Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tak Membantah


__ADS_3

Bian meraba leher belakangnya salah tingkah. Sekarang semua mata memandang padanya setelah perkataan tajam Elang. Andai pria tampan itu bukan bosnya, tentu sebuah makian akan terlontar padanya. Kenapa mesti menyingung soal mahar dan pernikahan disaat seperti sekarang? Jangan tanyakan bagaimana caranya menghindar dari semua orang itu karena sebelum dia sempat melakukannya sepasang manusia lain sudah masuk ke dalam restonya. Naasnya mereka langsung menuju mejanya.


"Hay semua...aku terlambat rupanya." Sapa Leo sambil menyalami semua orang. Dia datang bersama Lusia. Jaksa wilayah itu terlihat segar dan lebih muda di usianya saat datang tadi. Leo yang biasanya memakai celana bahan dan kemeja resmi, hari ini terlihat fresh dengan kaos putih dan celana jeans birunya. Entah kemana kaca mata dan model rambut lamanya. Sekarang dia bahkan sudah merubah style rambutnya menjadi amat muda. Ckckck....hebatt. Mitha sampai harus memindai wajah suaminya sekarang. Pasti Elang akan terlihat lebih muda dan tampan jika di face app seperti Leon sekarang.


"Jangan berpikir kau akan merubahku seperti dia sayang. Aku tidak suka." kata Elang cepat. Insting pria itu sangat peka jika berurusan dengan raut wajah istrinya. Apalagi melihat istrinya yang sangat serius menatap Leo seolah baru pertama kali bertemu. Mitha menggeleng, bergelayut manja pada lengan suaminya.


"Aku menyukai apapun yang ada padamu mas. Tak perlu jadi orang lain lagi." Sekarang Elanglah yang menatap istrinya penuh cinta. Wanita muda yang terpaut sepuluh tahun darinya itu terlihat amat bahagia dengan iris coklat yang teduh.


"Love you so much honey." bisiknya seraya mengecup kening sang wanita sekilas.


"Ehhmmm...sepertinya aku melewatkan satu hal." Leo yang menarik kursi untuk Lusia tersenyum lebar mendengar perkataan Elang. Dia memilih segera duduk sebelum menjawab sindiran sahabatnya itu.


"Kau dan Lusia....pacaran kak?" Bian yang terlihat sebal dari tadi jadi makin sebal karena ulah kakak kandungnya itu. Leo sepertinya sangat menikmati kehidupannya sekarang. Tanpa beban. Padahal badai bertubi-tubi baru menghantam bahtera rumah tangganya.


"Kami...masih bersahabat. Kedepannya biar Tuhan saja yang menentukan Bi." sahut Leo tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya. Apalagi melihat Lusia yang tersenyum malu-malu disampingnya. Andra yang sepupunya saja dibuat gemas karena gadis itu.


"Lus...kau sungguh tertarik dengan kak Leo?" tanya Andra tak percaya. Walau tak dekat tapi Andra tau sepupunya itu trauma dengan yang namanya laki-laki setelah pemerkosaan yang dilakukan Permana padanya. Lusia bahkan sangat membatasi dirinya dari makhluk yang bernama laki-laki meski mereka bersaudara.

__ADS_1


"Aku ...ehh..kami.."


"Sssttt...jangan membuatnya tidak nyaman oke? biarkan kami begini dulu sambil menunggu proses perceraianku dan Sindy." potong Leo yang melihat pasangannya terlihat canggung dan tak nyaman disampingnya. Lusia tersenyum mesra padanya. Entah mulai kapan dia membuka hati untuk pria itu. Yang jelas, Leo sudah membuatnya nyaman dengan segala kesabarannya.


"Jadi kakak sudah move on nih?" celutuk Bian sambil lalu. Leo menarik nafas dalam.


"Ya, setelah aku sadar jika berjuang sendirian itu melelahkan. Selama ini hidupku sangat menyedihkan Bi. Aku mencintai seseorang dan menerima dirinya dengan semua kekurangan dan perlakuannya yang sama sekali tak menghargai perasaan dan martabatku karena cinta butaku. Sekarang aku tau kenapa Elang memilih meninggalkannya bertahun lalu...."


