
Setelah kejadian itu, Mitha lebih banyak diam dan menghindar dari Elang. Dia bangun pagi sekali untuk bersih-bersih, memasak dan berangkat ke kampus sebelum jam 6 pagi. Pulang siang sebelum Elang sampai di rumah , mengerjakan kewajibannya sebagai istri lalu mengurung diri di dalam kamar.
Hampir seminggu berlalu. Elang yang awalnya cuek dan tidak peduli menjadi penasaran dengan sikap Mitha yang mengacuhkannya walau sama sekali tidak meninggalkan tanggung jawabnya. Entah apa yang membuatnya peduli.
Hampir pukul dua siang saat Mitha kembali ke rumah. Seorang satpam membukakan pintu pagar dan membalas sapaannya. Bergegas dia memasuki rumah setelah memarkirkan motor matic warna hitam kesayangannya. Dia harus cepat membersihkan rumah dan memasak makan malam untuk dirinya dan Elang sebelum suaminya itu pulang. Sungguh hingga saat ini dia masih enggan bersitatap dengan pria itu.
Senandung kecil keluar dari bibir Mitha saat dia menyapu, mengepel dan membersihkan kaca rumah. Tak ada waktu istirahat karena setiap detik sangat berharga baginya. Sebelum jam lima sore semuanya harus siap dan dia bisa istirahat dengan tenang dikamarnya hingga pagi tiba.
Sesaat gadis itu berhenti untuk menyeka keringat dan meneguk air putih dalam teko untuk melepas lelah. Dapur adalah tujuannya sekarang. Tangannya bergerak lincah memilah sayuran dan bumbu, mencucinya lalu mulai memasaknya. Bau harum tercium dari diseluruh dapur membuat perutnya terasa lapar. Mitha memilih menyantap makanannya walau hari masih sore. Baginya makan sekarang atau nanti malam sama saja, toh dia hanya butuh mengisi perut lalu masuk ke kamarnya. Bagian rumah yang membuatnya sangat merasa tenang.
"Akhirnya selesai juga." gumam Mitha usai menata hasil masakannya diatas meja. Nafas lega mengiringinya berjalan ke kamar tanpa menyadari sepasang mata yang mengawasinya dari tadi.
Mungkin bersenandung di kamar mandi adalah hobinya dari kecil. Bernyanyi sesuka hati dengan beragam ekspresi di sana merupakan hiburan tersendiri baginya, melepas stres dan penatnya agar lebih kuat menjalani hidup yang sama sekali tak mudah.
"Aahhhhh!!!!" teriak Mitha keras kala keluar dari kamar mandi. Handuk yang melingkar di tubuhnya bahkan sampai merosot ke lantai karena tak sempat dia pegangi. Sontak Mitha berjongkok dan mengambil handuknya.
__ADS_1
"Ka..kakak. Kenapa kakak disini? Kenapa nggak ngetuk pintu dulu sih? nggak sopan banget." protes Mitha keras. Malu...itu hal yang pertama kali dia rasakan. Ini pertama kalinya dia telanjang di depan seorang pria. Wajah Mitha memerah karenanya. Apalagi saat dia menyadari Elang sama sekali tak berniat mengalihkan pandangannya ke arah lain seperti harapannya. Suami anehnya itu malah menatapnya intens tak berkedip. Melihatnya, Mitha memilih cepat ke lemari dan mengambil baju ganti.
"Kenapa dia masuk ke sana? bukannya aku sudah melihat tubuhnya tadi? dasar wanita aneh." ujar Elang pelan.
"Kak...kau masih disitu?" tanya Mitha saat sudah berpakaian rapi dan keluar dari kamar mandi. Sekilas dia melirik jam dinding, masih jam 5 sore. Artinya memang sudah waktunya Elang pulang. Tapi tunggu..suaminya itu sudah berpakaian casual. Artinya dia sampai lebih dulu tadi. Apalagi melihat wajah fresh abis mandinya. Pasti dia sudah dari tadi di rumah.
"Apa kau melihatku pindah dari sini?" jawabnya dingin. Mitha hanya melengos kesal.
"Ada apa kemari?" tanyanya amat ketus.
"Ini rumahku, terserah aku mau apa. Kau juga istriku, aku juga punya hak tidur disini." lagi, jawaban yang membuat lawan bicaranya memaki dalam hati.
"Kau tau apa?" buru Elang dengan tampang serius.
"Aku tau jika aku bukan anak papa dan mama. Kakak anak mereka satu-satunya, dan aku hanya lalat penganggu di keluarga ini." balas Mitha lirih.
__ADS_1
"Baguslah jika kau tau."
"Aku cukup tau diri untuk itu kak, tapi terimakasih sudah mengingatku. Sekarang aku atau kakak yang pergi?"
"Apa maksudmu?" kening Elang mengerut karenanya.
"Kalau kakak masih ingin dikamarku, maka aku akan keluar." sahut Mitha. Dia sudah berbalik hendak keluar saat sebuah lengan kokoh mengunci pergerakannya.
"Tolong lepaskan kak." lirih Mitha. Dia terlalu lelah untuk berdebat, amat lelah.
"Hmmmm."
"Biar aku pergi keluar dulu." ujar Mitha memohon. Matanya bahkan sudah terasa berat ingin dipejamkan sejenak.
"Tidak akan ada yang keluar. Sini." dan secara spontan Elang menarik Mitha dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kakak lepaskan!" pekik Mitha, namun lengan kuat Elang sudah memaksanya ke tempat tidur.
"Istirahatlah, kau pasti capek." bisiknya di telinga kanan Mitha yang dibuat melotot karenanya. Telinganya yang bermasalah atau Elang yang berubah. Kenapa suara itu terdengar sangat lembut di indera pendengarannya?