
Tubuh Mitha membeku saat melihat siapan yang datang ke ruang meeting Abimana grup pagi itu. Sosok yang disebut tuan Tan sangat diluar ekspektasinya. Pria yang dia kira adalah sosok presedir seusia ayahnya lenyap, berganti sebagai pria muda berwajah oriental dengan tubuh tampan bak aktor Cina yang melegenda karena ketampanannya. Siapa yang mengira pria yang beberapa tahun diatasnya itu adalah presedir Redstar yang terkenal karena produk-produknya yang laris manis dipasar tanah air. Apalagi saat pria itu menjabat tangannya lembut hingga Elang dibuat jengkel karenanya. Tapi yang paling membuat Mitha terkejut adalah kehadiran sang sekretaris Redstar yang tak lain adalah orang dimasa lalu suaminya. Sindy.
Mata Paramitha nyalang menatap pakaian seksi wanita itu. Rok pendek yang hanya sejengkal dari bokongnya, seakan tak muat untuk menutupi tubuh bawahnya. Jangan lupakan blus lengan pendek menerawang yang juga turut memamerkan tubuh mulusnya. Terlintas rasa tidak percaya diri di benak Mitha, tapi buru-buru dia tepis karena mengingat dia termasuk tipe up to date jika menyangkut cara berpakaian. Setelan yang dia gunakan hari ini adalah model baru dan modis walau bukan keluaran brand ternama. Pada tatanan rambut dia juga terlihar stylist dengan sanggul bentuk modern yang biasa dipakai pekerja kantoran. Mitha tak suka mengurai rambutnya saat bekerja seperti kelakuan ulat bulu di depannya.
"Silahkan duduk." ucap Elang ramah. Segera tuan Tan dan Sindy yang sedari tadi tersenyum aneh mengambil tempat. Jemari Mitha terkepal kuat saat Sindy dengan sengaja merendahkan tubuhnya di depan Elang agar suaminya itu melihat dadanya yang membusung, berbanding terbalik dengan Mitha yang cenderung lebih kecil.
"Bisa kita mulai presentasinya tuan?" tawar Elang mendapat anggukan dari pria berdarah Cina itu. Bian segera berdiri dan memulai presentasinya dengan amat lancar. Soal pesentasi dan meyakinkan klien memang Bianlah ahlinya. Menjadi anak didik Abimanyu sekaligus menjadi tangan kanannya membuat sang sekretaris punya kemampuan yang mumpuni. Tuan Tan mengganguk-angguk mendengarnya.
"Saya tertarik dengan proyek ini...sangat menarik." ucap tuan Tan dengan senyum smirk. Mitha sedikit salah tingkah saar mata coklat itu menatapnya seakan menelisik dengan bibir terangkat.
"Lalu kapan kerjasama kita akan berlangsung?"
"Itu masalah mudah bagi saya tuan. Saya akan menanamkan inverstasi jutaan dolar jika anda setuju dengan syarat saya."
"Syarat?" Elang terlihat berpikir hingga sejenak kemudian berbalik menatap tuan Tan penuh keseriusan.
__ADS_1
"Silahkan mengatakan syarat anda. Saya akan memikirkannya nanti." Tuan Tan terkekeh, lagi-lagi menatap Mitha aneh.
"Saya menginginkan on night stand dengan istri anda." ujarnya tenang, juga dengan tatapan menggoda yang membuat Elang tersulut emosi dan hampir berdiri dari tempatnya. Tangannya sudah terlalu gatal untuk memberikan pukulan pada bibir pria tak tau sopan santun di depannya. Bagaimanapun istri adalah pakaian bagi seorang suami. Dengan menginginkan istrinya, maka sama halnya pria aneh itu ingin dia kehilangan kehormatan sebagai seorang pria.
"Apa anda tak salah bicara tuan Tan?" sebuah suara berat memutuskan acara pandang memandang dimeja meeting itu. Di ujung Meja, Bian duduk tenang dengan bersandar di kursinya. Tangannya sibuk memainkan bolpoin warna hitam sambil sesekali menatap tuan Tan, mengejek. Tan yang tau arti tatapan itu dibuat merasa marah. Seorang sekretaris biasa berani mencemoohnya.