"Karena aku tau wanita seperti Sindi hanya layak dijadikan pacar, bukan istri!" potong Elang cepat. Leo mengangguk tegas. Lima tahun lebih berumah tangga dengan Sindi sudah membuatnya tau banyak hal.


"Lalu kak Elang menikung pacarku untuk dijadikan istri?" ejek Andra terdengar ketus. Elang menatapnya tajam seperti hendak memangsanya. Andra hingga harus bergidik ngeri karenanya.


"Eehhmmm...ternyata cintanya udah dari dulu ya? tapi pura-pura nggak mau tau." ledek Zahra tanpa rasa berdosa.


"Ya. Aku bahkan sudah mencintainya sejak masih balita."


"Akhirnya mengaku juga." sorakan kecil membuat suasana pagi itu jadi riuh. Wajah Mitha memerah menahan malu, tapi Elang malah memeluknya hingga si wanita leluasa menyembunyikan wajah cantiknya dalam dekapan sang Elang.

__ADS_1


"Tapi....."


"Apa???!!!" potong yang lain cepat saat melihat rona ragu Elang. Lagi dan lagi semua mata terfokus padanya.


"Ada seseorang disini yang sama sekali tak mau mengungkapkan perasaannya. Takut mungkin." Semua mata jadi saling pandang hingga berakhir pada Gea dan Bian yang duduk terpisah. Gea jadi salah tingkah karena ditatap sedemikian rupa oleh para sahabatnya. Terang saja dia jadi sasaran. Semua orang disana sudah punya pasangan kecuali dirinya dan Bian.


"Ehmm...aku akan menyatakan cintaku nanti saja saat di kantor."


"Kak Bian masih mengejar Vera ya? Ckckck...." Elang langsung menutup bibir istrinya dengan tangan kanannya setelah komentar kecil itu. Bagaimana istrinya itu masih tak mengerti situasi. Malah menyebut nama Vera segala. Siapa ta kenal Vera? kepala staf keuangan itu sangat menarik dengan tubuh sintal dan wajah Indonya. Dia juga trensetter di kantor mereka. Bian kembali menyengir kuda.


"Vera yang lulusan Singapura itu ya? ternyata selera kak Bian selangit juga ya? pantesan nggak nikah-nikah. Ternyata ohh ternyata ada Vera dihatinya." Andra juga tak kalah serius memanasi keadaan. Apalagi Bian memang tak menyangkalnya.


"Bi...." panggil Elang tapi Bian tetap cuek dan menatapnya tanpa beban.


"Setidaknya kau harus membantahnya." tegas Elang, dia cukup tau jika raut wajah Gea berubah. Gadis itu lebih memilih diam dan menundukkan kepalanya, pura-pura sibuk dengan makanannya.


"Untuk apa dibantah bos? memang akunya pernah punya feeling pada Vera." Saat semua tercekat mendengar pengakuan Bian, ponsel Gea berdering. Gadis itu segera melihat siapa yang meneleponnya. Mitha yang duduk disampingnya langsung menyenggol lengannya begitu tau siapa peneleponnya.

__ADS_1


"Hallo...ya Za, ehhmmm...kutunggu jam tujuh malam. Ohh oke." dan sekejap kemudian Gea menutup teleponnya.


"Cieee yang mau dating sama Rezaaaa...." ledek Mitha penuh semangat. Tentu saja Zahra dan Andra jadi antusias. Mereka semua tau jika Reza mengejar-ngejar Gea sejak semester pertama dulu. Anehnya Gea sama sekali tak meresponnya. Padahal tak ada yang salah dari Reza. Pria itu bahkan sudah jadi dosen di universitas besar diusia muda. Baru sekarang saja Gea mau diajak dating. Surprise bukan? Mereka semua tak tau jika dibawah meja, tangan seseorang sudah terkepal sempurna.


__ADS_2