
"Selamat malam opa." ucap Elang begitu tiba di mansion kakek Hans yang amat luas. Mitha hingga berdecak kagum karenanya. Jika dulu dia hanya bisa melihat keadaan rumah itu dari postingan Zahra, kini dia benar-benar dibuat takjub kala menyaksikannya secara langsung. Pantas mamanya dulu amat disiplin dalam mengajarkannya bersikap sebagai wanita golongan atas meski tak membatasi pergaulannya.
Bicara soal mama Maria, Mitha sedikit merasa tidak setuju pada gambaran yang dipaparkan opa Hans tentang wanita terbaik yang pernah datang dalam hidupnya itu. Dia bukan hanya seorang ibu, tapi sahabat, penyemangat dan tanpa cela. Tentu saja dia tidak bisa percaya begitu saja mendengar cerita opa yang mengatakan pernikahan kedua orang tua yang juga mertuanya itu berlangsung tanpa cinta. Mitha adalah saksinya. Kedua orang tuanya adalah pasangan suami istri penuh cinta. Maria dengan sikap keibuannya yang penuh kasih sayang dan Abi yang tegas namun amat memperhatikan keluarganya. Pasangan yang sangat bisa dikatakan serasi.
"Kalian sudah pulang? opa dengar papa kalian sudah siuman." ucap kakek Hans ramah. Tentu saja sang kakek tau semuanya karena semua penjaga yang ditugaskannya akan selalu melaporkan apapun yang terjadi pada Abi 24 jam penuh. Elang hanya mengangguk.
"Makan malamlah dulu."
"Kami sudah makan bersama Richard opa." Baik Elang, Mitha maupun Richard memang memutuskan untuk mampir dulu ke resto favorit mereka sebelum menuju rumah. Richard bilang Elang harus mempir kesana agar afdol waktu berkunjung ke Inggris. Mau tak mau Elang menurut. Takut sepupunya itu salah paham walau rasa sedih akibat meninggalnya mama Maria masih tetap membekas.
"Ohh...baiklah. Kalau begitu kalian istirahat saja. Jangan khawatirkan papa kalian. Besok baru kembali lagi kesana." kata kakek Hans dengan suara serak, menahan tangisnya. Tubuh rentanya terduduk di kursi besar dengan mendekap foto sang putri yang telah tiada. Maria Larsons.
"Lalu kakek??" tanya Elang hati-hati. Didekatinya sang kakek yang terlihat rapuh dan larut dalam kesedihannya. Pria tampan putra tertua Abimana itu bersimpuh di depan sang kakek lalu merebahkan kepalanya dipangkuannya. Kakek Hans sama sekali tak bisa membendung air matanya. Lelaki tua itu menangis dalam diam. Dielusnya kepala sang cucu penuh kasih.
"Terimakasih sudah mau mengabulkan permintaan terakhir mamamu." ujarnya memulai percakapan.
__ADS_1
"Opa sudah tau?"
"Auntymu sudah cerita." lama mereka terdiam hingga tangan opa Hans mengisyaratkan agar Mitha duduk di sofa. Wanita muda itu tak menolak, berlahan dia mendudukkan diri.
"Apa keputusan yang diambil mama sudah benar?" lirih Elang ragu. Bagaimanapun dia putra Maria satu-satunya.
"Lebih dari benar nak. Mamamu orang yang bijak. Putriku akan mengembalikan semua yang bukan haknya pada pemiliknya. Dan papamu....opa butuh dia."
"Untuk apa opa?"
"Itu semua terserah opa." balas Elang datar. Dia tau jika masih punya alternatif untuk menolak keputusan itu karen secara silsilah dia lebih berhak menjadi CEO Larsons dari pada Richard yang lahir dari anak kedua opanya.
"Kau menyetujui keputusan opa?" lagi, elusan itu terasa begitu lembut dikepala Elang yang masih rebah.
"Aku mendukung penuh keputusan opa." seketika kakek Hans menepuk kedua pundak cucu laki-lakinya, tersenyum penuh rasa bangga padanya.
__ADS_1
"Kau benar-benar mirip Maria. Tulus dan tak pernah punya penyakit hati."
"Untuk apa punya penyakit hati opa? bagiku sama saja jika Richard adalah CEO utamanya. Aku tidak butuh semua yang kakek miliki karena aku sudah punya dunia sendiri."
"Dunia sendiri??" ulang kakek Hans tak mengerti. Lagi-lagi Elang mengangguk mantap. Matanya berbinar.
"Aku dan Mitha tak butuh perusahaan besar opa. Kami sudah cukup mengembangkan usaha kami sendiri, juga tanpa embel-embel Abimana dibelakang kami."
"Kau terlalu percaya diri anak muda."
"Bukan terlalu percaya diri opa, tapi keyakinan. Aku yakin pasti bisa melebihi papa karena disampingku ada wanita yang kuat dan penuh cinta."
......degh....
Mitha kesulitan menelan ludahnya sendiri saat Elang menatap dirinya teduh. Sungguhkah dia yang dimaksud?? Wanita itu tersenyum kikuk kala sang opa juga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1