhawatiaranya, apalagi melihat kedatangan dokter Sam tadi. Tapi banyaknya tamu membuat mereka berdua tak bisa sekedar menjenguknya dan Elang cukup paham dengan hal itu.


"Mitha hamil, tapi ada sedikit masalah dengan kandungannya dan kami harus segera ke rumah sakit untuk memeriksakannya."


"Tapi ini hari minggu kak."


"Sam sudah membuat janji tadi." pasangan pengantin baru itu mengangguk bersamaan. Senyum cerah terlihat di wajah keduanya.


"Selamat untuk kalian ya kak. Semoga bayi kalian sehat." kali ini Andra sudah mengulurkan tangannya. Elang segera menyambutnya hangat.

__ADS_1


"Terimakasih Ndra. Kami permisi dan terimakasih ya."


__ADS_2