Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
kenapa?


__ADS_3

Elang berlahan menelan ludahnya dengan susah payah saat kaos kedodoran itu sudah masuk sempurna membalut tubuh Mitha. Sedikit mengatur nafas, dia naik ke ranjang dan mengulurkan handuk kecil agar Mitha bisa mengusap keringat yang membanjiri tubuhnya. Bagaimanapun Elang pria normal yang punya hasrat pada wanita.


"Pakai ini."


"Baik kak." ujar Mitha menerima handuk itu dan mengusap wajah dan lehernya yang memang terasa sangat lembab.


"Kak..mau kemana?"


"Kamar mandi."


"Aku ikut kak...jangan tinggalkan aku." kata Mitha lirih. Sebenarnya dia ragu, tapi rasa takut kembali menderanya.


"Sudah ada lampukan? Tidak gelapkan? Jangan manja!" ketus Elang membuat Mitha diam seketika. Dia menatap pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam dengan pasrah. Gadis itu mencoba kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sepuluh menit, duapuluh menit...hampir setengah jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda elang akan keluar dari kamar mandi. Mitha makin panik. Tak ada suara gemricik air atau apapun. Apa yang dilakukan Elang di dalam sana? Bagaimana jika dia pingsan karena takut gelap sepertinya? dis bahkan masuk tanpa membawa ponsel atau penerangan apapun tadi. Hati Mitha makin kalut. Berlahan dia menuruni ranjang dan mengetuk pintu kamar mandi ragu.

__ADS_1


"Kak..kakak...keluar kak.Jangan lama-lama, aku takut kak." panggil Mitha dengan kaki gemetaran. Tak ada sahutan, Mitha juga makin ketakutan. Diketuknya pintu lebih keras hingga pintu terbuka, menampilkan Elang dengan rambut basahnya.


"ka ..kakak mandi?" Pertanyaan bodoh. Mana mungkin Elang mandi dini hari begini, lagian juga tidak terdegar bunyi air dari dalam kamar mandi. Tapi kenapa suaminya itu terlihat basah kuyup begitu?


"Cepat tidur lagi!" kata Elang sambil kembali ke atas ranjangnya. Mitha yang ketakutan juga langsung menyusulnya. Tanpa malu dia juga memeluk tubuh Elang erat.


Elang yang tau ketakutan Mitha pada kegelapan juga tak melayangkan protes apa-apa. Pria itu tidur terlentang dengan Mitha yang tidur diposisi miring dan memeluknya.


"Tidurlah." perintah Elang lagi dengan suara datarnya. Mitha lekas menutup matanya lagi dan mencoba tidur kembali.


"Pa, coba lihat mereka. Mama bisa kesiangan ke rumah sakitnya." kata Maria lembut. Sebenarnya dia sudah capek minum obat, periksa, kemo juga operasi. Tapi dia sama sekali tak ada pilihan. Bagaimana dia bisa menolak keinginan anak-anak dan suaminya yang terus berharap akan kesembuhannya? Lagi pula dia akan mampir ke rumah Zahra nanti. Senyum tipis tersungging dibibirnya kala mengingat gadis itu. Tidakkah Abi ingat jika wajahnya mirip seseorang?


Abi berjalan dengan langkah panjang menuju kamar Mitha dan mengetuknya, tidak ada jawaban. Awalnya dia menduga jika kakak beradik itu masih tidur di kamar terpisah karena sebuah sandiwara pernikahan. Tapi saat melihat kamar Mitha kosong dia jadi tau jika dua anaknya itu sudah tidur sekamar. Sebuah awal yang baik.


Berjingkat dia menuju kamar Elang dan menarik handle pintu berlahan. Dalam hati dia berdoa agar tidak terpergok mereka berdua. Tapi jika memang ketahuan dia akan berakting marah-marah karena mereka membuatnya menunggu sekian lama.

__ADS_1


Abi mengembuskan nafas panjang kala melihat pasangan itu masih tidur anteng di ranjang mereka. Bukan tidur saling memunggungi seperti bayangannya, tapi kedua anaknya itu sedang berpelukan mesra satu sama lain dibawah selimut yang sama. Salah satu kaki Elang bahkab menimpa kaki Mitha intim. Abi mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka. Dia ingin Maria juga tau jika pernikahan paksa mereka telah berakhir manis dengan saling menerima satu sama lain. Sepelan mungkin dia berlalu dari sana dan mengampiri Maria yang masih menunggu dimeja makan.


"Sayang lihat..." Abi menunjukkan pose dua anaknya pada sang istri yang langsung tersenyum lebar kearahnya.


"Alhamdulilah pa, kita akan segera punya cucu."


" Maka itu kau harus berusaha sembuh agar bisa melihat cucu kita ma." Seketika mata Maria mengembun. Ingin dia berteriak pada dunia jika dirinya sudah capek dari rasa sakit dan tertekan ini. Apalagi beberapa hari ini Mamanya selalu datang dalam mimpi dan mengajaknya pulang disebuah tempat yang indah dan damai. Tapi selalu dia tolak karena tugasnya yang belum selesai di dunia.


"Ma..." Maria tersadar dari lamunannya saat Abi menyentuh lengannya.


"iya pa. Mama juga berharap begitu. Sebaiknya kita cepat sarapan dan ke rumah sakit sekarang." kali ini Maria terlihat kembali bersemangat.


''Sebaiknya papa hubungi Bian dulu. Mungkin Elang akan kesiangan tiba di kantor nantinya." Tanpa menunggu persetujuan Maria, Abi sudah melakukan panggilan pada sekretarisnya itu.


Lain di ruang makan, lain pula di kamar Elang. Mitha yang lebih dulu terbangun mengerjabkan matanya. Hembusan nafas hangat mengenai keningnya. Saat mendongak dia hampir memekik kaget karena dia berada dalam posisi tidur nyaman dengan kepala berada di ceruk leher dalam pelukan Elang. Pun Elang yang juga memeluknya sangat erat dan hangat. Yang jadi pertanyaan dalam benaknya adalah.....kenapa bisa begini???

__ADS_1


__ADS_2