Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Leo


__ADS_3

"Ikut aku!!" Elang menarik tangan Mitha hingga hampir terjatuh. Mitha yang masig kesal berusaha melepaskan diri dan berteriak. Tapi percuma saja, dia kalah tenaga. Siapa juga yang akan mendengarkan teriakannya dirumah besar itu. Satpam di depan juga tau ada Elang dirumah. Mereka tak perlu khawatir akan terjadi apa-apa. Paling dua orang itu hanya senyum-senyum saja diluar.


"Kakak lepas!!"


"No!! Ikut dan jangan berulah." dan mau tak mau Mitha masuk ke dalam mobil sport warna putih milik Elang..


Entah kemana suami anehnya itu akan membawanya. Cukup lama mereka berjalan dengan kecepatan tinggi seperti dikejar sesuatu hingga sampai di sebuah gedung berlantai lima yang terlihat baru direnovasi. Elang memarkir kendaraannya dan memaksa Mitha terdiam disampingnya.


"Mau apa kemari? buang-buang waktu saja." gerutu Mitha. Tapi Elang sudah menulikan pendengarannya dan tetap fokus pada lobi kantor bertuliskan Gemilang arsitektur itu.


Sesosok wanita cantik keluar dari pintu utama dan sedang sibuk menelepon seseorang, tapi nampak tak tersambung karena berulang kali mendial nomer. Mitha menatap jengah. Jadi mereka tergesa kemari hanya untuk melihat aktivitas seorang Sindy? Mitha mendengus kasar.


"Aku mau pulang!" ucapnya tegas, tapi mendapat pelototan tajam dari suaminya. Berusaha buka pintu juga percuma, Elang sudah menguncinya secara otimatis.


"Diam dan lihat saja nanti." ketus Elang dingin. Mitha terpaksa diam dan ikut mengamati kala wanita berambut sebahu itu berjalan mondar-mandir gelisah.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam yang Mitha kenal memasuki halaman kantor. Mobil itu langsung menuju lobi. Senyum lebar merekah dibibir Sindy yang buru-buru naik kesana.


"Apa itu kak Bian?" gumamnya lirih, namun masih bisa di dengar jelas oleh Elang. Pria itu sama sekali tidak menjawab, dia hanya menjalankan mobilnya mengikuti mobil hitam Bian menuju rumah Sindy.

__ADS_1


"Mama...." pekik gadis kecil yang berlari dari dalam rumah menyongsong keduanya. Bian menggendong si kecil, Kiara.


Elang berlahan menariknya agar turun dan mengikuti pasangan yang terlihat mesra itu memasuki rumah.


"Bian." panggil Elang. Seketika baik Bian, Sindy maupun Kiara menoleh. Senyum lebar terkembang dibibir mereka.


"Ohhh...kalian...ayo masuk!" ajak Sindy ramah. Dia melebarkan pintu dan mengajak Elang dan Mitha masuk. Mitha tersenyum canggung dan duduk di dekat Elang.


"Kak Bian ngapain disini?" tanya Mitha to the point. Eneg rasanya lama-lama berada disana.


"Menjemput kak Sindy." jawab Bian kalem.


"Kakak dan kak Sindy....." Mitha menggantung kalimatnya, bingung mau bicara apa lagi. Lebih takutnya salah bicara.


"Ohh ..ada tamu rupanya." sapanya ramah lalu bersalaman dengan semua orang. Kiara kecil berlari menyongsong pria itu dan memeluknya.


"Papa.." panggilnya, membuat pria itu gemas dan menciumi pipinya.


"Mith, ini kak Leo kakakku." kata Bian memperkenalkan. Lelaki bernama Leo itu menganggukkan kepalanya sopan.

__ADS_1


"engg...dia suamiku Mith, ayah Kiara." timpal Sindy cepat saat melihat wajah terkejut mitha mendengar kata-kata Bian.


"Suami kakak??" beo Mitha tak percaya. Sindy mengangguk.


"Dia jaksa wilayah. Sibuk banget sampai jarang dirumah." jelas Sindy tertawa renyah menatap pria tampan disebelahnya. Pria itu juga menatapnya mesra.


"Ini bukannya Paramitha ya?" tanya Leo. Mitha menengadahkan wajahnya.


"Kakak kenal saya?"


"Mungkin ya, mungkin tidak. Pak Abi sering cerita jika punya menantu bernama Paramitha."


"Kakak kenal papa?" Leo terkekeh.


"Saya ini teman seangkatan Sindy dan Elang. Pak Abi itu orang tua asuh saya juga. Saya dan Bian bisa begini karena pak Abi dan ibu Maria." jelas Leo. Mitha tercekat. Entah berapa lagi kebaikan orang tuanya yang akan dia dengar nantinya. Tebuat dari apa hati keduanya hingga amat pemurah? Dia ingin begitu...berguna untuk orang lain juga. Pembicaraan terus berlangsung beberapa menit hingga Elang mengajak mitha pamit. Bian juga ikut pulang, takut menganggu waktu istirahat kakaknya.


"Hmmm...Lang, berkasnya sudah kubawa. Mau bawa sekarang atau gimana?" diluar kantor Bian memang masih memanggil nama saja pada CEOnya itu. Elang mengangguk, menunggu Bian mengambil berkasnya di mobil.


"Kalau begitu kami pamit dulu Bi."

__ADS_1


"Sama, aku juga mau pulang. Sampai jumpa besok." Elang memutar mobilnya lebih dulu setelah Mitha masuk. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Sekarang kau tau bukan apa alasanku tidak bisa memutuskan Sindy? karena kami tak pernah punya hubungan apapun kecuali persahabatan. Dan aku sama sekali tak ingin kehilangan sahabatku." ujar Elang lirih dengan mata tetap fokus ke jalanan.


__ADS_2