"Saya bertanya pada tuan Elang, bukan ada. Anda hanya seorang sekretaris. Maka diamlah." sentak Tan sedikit emosi. Mendengarnya, Mitha yang tadinya amat kagum dengan tampilan fisiknya menjadi sama sekali tak respek. Pria di depannya ini memang tak ada sopan-sopannya.
"Bian itu kakak saya. Harap anda bersikap hormat padanya." Sarkas Elang tak kalah tajam. Tuan Tan menoleh dan mengganti ekspresinya menjadi amat ramah. Dasar bermuka dua.
"Apa anda sebegitu tak menghargai sebuah hubungan tuan? keluarga saya bahkan tak mamandang persaudaraan hanya melalui ikatan darah. Siapapun yang pantas akan kami anggap saudara. Bian ini juga anak papa saya karena dia layak jadi kakak bagi saya." Bian yang semula diam dibawah tekanan karena perkataan Tan terlihat menyungingkan senyum kemenangan. Dia tak menduga Elang yanh kadang bicara pedas malah membelanya. Elang benar, persaudaraan tak hanya melulu soal pertalian darah. Bahkan dia pun rela mati untuk keluarga Abimana walau sama sekali tak punya ikatan darah.
"Bagi saya pembantu tetaplah pembantu, meski dia sudah melakukan banyak hal. Itu resiko kerja mereka tuan Elang. Berpikirlah realistis, jangan terlalu naif menghadapi kehidupan." katanya lagi dengan nada enteng yang menyebalkan.
"Wah...begitu ya?? kalau begitu terus terang saya kasihan pada sekretaris anda ini. Sudah melakukan banyak hal sampai buka paha tapi masih saja pangkatnya cuma....wah....ngeri saya." ejek Bian pada Sindy yang langsung dibuat merah padam karenanya. Tangab Tan segera mencekal lengan Sindy yang sudah akan berdiri.
__ADS_1
"Yang kita bahas adalah kerja sama, bukan masalah pribadi. Ehmmm..baiklah tuan Elang, bagaimana dengan tawaran saya tadi?" Elang hanya menatap pria itu datar. Namun saat ekor matanya menangkap gerakan gelisah pada istrinya, tangannya meraih jemari Mitha dan menautkannya.
"Sekretaris saya yang akan memutuskan semuanya." jawan sang CEO terdengar tak mau tau. Seketika senyum jahil terbit di bibir sang sekretaris yang penuh semangat segera menegakkan tubuhnya.
"Baiklah, kami setuju." mata Mitha melebar. Air mata mulai menggenang dikelopak matanya. Benarkah Bian yang sudah dia anggap kakak akan mengorbankan dirinya demi sebuah bisnis? Suaminya...kenapa dia malah menyerahkan masalah penting seperti ini pada Bian?
"Ternyata anda kakak yang sangat baik. Hhhh..baiklah, mari memulai kerja sama ini. Istri anda akan check in dengan saya malam ini." wajah tampan tuan Tan seketika sumringah. Melihat Paramitha saat pertama kali brtemu saja sudah membuatnya menginginkan wanita itu.
'Harap jangan memotong perkataan saya tuan Tan. Maksud saya adalah...kami setuju asal ibu anda sebagai gantinya."
"Ibuku? ada apa dengannya?"
"Ya, kami setuju asal ibu anda juga melakukan hal yang sama dengan....saya misalnya." kata Bian sambil mengerling lucu. Tan siauw An seketika mengeratkan rahangnya dan berdiri dari dududnya. Tatapannya jadi setajam silet. Terlihat dia amat marah. Pria dari keluarga terhormat sepertinya tak akan Tahan mendengar omongan orang apalagi menyangkut ibu yang amat dia hormati.
"Kau....jangan bawa-bawa nama ibuku!!" sentaknya kasar dengan nafas memburu. Elang ikut berdiri.
__ADS_1
"Dimana anda biasa minum kopi tuan Tan? saya rasa tempat ngopi anda kurang jauh hingga jadi baperan. Kalau tak ingin disakiti ya jangan menyakiti." ungkap Elang bijak.